Senin, 29 Desember 2014

Keluar dari Zona Nyaman



Ekonomi / Inspirasi

Keluar dari Zona Nyaman

Senin, 29 Desember 2014 | 05:49 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/12/29/054944326/Keluar.dari.Zona.Nyaman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
ist Prof Rhenald Kasali


                             Prof Rhenald Kasali
                                 @Rhenald_Kasali

Mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita: kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan.

Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan. Apa artinya bergelar S2 kalau penakut, jaringannya terbatas, “lembek”, cepat menyerah dan gemar menyangkal.

Tetapi maaf, ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Orang-orang tua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana. Seperti apakah gejala-gejalanya?

“Saya Pikir…”

“Saya pikir hidup yang nyaman, terlindungi, tercukupi adalah hidup yang aman”, begitu pemikiran banyak orang.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun.

Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.

Jalan-jalan yang nyaman kita lewati juga cepat berubah menjadi amat crowded dan macet, sementara selalu saja ada jalan-jalan baru.

Orang-orang yang terperangkap dalam zona nyaman biasanya takut mencari jalan, tersasar atau tersesat di jalan buntu. Padahal solusinya mudah sekali: putar arah saja, bedakan a dead end dengan detour.

Kalau bisa dikoreksi, mengapa konsep yang bagus dan sudah besar sunk cost-nya harus diberangus dan dikutuk habis-habisan? Bukankah kita bisa mengoreksi bagian-bagian yang salah? Orang-orang yang tak terbiasa keluar-masuk dari zona nyaman punya kecenderungan mengutuk jalan buntu karena ia merasa tersesat di sana. Ilmuwan saja, kalau kurang up to date sering melakukan hal itu, padahal orang biasa yang terlatih keluar dari zona nyaman bisa melihat jalan keluar.

Ada rangkaian sirkuit dalam otak kita yang membentuk jalur tetap, sehingga program diri dikuasa autopilot. Akibatnya, tanpa berpikir pun kita akan sampai di tempat tujuan yang sama dengan yang kemarin kita tempuh. Dan ketika kita keluar dari jalur itu, ada semacam inersia yang menarik kita kembali pada jalur yang sudah kita kenal.

Kata orang bijak, keajaiban jarang terjadi pada mereka yang tak pernah keluar dari "selimut rasa nyamannya." Keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (a danger zone). Zona berbahaya ini seringkali juga dinamakan sebagai zona kepanikan (panic zone). Tetapi untuk menghindari kepanikan, para penjelajah kehidupan telah menunjukkan adanya zona antara, yaitu zona belajar (learning zone atau challenge zone).

Karena itulah, belajar tak boleh ada tamatnya. Sekolah pada lembaga formal bisa menyesatkan kalau beranggapan selesai begitu gelar dan ijazah didapat. Apalagi bila kemudian memunculkan sikap arogansi "saya sudah tahu" atau "mahatahu" tentang sesuatu hal.

Saya sering membaca tulisan para ilmuwan yang memberikan tekanan pada ijazahnya (yang memberi gelar) saat menggugat sebuah pendapat atau konsep. Tentang hal ini saya hanya bergumam, mereka kurang terbuka, kurang mampu melihat perspektif, tak kurang mau belajar lagi. Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn. Orang yang terbelenggu dalam zona nyaman kesulitan untuk belajar lagi dan membuang pandangan-pandangan lamanya. Ia menjadi amat resisten dan keras kepala.

Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur.

Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran.

Jadi bagaimana gejala orang yang kesulitan “keluar-masuk” zona nyaman? Saya kira Anda sudah bisa melakukan introspeksi.

Hidup itu memang terdiri dari proses keluar-masuk. Kalau sudah nyaman, ingatlah jalan ini akan crowded dan kelak menjadi kurang nyaman. Jangankan melewati jalan raya, karier kita pun akan menjadi usang kalau tak berubah haluan memperbaharui diri. Perusahaan lebih senang mendapatkan kaum muda yang masih bisa dibentuk ketimbang kita yang lebih tua tapi sudah tak mau belajar lagi, keras kepala pula.

Kalau kita berani melewati jalan tak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Ia bukanlah a quiter atau a camper.

Siapa yang tak ingin hidup mapan dan nyaman? Kita bekerja keras untuk meraih kenyamanan dan ketenangan hidup, tetapi para ahli mengingatkan itu semua hanyalah ilusi. Dalam zona nyaman tak ada kenyamanan, tak ada mukjizat selain mereka yang berani keluar dari selimut tidurnya.

Bagaimana Melatihnya?

Saya ingin mengatakan pada Anda, jangan terburu-buru mengatakan bahwa manusia dewasa tak bisa berubah. Pengalaman saya menemukan banyak orang dewasa yang bisa berubah. Yang tidak bisa berubah itu adalah manusia yang sudah final.

Manusia yang sudah final itu biasanya pikirannya kaku seperti orang mati dan merasa paling tahu. Tentang manusia yang arogan ini bukanlah tugas manusia untuk mengubahnya, biarkan saja Tuhan yang memberikan solusinya. Hanya lewat ujian beratlah mukjizat itu baru terjadi pada mereka.

Di Rumah Perubahan, kami biasa mendampingi dan memberikan pelatihan untuk keluar dari zona nyaman ini. Biasanya setelah dilatih mereka malah justru menjadi pembaharu yang progresif. Bahkan mereka menjadi teman para CEO yang sedang memimpin transformasi untuk menghadapi para pemimpin pemberontakan yang resisten terhadap perubahan, atau orang-orang arogan dan miskin perspektif, termasuk para senior yang sudah final karena gelarnya sudah panjang.

Lain kali saya akan jelaskan apa yang harus dilakukan orangtua dan guru untuk melatih anak-anaknya keluar dari zona nyaman.

Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Ada 3 komentar untuk artikel ini

3 komentator

Minggu, 28 Desember 2014

Catatan Sang Professor


Catatan Sang Professor : Segala Sesuatu yang Terjadi Saat Ini adalah Demi Kebaikan Kelak

adnreas lako
facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Oleh: Prof. Andreas Lako
(Tulisan ini disiapkan untuk penulisan autobiografi saya dan utk Hari Ibu 22 Desember)
Setelah ayahku meninggal pada November 1973, yaitu ketika saya masih berusia 7 tahun, saya sering berkeluh kesah kepada ibuku:
Mama, kenapa Tuhan memanggil bapakku begitu cepat ketika kami masih kecil? Apa salah ayah? Bukankah ayah itu begitu baik kepada banyak orang, mengajarkan agama dari kampung ke kampung, dan suka mendamaikan keluarga-keluarga yang bertengkar? Kenapa Tuhan itu tidak baik dan membuat hidup kita sengsara?
Mendengar pertanyaan dan keluhan saya yang sering muncul berulang kali, ibuku selalu mengatakan sebagai berikut:
Bapakmu itu adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tuhan memanggil duluan ayahmu pasti untuk tujuan yang lebih baik nanti. Itu rahasia Tuhan yang kita tidak tahu saat ini. Mungkin saja ayahmu itu ada dosa kepada Tuhan, tapi mungkin juga tidak. Tapi Tuhan memanggil duluan ayahmu itu pasti untuk kebaikan buat ayahmu, buat kita dan buat kalian kelak. Dengan meninggalnya ayahmu, kamu dan kakak-kakakmu harus semakin rukun, rajin bekerja, baik dengan sesama, dan rajin berdoa. Kalau kalian rukun, rajin bekerja dan terus berdoa, ayahmu dari surga akan bahagia. Tuhan pasti akan memberkati kalian.
Kata-kata ibuku itu terus terngiang-ngiang dibenakku hingga saat ini. Saya baru menyadari kebenaran dari kata-kata bijak ibuku itu setelah 40 tahun kemudian. “Everything happends for a good reasons”
Berjualan Permen
Pasca meninggalnya ayahku, keinginanku untuk sekolah hilang. Selama dua tahun, saya mendampingi ibuku tinggal di kebun (ladang) agar bisa membantu beliau mencari kayu bakar, mengambil air minum dari sungai, mengerjakan kebun, dan sekali-kali membantu menjual pisang atau buah-buahan di pasar kota Bajawa yang jauhnya sekitar 7 km dgn jalan kaki.
Di kota Bajawa, saya melihat anak-anak seusia saya sudah masuk SD dan mereka tampaknya bahagia. Maka pada tahun 1975, di usia menginjak 9 tahun, saya meminta ibuku agar saya masuk SD dan beliau mengijinkan. Betapa senangnya saya bisa sekolah, bisa mulai belajar menulis dan membaca. Karena senang bisa sekolah, maka sejak SD kelas 1 hingga kelas 4 saya selalu belajar tekun dan menjadi yang terbaik di kelas.
Ketika di kelas 4, saat sering jualan sayur dan buah-buahan di pasar Bajawa agar bisa membantu Ibuku membayar uang sekolahku dan kebutuhan lainnya, saya sering berpapasan dengan anak-anak SMP. Saya melihat mereka tampak seperti anak-anak pintar. Mereka tampak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Saya mulai berkeinginan agar bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Saya ingin bisa belajar bahasa Inggris dan lulus SMP.
Ketika keinginan itu saya sampaikan ke ibuku, ibuku hanya tertunduk lesu dan meneteskan air mata. Namun kemudian berkata:
Anakku, darimana biayanya? Kakak-kakakmu tak bisa sekolah karena kita tidak punya uang. Kita ini orang miskin. Saya juga tidak bisa jual tanah warian karena tanah yg kita garap ini adalah milik keluarga besar. Tanah-tanah ini juga untuk tiga kakak perempuanmu.
Kata-kata ibuku itu semakin menguatkaan saya untuk bisa sekolah hingga SMP. Sejak tahun 1978, saya mulai berjualan permen/gula-gula setiap hari di sekolah. Setiap hari minggu, sehabis ibadat/misa saya juga berjualan permen/manisan di depan halaman gereja.
Dengan modal awal Rp 500 hasil dari berjualan kayu bakar dan arang, ternyata dagangan saya laris manis. Pada minggu pertama, saya berhasil meraih keuntungan sebesar Rp 750. Hasil keuntungan itu lalu saya jadikan modal. Hanya dalam sebulan keuntungan berdagang permen telah mencapai Rp 5.000. Uang itu lalu ditabung di Bank BRI Bajawa. Begitu bangganya saya bisa memiliki tabungan.
Hingga kelas 6, saya semakin rajin berjualan permen. Setiap ada event olahraga atau lainnya di daerah saya, saya pasti selalu hadir berjualan tanpa rasa malu atau minder. Karena itu, hampir semua orang di daerah saya mengenal saya sebagai “penjual isi bombo” (red: permen) hingga kini. Apalagi ketika itu saya juga aktif di sekolah sebagai Ketua Osis dan aktif di gereja sebagai misdinar atau pelayan pastor saat perayaan misa. Setiap ada kuis saat pastor berkotbah, saya juga selalu menjawab dan benar. Tampaknya, semua aktivitas itu juga membuat dagangan saya tambah laris. Hingga lulus SD tahun 1981, tabungan hasil dagangan saya sudah mencapai sekitar Rp 134.500.
Dengan uang sebanyak itu, saya makin mantap melanjutkan ke SMP di Kota Bajawa, kota impian saya. Saya meyakinkan kepada ibuku dan beberapa kakakku bahwa dgn tabunganku, saya bisa sekolah ke SMP karena uang sekolah per tahunnya hanya Rp 13.500. Untuk menghemat biaya hidup, saya berjanji akan berangkat ke sekolah dan pulang ke kampung setiap hari dengan jalan kaki. Padahal, jaraknya 7 km sehingga tiap hari menempuh perjalanan 14 km.
Berkat kesungguhan dan ketekunan itu, beberapa kakakku mulai mendukung dan bahu membahu agar saya bisa sekolah dengan baik. Pada saat kelas III SMP, saya minta indekos di Kota Bajawa agar bisa belajar dengan fokus. Karena saya termasuk siswa berprestasi di kelas dan juara umum saat kelas 3, banyak guru juga mulai mendorong saya agar melanjutkan ke Seminari atau SMA favorit.
Tawaran itu saya terima. Kebetulan uang tabunganku di BRI masih utuh karena biaya selama SMP dan uang buku (saya royal dalam membeli buku) ditanggung oleh kakak dari hasil tenunan kain ikat dan hasil jualan kopi, serta hasil kebun lainnya.
Selain itu, saat masih SD dan SMP kelas 1 dan 2, setiap liburan saya selalu mengisinya dengan menanam pisang, kopi dan kayu putih di kebun. Tanaman-tanaman2 itu ternyata mulai membuahkan hasil dan digunakan oleh kakak-kakakku untuk mendukung sekolah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, saya mulai menaikkan cita-cita saya dari yang semula hanya cukup bisa lulus SMP, menjadi bisa lulus SMA. Ini membuat saya menghayal jauh.
Merupakan Karya Allah
Dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Tuhan pasti menyertai dan memberkati hambaNya yang memiliki mimpi-mimpi besar dan harapan kuat, tekun dalam berdoa dan beriman, serta rajin bekerja keras.
Kata-kata bijak tersebut sangat saya rasakan. Tuhan selalu membukakan saya pintu kehidupan atau jalan menuju tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi. Tuhan menuntun, menolong dan berkarya untuk saya melalui saudara-saudaraku dan banyak orang agar saya bisa menaiki tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi.
Berkat ketekunan dalam bekerja, belajar, berdoa dan berbuat baik kepada orang lain, Tuhan melalui tangan dan karya banyak orang telah menghantarkan saya bisa menyelesaikan pendidikan SMA, S1 hingga S3 dan bahkan bisa meraih gelar profesor.
Bahkan, gelar profesor yang diberikan Tuhan kepada saya juga penuh misteri iman. Gelar itu adalah hadiah Allah setelah saya diberi ujian berat.
Setelah saya dan istri “dihajar habis-habisan” dengan dikaruniai anak yang difabel sehingga membuat saya tertekan secara ekonomi dan harus bisa menulis artikel apapun agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya pengobatan anakku, ternyata hal itu juga merupakan cara unik Tuhan yang luar biasa untuk menghantarkan saya meraih gelar tertinggi akademik. Seandainya Tuhan tidak mengarunia saya anak yang punya “kelebihan khusus” sangat mungkin saya tak bisa mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.
Setelah mencapai level tertinggi dalam pendidikan yang jauh melampaui cita-cita awal yaitu bisa lulus SMP, saya baru teringat kembali kata-kata bijak alm. Ibu saya 40 tahun lalu pasca meninggalnya ayahku:
Tuhan itu maha baik. Segala sesuatu yang terjadi saat ini adalah demi kebaikan kelak.
Saya baru paham kebenaran dari nasihat Ibuku itu saat ini. Tuhan itu memang maha baik. Seandainya Tuhan tidak memanggil ayahku duluan, saya sangat mungkin tak akan mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.
Mama, terima kasih kasih atas kelemahlembutan dan didikanmu. Semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi bersama Bapa di Surga.
Kepada para sahabatku, saya mengucapkan Selamat Hari Ibu 22 Desember 2014.

Semarang, 21 Desember 2014

Catatan Redaksi : Tulisan ini diposting di Koepang.Com atas ijin Prof. Andreas Lako.
(Visited 35 time, 4 visit today)

Minggu, 30 November 2014

DANA ABADI UNIVERSITAS


Ekonomi / Inspirasi

Memanfaatkan Potensi Besar Dana Abadi Universitas

Senin, 13 Oktober 2014 | 13:08 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/13/130806626/Memanfaatkan.Potensi.Besar.Dana.Abadi.Universitas?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan
ist Prof Rhenald Kasali

                                        Prof Rhenald Kasali
                                          @Rhenald_Kasali

Hutan yang hilang di pedalaman Papua
sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan. Bahkan, itu pulalah yang melahirkan James Tobin sebagai penerima Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada tahun 1981. Teorinya sangat dikenal: Intergenerational Equity.

Lantas apa hubungannya antara Tobin, hutan di Papua dan dana abadi universitas?

Begini ceritanya. "Aku adalah tanah," kata masyarakat adat Papua. Itu sebabnya hutan dan tanah  dipertahankan sebagai hak ulayat, tidak bisa dijual. Apa daya, perlahan-lahan tanah itu dikapling investor dengan bantuan aparatur, kadang diwarnai kekerasan atau  korupsi.

Singkat cerita, hutan abadi, rumah dan pemberi kehidupan abadi itu lenyap perlahan-lahan digantikan kebun-kebun sawit. Bagi James Tobin, itu akan terjadi Intergenerational inequality: Kualitas hidup anak-anak kita akan timpang, lebih miskin dari kita. Kita korbankan masa depan demi hari ini.

Hutan yang hilang sulit dikembalikan, tetapi belajar dari hal itu, kampus-kampus besar dunia  sebagai pengawal masa depan bangsa bekerja keras menggalang dana abadi, agar para penerus  tidak kalah bagus dari generasi pendahulunya. Yang boleh diambil hanyalah hasil dari investasi dana abadi itu, bukan “hutan abadinya". Kampus tak boleh menjadi "pemalak" bagi bangsanya yang akan memimpin masa depan, melainkan harus menjadi ajang kontribusi, ajang perjuangan para pemimpin.  Inilah logika dasar universitas-universitas kelas dunia.

Endowment Fund Pendidikan

Tak banyak orang tahu bahwa 65 persen mahasiswa Harvard University menerima beasiswa rata-rata sebesar 46.000 dollar AS per tahun. Untuk keluarga miskin yang penghasilan keluarga (per tahun) di bawah 65.000 dollar AS bahkan dibebaskan uang kuliah. Kita semua tahunya Harvard University itu mahal. Anda harus menjual setidaknya 2 buah rumah untuk menyekolahkan anak di sana.

Tetapi selama saya menemani Prof. Michael Porter di kantornya yang dibikin spesial (karena ia dikenal dengan reputasinya), saya menemukan fakta-fakta lain. Mereka datang dari mancanegara dan diberi beasiswa besar-besaran.  Anda ingin tahu dari mana sumbernya?

Itulah hasil investasi dari dana abadi (Endowment Fund) yang besarnya 36,4 miliar dollar AS, atau setara Rp 440 triliun. Dana itu pulalah yang banyak mengalir ke berbagai sektor keuangan dan sektor riil di Indonesia, diinvestasikan dalam bentuk proyek-proyek infrastruktur dan energi, yang hasil keuntungannya dijadikan dana pengembangan Harvard University.

Tahun lalu, sewaktu diundang Yale University, saya sempat bertanya cara mengembangkan dana abadi. Dari situ saya mengerti bahwa selain kemampuan akademik diperlukan entrepreneurship dan governance yang kuat. Kita butuh profesional bereputasi tinggi untuk mengelola dana ini.

Dengan itulah Yale berhasil mendapatkan dana abadi sebesar 16 miliar dollar AS atau setara Rp 192 triliun. Dari dana itu pulalah mereka bisa mengembangkan Global Network for Advanced Management, di mana MM Universitas Indonesia yang dulu saya pimpin menjadi salah satu jejaringnya. Bahkan hingga saat ini mahasiswa Yale sering datang ke UI dan kami mengirim pimpinan program dan dosen bergantian ke sana. Bahkan beberapa orang bisa melanjutkan studi di Yale dengan beasiswa.

Ambil Hasil Investasinya Saja

Namanya saja dana abadi. Ini sama seperti hutan bagi suku-suku pedalaman di tanah air, yang akan punah kalau hutannya hilang. Mata air dan kedamaian akan lenyap, digantikan keserakahan, kompetisi dan konflik.

Maka itulah universitas-universitas terkenal dibangun dengan kesadaran dana abadi. Sumbernya bukan dari sumbangan mahasiswa, melainkan dana-dana yang dicari melalui kerja keras  University President bersama-sama dengan civitas academica-nya (terutama alumni dan sahabat-sahabat Universitas). Justru dengan dana abadi itulah, mahasiswa-mahasiswa dapat belajar dengan baik, beraktifitas dengan riang gembira, lalu reputasi kampus pun akan menjadi besar.

Dana itu pulalah yang selalu ditanyakan para asessor internasional saat mengurus akreditasi internasional. Dan dengan sedih saya harus katakan, dana abadi, bahkan dana-dana kontribusi masyarakat di sini masih terlalu kecil. Pada tahun 2012, di UI saja, menurut sebuah laporan, hanya 4 persen dari seluruh anggaran. Kampus Indonesia masih terperangkap dengan keasiykan dana mudah, dari sumbangan uang kuliah mahasiswa.

Padahal dengan dana-dana itu, kita bisa mendatangkan profesor-profesor kelas dunia mengajar di Universitas kita. Tawaran seperti itu pernah saya terima untuk menjadi profesor "Change Management" di kampus mereka. Namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk tidak menerimanya, karena jumlah guru besar bidang yang saya tekuni hanya sedikit.

Hasil investasi dana abadi itulah yang dipakai kampus-kampus kelas dunia mengembangkan riset-riset fenomenal, perpustakaan berteknologi tinggi, mengembangkan pelayanan, fasilitas-fasilitas pendidikan, termasuk hotel dan dormitory (asrama mahasiswa) yang dilengkapi wifi gratis, bahkan yakuzi. Lalu kepada mahasiswa-mahasiswa yang hebat tidak hanya diberikan uang kuliah, melainkan juga biaya hidup.

Di sisi lain, dengan mengandalkan APBN dan uang kuliah sumbangan mahasiswa, kita belum bisa melihat realita dari harapan itu di berbagai universitas negeri di Tanah Air. Asrama-asrama mahasiswa kita terkesan kumuh, bahkan di jendela-jendela pun sering kita lihat, maaf pakaian dalam, yang dijemur seadanya.

Kamar mandi yang airnya keruh, dan listriknya sering tak menyala, riset yang sekedar ada, jurnal akademik kualitas lokal. Padahal di situlah tinggal anak-anak petani, nelayan, PNS atau anak rakyat jelata yang kelak akan menggantikan Jokowi atau pemimpin-pemimpin besar Indonesia. Itu hanya bisa dicapai kalau dananya cukup, sebab kita perlu mengajak mereka menjadi calon pemimpin yang visioner, adaptif dan berwawasan kebangsaan.

University Fundraising Center

Gagasan inilah yang sempat saya tuangkan dalam paper pendek di UI untuk mendorong lahirnya endowment fund yang dikelola universitas secara profesional.

Sudah saatnya kampus-kampus besar Indonesia dikelola secara visioner. Alumni-alumni dan pemimpin-pemimpinnya perlu meminjamkan lebih banyak lagi reputasinya agar semakin banyak anak-anak bangsa yang cerdas bisa sekolah di kampus-kampus besar. Ini merupakan modal awal bagi kita untuk mengurangi gap kaya-miskin, memperbaiki koefisien gini, dan memenangkan Indonesia di dunia dengan ilmuwan-ilmuwan masa depan yang cemerlang.

Kalau hari ini kita masih mengenal  filsuf-filsuf besar seperti Aristoteles, Plato dan Socrates, maka saya perlu ingatkan Anda, itu semua berkat dana abadi pertama yang diperkenalkan Marcus Aurelius di Atena (176 AD) untuk mendukung sekolah-sekolah filsafat.

Lalu, pada tahun 1502, nenek  Henry VIII, Lady Margaret Beaufort, mengembangkan metode ini untuk mengangkat reputasi Universitas Oxford dan Cambridge.

Kita tahu, kedua kampus besar itulah yang kini menempati posisi terhormat rangking dunia bersama Harvard dan Yale.  Setelah itu tradisi serupa diikuti oleh Sir Isaac Newton (Lucasian Chair of Mathematics, 1669) bahkan juga Stephen Hawking.

Kampus-kampus Indonesia perlu mengembangkan University Fundraising Center dengan target yang tak kecil. Dan sumbernya, sekali lagi tidak boleh diambil dari uang kuliah mahasiswa atau APBN. Saya kira iniah ruang yang diberikan  UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi dan UU  tentang Keuangan Negara yang memberikan status PTN BH pada beberapa perguruan tinggi ternama. Artinya, di sana ada banyak keleluasaan mengembangkan dan mengelola dana-dana abadi.

Lantas seperti apa konsepnya?

Pertama, lembaga ini harus dikelola oleh tenaga-tenaga profesioanal, dengan tata kelola yang menjamin transparansi dan akuntabilitas. Kedua, aturannya harus dibuat jelas. Harus dipisahkan antara pemberi target dengan pelakasana dan pengawasnya.

Kedua, dana abadi dikepung bersama alumnus pada level fakultas dan universitas dengan sahabat-sahabat universitas. Semua kebutuhan dipetakan, dipastikan secara garis besar berapa sasaran yang akan dicapai. Kalau Harvard sudah memilki Rp.440 Trilyun, jelas kampus-kampus Indonesia tidak akan bisa menjadi kelas dunia kalau hanya bisa mengumpulkan satu-dua trilyun rupiah saja.

Ketiga, dana-dana itu dipakai untuk membiayai beasiswa seperti diamanatkan statuta (20 persen untuk mahasiswa berprestasi kalangan kurang mampu dan 20 persen lagi yang benar-benar kurang mampu).  Keempat, pokok dari dana itu hanya akan dipakai 4 – 5% saja, sambil terus dicairkan dana-dana abadi yang baru. Para pengusaha dan CEO bisa memberikan dalam bentuk property maupun dana abadi yang diserahkan sepenuhnya, atau dibatasi untuk berapa lama.

Kelima, para pemberi dana abadi perlu diberikan imbalan. Apakah berupa penamaan (seperti seperti misalnya pada tahun 2004 Guru Besar  Wharton, Dr. Andreas Buja mendapatkan nama baru: Liem Sioe Liong/ First Pasific Company Professor of Statistics, atau Nippon Life Professor of Finance, Dr. Allen Franklin). Atau imbalan lain berupa akses terhadap riset, dan cara -cara kreatif lain yang terhormat.  Penamaan harus didasarkan sebuah aturan yang jelas dengan pertimbangan-pertimbangan yang masak.

Tentu, masih banyak sumber-sumber dana lain yang bisa didapatkan melalui crowdfunding, kegiatan-kegiatan sponsorship, dan sebagainya. Tetapi yang jelas universitas perlu membuka mata tentang potensi besar yang tersedia di balik aturan-aturan baru PTN-BH dan pertumbuhan ekonomi Asia.

Indonesia bukan lagi negara miskin, kita anggota G-20 dengan makin banyak filantropi dan perusahaan besar yang beruntung.  Adalah ironi, masih banyak anak-anak pandai yang tak bisa kuliah di kampus bereputasi tinggi.

Kita perlu membuka mata, bahwa menargetkan diri menjadi World Class University mengundang konsekwensi perlunya dana-dana besar masuk ke dalam kampus. Ranking kelas dunia hanya bisa dicapai kalau kampus-kampus kita pandai menjaring dana-dana abadi, pandai mengelolanya, transparan, pandai melakukan investasi, dan mendatangkan pengajar-pengajar hebat seperti juga mahasiswa-mahasiswanya.

Dana abadi adalah “the guardians of the future againts the claims of the present. It is to preserve equity among generations" (James Tobin).


Prof Rhenald Kasali
adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain itu, pria bergelar Ph. D. dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Saat ini, dia juga maju sebagai kandidat Rektor Universitas Indonesia. Terakhir, buku yang ditulis berjudul "Self Driving": Merubah mental passengers menjadi drivers.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

KECERDASAN DALAM KECERDASAN (MATAKOGNISI)


Ekonomi / Inspirasi

Metakognisi Nenek Fatimah

Sabtu, 29 November 2014 | 16:20 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/29/162018526/Metakognisi.Nenek.Fatimah?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan
KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA Fatimah (90), hadir di Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (30/10/2014) untuk menghadiri sidang putusan atas sengketa tanah dengan menantu dan anaknya.
                                Rhenald Kasali
                               (@Rhenald_Kasali)



KOMPAS.com - KETIKA para elite sibuk membuktikan soal perkalian, Nenek Fatimah (dan juga politisi Senayan) justru kesulitan memecahkan ”soal bagi-bagian”.

Harta suami Nenek Fatimah (tanah 3.600 m2) sudah dijual, lalu dibagi-bagi untuk keempat anaknya. Sisa uang dipakai untuk membeli tanah dari menantu seluas 397 m2 dan ditempati bersama kedua anaknya. Ia tak habis pikir, di usia tuanya (90 tahun) dituntut anak dan menantunya senilai Rp 1 miliar dari tanah yang kini ditempatinya.

Sang mantu punya pandangan berbeda. Uang katanya belum diterima. Gugatan Rp 1 miliar pun diajukan. Tetapi, uang bukanlah tujuan, ujar sang mantu. Ia ingin pengakuan. Nenek renta pun diseret ke pengadilan. Pengacara menunjukkan dalilnya ada.

Di parlemen, hal serupa kita saksikan. Sebanyak 44 jabatan pada 11 komisi ditambah empat badan (Baleg, BURT, Banggar, dan Majelis Kehormatan) harus bisa dibagi dengan adil. Tetapi, orang-orang pandai itu gagal membagi. Ada apa sebenarnya di negeri ini? Kian terdidik, mengapa kian sulit berbagi? Tak banyak sarjana yang paham bahwa untuk menggunakan kecerdasan dibutuhkan kecerdasan juga.

Metakognisi lemah

Jika di atas langit ada langit, di atas kognisi juga ada kognisi. Itulah kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan (metakognisi), yang kalau dipakai dengan baik bisa melahirkan manusia-manusia bijak yang lidahnya lembut dan kacamatanya bening.

Secara matematika Anda benar 25 dibagi lima adalah lima. Tetapi, dalam kehidupan ada kebajikan, keadilan, empati sosial, rasa persatuan, kekeluargaan, hubungan jangka panjang, dan pertimbangan lain di samping nafsu angkara dan keserakahan. Tanpa metakognisi, orang yang kognisinya kuat jadi terlihat bodoh. Belas kasih, keadilan, rasa hormat, dan kebijaksanaan disingkirkan demi ”dalil kemenangan”.

Para penegak hukum dan wakil rakyat juga terperangkap dalam waham kognisi yang sangat kuat dengan dalil-dalil dan rumus kekuasaan. Padahal, hukum ditegakkan bukan untuk kebenaran logika dan siapa yang menguasai atau yang benar semata. Ia bukanlah sebuah simbolic game seperti matematika kognisi yang menyederhanakan representasi dan keberalasan. Hukum ditegakkan untuk membentuk keadilan, dan begitu kita gagal melakukannya, ia dapat membahayakan struktur bangunan demokrasi bak sebuah bendungan besar yang alih-alih memberi manfaat bagi pertanian, malah menyumbat arus perubahan sosial (Martin Luther King, Jr).

Nurhalim (menantu Fatimah) dan istrinya (Nurhana) mungkin saja benar dan tahu dalil hukum lebih baik dari ibunya yang buta huruf. Tetapi, ia tak cukup cerdas untuk menaklukkan kecerdasannya di tengah-tengah empati sosial yang menempatkan ibu sebagai sosok yang dihormati. Apalagi kita hidup dalam peradaban kamera yang serba terbuka.

Sama saja dengan para aktor politik yang berkuasa. Mereka yang memegang palu dan duduk di barisan pemimpin bisa menetapkan siapa saja yang boleh duduk di jabatan yang akan dibagikan. Tetapi, arogansi dan kebencian bukanlah sesuatu yang diinginkan pemberi suara.
Metakognisi dari bawah

Ada yang menyatakan kognisis tentang kognisi itu didapat para bijak bestari di usia lanjut. Saya menyatakan, metakognisi justru dibentuk sedari muda, dari kanak-kanak hingga remaja dan saat seseorang menggali ilmu di perguruan tinggi. Justru dengan menyaksikan si mulut-mulut besar bertengkar di panggung politik atau anak yang mengadili ibunya di ruang sidang pengadilan, kita bisa membaca seberapa baik mereka dididik di usia muda.

”Seberapa baik” itu berbeda dengan seberapa pintar menurut ukuran-ukuran yang ada di dalam rapor atau ijazah. Ia tak tecermin dalam nilai matematika, bahasa, sejarah, atau IPA kalau pendidikan tidak kita ubah. Ia juga tak didapat dengan memberi les Kumon kepada anak-anak secara intensif atau memenangi olimpiade-olimpiade sains.

Pendidikan itu bukan memisah-misahkan kognisi dengan non-kognisi sehingga menambah mata ajaran atau jumlah guru. Seharusnya, sambil berhitung, anak-anak mengingat aturan permainan. Sambil membuat work sheet keuangan, seorang calon akuntan diajak melihat pergulatan rakyat kecil mengais sampah. Dan sambil mendalami dalil-dalil hukum, seorang calon sarjana diajak berdialog dengan keluarga narapidana (apalagi salah sasaran) dan hartanya habis untuk membayar pengacara.

Di atas hukum ada keadilan, di atas kertas ada kebenaran, dan di atas ilmu pengetahuan ada kebijaksanaan. Para ilmuwan harus mulai terbiasa mengajarkan cara-cara berpikir di atas dalil-dalil kognisi untuk mencetak politisi-politisi berbudi luhur dan anak harimau yang tak menerkam ibunya sendiri di kala lapar.


ist Prof Rhenald Kasali

Prof Rhenald Kasali
adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Senin, 24 November 2014

BAHAN BAKAR KOTORAN MANUSIA


Bus Ini Beroperasi Menggunakan Bahan Bakar Kotoran Manusia

Penulis: Febri Ardani Saragih | Selasa, 25 November 2014 | 12:02
 WIB

Dibaca: 1642   Komentar: 2
|
Share:
Sumber : - | Author : GENeco
Pada 20 November 2014, rombongan penumpang pertama telah menaiki Bio-Bus perdana di Inggris berbahan bakar gas hasil olahan limbah dan sampah makanan dari kotoran manusia.

TERKAIT

Bristol, KompasOtomotif – Untuk ukuran kemajuan inovasi, berita yang satu ini mungkin sedikit menjijikkan tapi dampaknya baik untuk lingkungan. Pada 20 November lalu, rombongan penumpang pertama telah menaiki Bio-Bus pertama di Inggris berbahan bakar biomethane (gas) hasil olahan limbah dan sampah makanan dari kotoran manusia.
Sebagai percontohan, satu unit Bio-Bus akan dioperasikan oleh Bath Bus Company selama empat pekan untuk melayani masyarakat dari bandara Bristol ke kota sejarah, Bath.
Bath Bus mengatakan metode ini lebih ramah lingkungan, lebih “hijau” dari bus bermesin diesel. Dengan tangki berisi penuh, Bio-Bus berkapasitas 40 tempat duduk ini sanggup menempuh perjalanan sejauh 300 km.
Hingga sekarang hanya ada satu sumber bahan bakar optimal, yakni berasal dari pabrik limbah yang dioperasikan oleh GENeco, anak perusahaan Wessex Water. Pekan lalu GENeco menjadi perusahaan pertama di Inggris yang mulai menginjeksikan gas dari kotoran manusia ke jaringan gas nasional. Di saat yang bersamaan, fasilitas isi ulang bahan bakar Bio-Bus juga diinstal.
“Melalui olahan sampah dan makanan yang tidak layak untuk manusia kami dapat memproduksi cukup biomethane untuk menghasilkan suplai yang signifikan buat jaringan gas nasional yang mampu memberi tenaga pada 8.500 rumah, termasuk Bio-Bus,” kata GENeco General Manager Mohammed Saddiq, dalam keterangan resminya.
Metode ini merupakan praktek memanfaatkan sumber bahan bakar alternatif, salah satu cara menghilangkan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tidak tergantikan. Meski begitu, mengingat pemakaian bahan bakar kotoran manusia, belum ada keterangan soal bau yang dihasilkan.

Kamis, 13 November 2014

Info Kesehatan


NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Punya Faktor Risiko Ini, Lakukan Cek Gula Darah Berkala!

Jumat, 14 November 2014 | 08:08 WIB
 http://health.kompas.com/read/2014/11/14/080800623/Punya.Faktor.Risiko.Ini.Lakukan.Cek.Gula.Darah.Berkala.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
 
Dibaca: 5
Komentar: 0
|
Share:

Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com -
Indonesia merupakan negara dengan populasi diabetes terbesar kelima di dunia, dengan jumlah penderita mencapai 9,1 juta jiwa. Sayangnya, hampir separuh penderita tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang oleh awam disebut kencing manis ini.

Tidak sadarnya seseorang bahwa ia memiliki penyakit diabetes melitus antara lain karena penyakit ini memang kerap tidak bergejala. Padahal, diabetes memiliki perjalanan penyakit yang lambat sehingga penyakit ini sebenarnya bisa dicegah.

Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes berikut ini, lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala:

- Memiliki riwayat keturunan diabetes dalam keluarga. Jika orangtua menderita penyakit ini, maka risiko kita juga lebih besar.

- Berat badan berlebih atau lingkar perut besar. Untuk pria, ukuran lingkar perut yang normal adalah di bawah 90 cm, sedangkan untuk wanita tak boleh lebih dari 80 cm.

- Melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kg atau saat hamil mengalami kenaikan gula darah.

Menurut Prof.Sidartawan Soegondo Sp.PD-KEMD, peningkatan jumlah pasien diabetes bisa ditekan dengan mengubah pola pikir masyarakat.

"Karena diabetes adalah penyakit yang tidak bergejala, maka perlu deteksi dini. Masyarakat juga harus mengubah mindset, kalau ada faktor risiko, segera cek kadar gula darahnya," katanya dalam acara Indonesia Diabetes Leadership Forum di Jakarta (13/11/14).

Mengetahui faktor risiko penyakit diabetes sangatlah penting karena akan membuat kita lebih waspada sehingga secara sadar mau mengubah pola hidupnya. Jika kadar gula darah puasa di atas 125 mg/dl maka Anda sudah termasuk prediabetes. Namun, kondisi ini masih bisa diperbaiki dengan mengubah gaya hidup sehingga tidak sampai berlanjut menjadi diabetes. 

Meski faktor keturunan bisa meningkatkan risiko diabetes, namun jika seseorang menjalankan gaya hidup sehat maka ia bisa terbebas dari penyakit ini. Gaya hidup sehat bukan hanya menjaga pola makan dan olahraga, tapi juga pola istirahat yang baik, serta menjauhi rokok.


News / Megapolitan

Gadis Tionghoa: Ahok Bodoh Kayak Naruto!

Kamis, 13 November 2014 | 15:14 WIB 
 http://megapolitan.kompas.com/read/2014/11/13/15145051/Gadis.Tionghoa.Ahok.Bodoh.Kayak.Naruto.
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu (8/11/2014).
Catatan Kaki Jodhi Yudono
Pagi tadi saya menyapa beberapa kawan melalui BlackBerry messenger. Hampir semuanya menjawab sehat, kecuali satu orang yang menjawab sedang galau.
Petzie, begitu biasa saya memanggilnya. Nama lengkapnya Petricia Yuvita, gadis keturunan Tionghoa berusia 26 dan berprofesi sebagai penulis lepas. Dia terlahir dari keluarga yang mapan, kuliah di universitas bergengsi di Jakarta, pernah jadi mayoret saat jadi siswa, kerap meluangkan waktu di kafe, dan sesekali memajang fotonya sehabis jalan-jalan ke luar negeri.
Pagi itu Petzie bilang, kegalauannya karena Ahok belum juga diangkat jadi gubernur. Maka mulailah kami memperbincangkan Plt Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang sedang menunggu pelantikan sebagai Gubernur resmi DKI Jakarta itu.
Dari perbincangan kami, terasa betul betapa Petzie kagum dengan keberanian Ahok. Ya, ya.. Ahok memang bukan yang pertama dan satu-satunya dari etnis Tionghoa yang memiliki keberanian menegakkan kebenaran. Jauh sebelum Ahok muncul, sudah ada Soe Hok Gie, Arief Budiman, Kwik Kian Gie, Alvin Lie, dan para pemberani lainnya. Tapi harus diakui, bahwa Ahok memang istimewa dibandingkan dengan lainnya. Dia bukan cuma pemberani, tapi dia juga seorang pejabat yang tegas menghadapi koleganya yang korup dan juga warganya yang menentang keberadaan dirinya sebagai seorang Tiong Hoa yang beragama minoritas.
Terakhir, dia mengaku bahwa dirinya adalah gubernur pertama yang berani menunjukkan sikapnya yang ingin membubarkan FPI. Ahok bukan cuma berani kepada FPI, tapi juga berani kepada siapa saja, termasuk menteri yang menurutnya berpikir tidak logis.
Lantaran keberaniannya itulah, menurut Petzie, pelantikannya jadi terhambat. Kata Petzie, ada kekuatan besar di balik FPI yang sengaja hendak menggagalkan pelantikan Ahok sebagai gubernur.
Namun..., meski Ahok berani, jujur, tegas, tapi mengapa Petzie menuduh lelaki kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966,  itu sebagai si bodoh yang kayak Naruto, tokoh dalam sebuah film animasi? Ikuti perbincangan saya dengan Petzie berikut ini.

Dok. Petricia Yuvita Petricia Yuvita
Saya: Selamat pagi Petzie
Petriciz Yuvita: Selamat pagi Pak Jodhi
Saya: apa kabar hari ini?
Petricia Yuvita: Hmmm...Bagaimana kabar hari ini Pak? Semoga sehat-sehat saja. Ada yang bisa saya bantu, Pak?
Saya: Ingin nyapa saja. Pagiku baik, gimana dengan pagimu?
Petricia Yuvita: Pagiku galau pak, kasian Ahok belum diresmiin jadi gubernur. Tapi saya juga
bangga karena Jokowi disorot APEC dan kebingungan karena Putin baik ke Ibu Negara China. Hahhahaha
Pagi ini saya cek facebook penuh dengan APEC pak hahahha.

Saya: Kabarnya Ahok mau dilantik tanggal 18 November ya? Emang apa harapanmu jika Ahok resmi jadi Gubernur?
Petricia Yuvita: Harapan saya siiii yahh dengan Ahok jadi gubernur, Jakarta bisa jadi jauh lebih tegas dan gak lenje-lenje lagi. Preman-preman dbasmi dan Jakarta bisa dijadikan kota beradab yang populasinya gak membludak dan membuat orang-orang lebih suka di pedesaan, sehingga desa bisa lebih maju. Jadi gak ada lagi yang namanya merantau ke Jakarta sehingga orang juga lebih nyaman di kota-kota mereka sendiri karena Jakarta itu keras bung! Hahahhaha.
Saya: Terus kalau Ahok dipersulit kayak sekarang, apa tanggapanmu?
Petricia Yuvita: Hmmm.... Tanggapan saya, pasti ada kekuatan besar di belakang FPI dan yang lainnya untuk menghambat Ahok. Bayangkan saja, apa anggota FPI tidak punya pekerjaan sampai demo seharian dan berturut-turut seperti itu? Demo ya demo tapi mereka terus-terusan loh, dont they have stomach to feed?
Saya: Kalo Ahok sampai gagal dilantik bagaimana?
Petricia Yuvita: Kalau sampai Ahok gagal dilantik, yah berakhir pula kepercayaan saya akan Indonesia yang lebih baik dan beradab. Kalau sampai gagal dilantik...mari pindah negara! Hahahhaha
Saya: Ciyuuus? Mau pindah ke mana?
Petricia Yuvita: Pindah ke Japan pak!! Tapi di pegunungan biar gak kena tsunami
Saya: Ikuuut
Petricia Yuwita: Kemon pak. Makan sushi bareng kita!
Kadang saya kesal sekali pak, apalagi kalau mendengar komentar2 seperti China pergi saja dari Indonesia, China gak pantas memimpin, murtad China dan laknat china dll. Mana bhineka tunggal ika?
Saya: Saat ini Ahok bagi etnis Tionghoa dipandang sebagai figur macam apa?
Petricia: Mungkin figur yang bodoh. Why? Karena Ahok adalah satu di antara sekian ribu orang etnis Tionghoa yang rela dicaci maki demi kelangsungan negara yang lebih baik, di saat etnis Tionghoa sudah putus asa dan merasa lebih baik tidak usah mencampuri negara karena sudah bobrok pula dan penuh koruptor.. lebih baik menjalani bisnis saja. Namun Ahok justru ngotot membangun Jakarta agar bisa bebas dari korupsi dan membuktikan bahwa dia memang bekerja untuk rakyat walau dicaci maki. Sehingga etnis Tionghoa pun yang tadinya pesimis akan Jakarta yang lebih baik dan yang tadinya memilih menutup mata, sekarang lebih optimis dan diam-diam membela ahok dan memujinya. Jadi saya akan bilang, figur Ahok itu seperti Naruto, si bodoh yg keyakinannya bisa mengubah dunia. Hahahha udah kayak komik aja ya pak?
Saya: Pembelaan macam apa yang kalian berikan untuk Ahok ketika dia ditekan seperti sekarang ini?
Petricia Yuvita: Mungkin bukan pembelaan ya, tapi support atau dukungan, moril dan doa.
Saya: Ada pembelaan yang riil ga?
Petricia Yuvita: Karena yg Ahok butuhkan bukanlah orang yang membela atau berani mati untuknya, namun orang yang akan mengingatnya dan meneruskan jejaknya ketika dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Pembelaan riil, bukti konkrit ya pak? Seperti demo atau bukti tindakan gitu?
Saya: Iya, semacam itu.
Petzie lama menjawab, ada sekira sepuluh menit.
Saya: Jawab dong, lama banget...
Petricia Yuvita: Bentar pak, saya lagi make make up hihi. Bentar ya...
Saya biarkan beberapa saat. Kemudian...
Petricia Yuvita: Dari etnis Tionghoa yang saya liat yah, tidak akan ada atau mungkin untuk sekarang tidak ada tindakan yang seperti demo gitu si pak. Karena bukan sifat orang Tionghoa untuk melakukan hal seperti itu. Dari yang saya lihat sih, sampai nanti saatnya sudah muak sekali, baru akan ada demo besar. Apalagi dengan latar belakang 1998 yang notabene ras Tionghoa kan dibabat habis di saat itu. Sakit hati dari zaman itu sepertinya tidak pernah bisa hilang sepenuhnya. Jadi etnis Tionghoa tidak akan menggelar demo, kecuali pada saatnya nanti apabila sudah tidak ada jalan lain, mungkin baru ada penggelaran demo. Namun melihat ribetnya, menurut saya si kemungkinannya kecil yah,, karena orang Tionghoa lebih melihat diri mreka saja sudah bisa hidup aman dan nyaman saja sudah bagus, ngapain mencampuri urusan negara yang belum tentu opininya didengar
Saya: Selain Ahok, kenal tokoh tionghoa yg segila Ahok ga?
Petricia Yuvita: Well yang segila Ahok si belum denger ya pak, Tapi bibit-bibit Ahok si ada, cuma gak segila ahok untuk bisa jadi gubernur. Kebanyakan baru memulai menjadi DPRD namun berguguran karena kurang dana atau ditolak masyarakat.
Saya: Menurutmu, mengapa Ahok diterima oleh mereka yg bukan keturunan Tionghoa?
Petricia Yuvita: Hmmm karena beliau berani mendobrak kebiasaan dan tata cara yg sudah ada di indonesia slama ini. Seperti, pemimpin harus Islam, pemimpin harus bisa menjaga hubungan dengan mayoritas dan minoritas, pemimpin harus berjilbab atau memakai peci dll. Ahok berani melewati semua itu dan bekerja keras demi membangun kota yang ia pimpin. Walau kita tidak tahu bagaimana Ahok bertahan dengan maraknya kasus korupsi dan pastinya godaan banyak. Ahok bisa mengedepankan pekerjaan yg dulu ditakuti oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan melawan FPI, sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Ahok juga berani menantang mereka untuk bekerja dan melakukan tugasnya secara baik dan total. Dan saya yakin serta tahu, apabila semua masyarakat (tidak tergolong agama dan ras), melihat kerja keras seperti itu, dan dengan ketegasan yang dibutuhkan, akan mendukung beliau. Karena yang beliau ingin lakukan hanyalah memajukan kota, terlepas dari bagaimana caranya dan apakah caranya dterima atau tidak, Ahok mampu membuktikan bahwa dia tidak hanya bicara dan bicara namun memang bekerja secara tegas dan lugas. Dan menurut saya justru pemimpin keras itulah yang diperlukan Jakarta karena jakarta itu keras, bung!=)) Come on man, let the guy do his work! Pemimpin apapun, beragama apapun, percuma kalau ujung-ujungnya korupsi dan mementingkan kepentingan pribadi saja..
Saya: Banyak orang yang menyayangi Ahok, dan mungkin rela mati buat Ahok jika dia diperlakukan tidak adil, bagaimana denganmu?
Petricia Yuvita: Hmmm. Saya sayang pak sama ahok. Namun untuk rela mati..hmmmm, akan lebih baik dan bijak apabila kita membela dan melakukan yang terbaik untuk Ahok dan benar-benar bertindak daripada hanya berbicara kan? Karena rela mati untuk seseorang itu sesuatu yang tidak sembarangan. Saya relamati untuk orang tua saya dan orang yang saya sayang
Saya: Iya, itu kan cuma ibarat. Karena membela kebenaran juga sesuatu yang mulia di hadapan Tuhan, bukan?
Petricia Yuvita: Yahhh kalau dibilang si, saya rela pak membela mati-matian Pak Ahok. Tapi tidak sampai saya meregang nyawa hihi...
Saya: Iya iya, rela pingsan aja deh kalo begitu
Petricia Yuvita:
Hahahhaha. Rela aku relaaa paaak hihi
Saya: Omong-omong, efek Ahok di kalangan muda Tionghoa seperti apa?
Petricia Yuvita: Efek ahok itu besar pak di kalangan muda. Dulu, etnis Tionghoa muda tidak percaya akan adanya pemerintahan yang adil dan memajukan rakyat...
Saya: Sekarang...
Petricia Yuvita: Nah sekarang jadi lebih percaya akan adanya perubahan. Dan kita lebih menyamakan jejak dengan beliau akan jakarta yang lebih baik. Sekarang juga lebih berani berapresiasi ke publik dan terbuka menilai Ahok dan kinerjanya. Bahkan beberapa orang berani membuat akun dan mendukung serta mengupdate tentang perubahan yang diberikan Ahok. Namun masih sebatas di sosial media.
Banyak juga anak-anak muda yang bangga karena salah seorang dari mereka berani mengubah Jakarta dan bekerja untuk rakyat, bukan untuk menggendutkan diri. Tidak jarang kawan-kawan muda itu mencibir dan menghina orang-orang yang menjegal Ahok. Bahkan adik saya, sempat bertemu langsung dan melihat Ahok dengan pekerjaannya. Dia bertanya ke wartawan, bagaimana rasanya mengikuti Ahok ke mana-mana.Sungguh membuat bangga dan kagum, begitu yang saya simpulkan dari pertemuan adik saya yang masih kuliah itu di kantor Pak Ahok.
Saya: Terus apa yang kawan-kawan kerjakan secara nyata sebagai ungkapan dukungan nyata kepada Ahok. Misalnya dalam kegiatan sosial ata apa gitu?
Petricia Yuvita: Nah, kalau kegiatan, saya pingin bilang aksi tsu chi di dalam membantu membersihkan Monas. Karen biasanya kehiatan chinese gitu kan tidak begitu diterima, jadi kurang terekspos. Kita juga punya kegiatan sosial membantu fakir miskin, membantu sosialisasi normalisasi di bantaran sungai agar warga yang berdomisli di sana mau pindah ke tempat yang sudah disediakan Pemda.
Saya: Sekarang kalian punya kepercayaan diri dong untuk masuk ke bidang pekerjaan pemerintahan?
Petricia Yuvita: Sebelum Ahok resmi jd gubernur saya rasa belum terlalu percaya diri si pak. Lagi pula untuk masuk d bidang pekerjaan pemerintahan sebenarnya saya udah pernah, magang di bagian kementerian luar negeri, Waktu saya kuliah.. hehehe. Kita udah berani kok, namun untuk terjun secara besar seperti DPRD atau bidang kementerian atau gubernur mungkin belum sepercaya diri itu. Sekarang
baru bisa ikut andil dalam membantu supporting bagi pemerintahan yang baik dan tanpa korupsi.
Saya: Punya pesan atau harapan buat Pak Ahok?
Petricia Yuvita: Hmmm harapan saya, supaya Pak Ahok terus tegar dan berani bersih dari korupsi. Buktikan bahwa anda memang bisa bekerja melayani rakyat. Jangan pernah lelah membela yang benar dan membuktikan bahwa anda benar. Jangan takut, rakyat bisa melihat, rakyat tidak bodoh dan bisa berpikir siapa yang benar dan siapa yang salah. Lakukan tugas anda dan percayalah, akan ada Ahok-ahok selanjutnya yang akan tumbuh karena kami semua sayang Indonesia dan muak dengan koruptor yang hanya bisa membuncitkan perut. Maju terus Pak Ahok, rakyat mendukung anda dan kiranya Tuhan memberkati.
Saya: Kepingin segera menikmati kehidupan yang lebih baik ya?
Petricia Yuwita: Sudah capek yah pak kita hidup di dalam lingkup korupsi dan yang membobrokkan negara.. Sudah cukup kita dirampok sana sini. Punya beribu pulau tapi pulau-pulaunya ternyata tidak bisa kita rawat. Punya macam-macam pohon, hutan, tapi dibakar terus menerus.
Bagaiamana kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik sementara kita tidak mau dididik untuk jadi lebih beradab? Sekarang kita sudah punya presiden dan calon gubernur yang siap mendidik kita menjadi taat hukum dan taat pada pemerintahan yang bersih, namun masih saja kelimpok-kelompok yang tidak mau, tidak mendukung, bahkan sampe balik-balikin meja lah, bikin DPR tandingan lah, bikin KMP (Koalisi Merah Putih) Jakarta tandingan lah, ngambek lah, demo lah, gmana mau maju...? Sekalian ajah Indonesia dibagi-dibagi...
Saya: Hehehe... Makasih Petzie, untuk obrolannya.
Petricia Yuvita: Pusing yak pak? Makasih juga pak
@JodhiY


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Jodhi Yudono

Minggu, 02 November 2014

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti


Ekonomi / Inspirasi

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

 

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Senin, 3 November 2014 | 05:45 WIB
ist Prof Rhenald Kasali
                                   Rhenald Kasali                              (@Rhenald_Kasali)

KOMPAS.com - Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Tetapi pada Susi Pujiastuti, yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat. Tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Moeryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun.  Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jeans, dia selalu berkebaya. Dan Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?


KOMPAS/AGUS SUSANTO Mooryati Soedibyo, pengusaha jamu dan kosmetika tradisional

Tetapi ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan “bersaing” dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Tetapi rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: “Pukul 8 malam kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai dan tak boleh asal jadi.”

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada Stereotyping dalam kepala sebagian orang, sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar Doktor HC (Honoris Causa) yang jalurnya cukup ringan.

Tetapi Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni  (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas duniia. Belakangan ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram yang lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia “diluluskan” dengan bantuan, “sekolahnya hanya dua tahun” dan seterusnya. Dan anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi ada satu hal yang mereka sulit menyangkal. Perempuan yang meraih doktor di usia 79 tahun ini, berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu. Bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak.  Namun bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Ini juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S2 UI, banyak juga yang bertanya: Apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: “no bargain on process and quality."

KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI Model dan artis peran Dian Sastrowardoyo

Dian, sudah artis, saat mulai kuliah sedang hamil pula. Urusannya banyak: keluarga, film dan seabrek tugas. Tetapi lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lainnya: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S1 pada kelas yang saya asuh.

“Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan, kalau kamu tidak outstanding,” ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. “Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa,” ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya ," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S2 UI, dari ilmu keuangan pula yang sarat matematikanya. Padahal bidang studi S1-nya amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena “sekolahnya”. Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah “self driver” sejati, yang bukan putus sekolah melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

SABRINA ASRIL/KOMPAS.com Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Tetapi berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi “passenger”, ayah Susi justru marah besar. Di usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, Ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, di lelang di Jakarta. Itu dijalaninya bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri tiga orang satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Dan saya menurutinya (Kisah mereka bisa di baca dalam buku: 30 Paspor di Kelas sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk beluk logistik  ikan, menjadi eksportir, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk  hidup yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan jadilah bisnis carter pesawat yang dibawahnya ada storage untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya di bangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Tetapi tanpa kemampuan nonkognisi semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi meta kognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia dan praktisi-praktisi handal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu”, adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan kebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekedar mampu mendengar, tapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah dan stereotyping. Tetapi saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.


Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain itu, pria bergelar Ph. D. dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Saat ini, dia juga maju sebagai kandidat Rektor Universitas Indonesia. Terakhir, buku yang ditulis berjudul "Self Driving": Merubah mental passengers menjadi drivers.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko