Minggu, 30 November 2014

DANA ABADI UNIVERSITAS


Ekonomi / Inspirasi

Memanfaatkan Potensi Besar Dana Abadi Universitas

Senin, 13 Oktober 2014 | 13:08 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/10/13/130806626/Memanfaatkan.Potensi.Besar.Dana.Abadi.Universitas?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan
ist Prof Rhenald Kasali

                                        Prof Rhenald Kasali
                                          @Rhenald_Kasali

Hutan yang hilang di pedalaman Papua
sudah lama menjadi perhatian para ilmuwan. Bahkan, itu pulalah yang melahirkan James Tobin sebagai penerima Nobel Memorial Prize in Economic Sciences pada tahun 1981. Teorinya sangat dikenal: Intergenerational Equity.

Lantas apa hubungannya antara Tobin, hutan di Papua dan dana abadi universitas?

Begini ceritanya. "Aku adalah tanah," kata masyarakat adat Papua. Itu sebabnya hutan dan tanah  dipertahankan sebagai hak ulayat, tidak bisa dijual. Apa daya, perlahan-lahan tanah itu dikapling investor dengan bantuan aparatur, kadang diwarnai kekerasan atau  korupsi.

Singkat cerita, hutan abadi, rumah dan pemberi kehidupan abadi itu lenyap perlahan-lahan digantikan kebun-kebun sawit. Bagi James Tobin, itu akan terjadi Intergenerational inequality: Kualitas hidup anak-anak kita akan timpang, lebih miskin dari kita. Kita korbankan masa depan demi hari ini.

Hutan yang hilang sulit dikembalikan, tetapi belajar dari hal itu, kampus-kampus besar dunia  sebagai pengawal masa depan bangsa bekerja keras menggalang dana abadi, agar para penerus  tidak kalah bagus dari generasi pendahulunya. Yang boleh diambil hanyalah hasil dari investasi dana abadi itu, bukan “hutan abadinya". Kampus tak boleh menjadi "pemalak" bagi bangsanya yang akan memimpin masa depan, melainkan harus menjadi ajang kontribusi, ajang perjuangan para pemimpin.  Inilah logika dasar universitas-universitas kelas dunia.

Endowment Fund Pendidikan

Tak banyak orang tahu bahwa 65 persen mahasiswa Harvard University menerima beasiswa rata-rata sebesar 46.000 dollar AS per tahun. Untuk keluarga miskin yang penghasilan keluarga (per tahun) di bawah 65.000 dollar AS bahkan dibebaskan uang kuliah. Kita semua tahunya Harvard University itu mahal. Anda harus menjual setidaknya 2 buah rumah untuk menyekolahkan anak di sana.

Tetapi selama saya menemani Prof. Michael Porter di kantornya yang dibikin spesial (karena ia dikenal dengan reputasinya), saya menemukan fakta-fakta lain. Mereka datang dari mancanegara dan diberi beasiswa besar-besaran.  Anda ingin tahu dari mana sumbernya?

Itulah hasil investasi dari dana abadi (Endowment Fund) yang besarnya 36,4 miliar dollar AS, atau setara Rp 440 triliun. Dana itu pulalah yang banyak mengalir ke berbagai sektor keuangan dan sektor riil di Indonesia, diinvestasikan dalam bentuk proyek-proyek infrastruktur dan energi, yang hasil keuntungannya dijadikan dana pengembangan Harvard University.

Tahun lalu, sewaktu diundang Yale University, saya sempat bertanya cara mengembangkan dana abadi. Dari situ saya mengerti bahwa selain kemampuan akademik diperlukan entrepreneurship dan governance yang kuat. Kita butuh profesional bereputasi tinggi untuk mengelola dana ini.

Dengan itulah Yale berhasil mendapatkan dana abadi sebesar 16 miliar dollar AS atau setara Rp 192 triliun. Dari dana itu pulalah mereka bisa mengembangkan Global Network for Advanced Management, di mana MM Universitas Indonesia yang dulu saya pimpin menjadi salah satu jejaringnya. Bahkan hingga saat ini mahasiswa Yale sering datang ke UI dan kami mengirim pimpinan program dan dosen bergantian ke sana. Bahkan beberapa orang bisa melanjutkan studi di Yale dengan beasiswa.

Ambil Hasil Investasinya Saja

Namanya saja dana abadi. Ini sama seperti hutan bagi suku-suku pedalaman di tanah air, yang akan punah kalau hutannya hilang. Mata air dan kedamaian akan lenyap, digantikan keserakahan, kompetisi dan konflik.

Maka itulah universitas-universitas terkenal dibangun dengan kesadaran dana abadi. Sumbernya bukan dari sumbangan mahasiswa, melainkan dana-dana yang dicari melalui kerja keras  University President bersama-sama dengan civitas academica-nya (terutama alumni dan sahabat-sahabat Universitas). Justru dengan dana abadi itulah, mahasiswa-mahasiswa dapat belajar dengan baik, beraktifitas dengan riang gembira, lalu reputasi kampus pun akan menjadi besar.

Dana itu pulalah yang selalu ditanyakan para asessor internasional saat mengurus akreditasi internasional. Dan dengan sedih saya harus katakan, dana abadi, bahkan dana-dana kontribusi masyarakat di sini masih terlalu kecil. Pada tahun 2012, di UI saja, menurut sebuah laporan, hanya 4 persen dari seluruh anggaran. Kampus Indonesia masih terperangkap dengan keasiykan dana mudah, dari sumbangan uang kuliah mahasiswa.

Padahal dengan dana-dana itu, kita bisa mendatangkan profesor-profesor kelas dunia mengajar di Universitas kita. Tawaran seperti itu pernah saya terima untuk menjadi profesor "Change Management" di kampus mereka. Namun karena satu dan lain hal, saya memutuskan untuk tidak menerimanya, karena jumlah guru besar bidang yang saya tekuni hanya sedikit.

Hasil investasi dana abadi itulah yang dipakai kampus-kampus kelas dunia mengembangkan riset-riset fenomenal, perpustakaan berteknologi tinggi, mengembangkan pelayanan, fasilitas-fasilitas pendidikan, termasuk hotel dan dormitory (asrama mahasiswa) yang dilengkapi wifi gratis, bahkan yakuzi. Lalu kepada mahasiswa-mahasiswa yang hebat tidak hanya diberikan uang kuliah, melainkan juga biaya hidup.

Di sisi lain, dengan mengandalkan APBN dan uang kuliah sumbangan mahasiswa, kita belum bisa melihat realita dari harapan itu di berbagai universitas negeri di Tanah Air. Asrama-asrama mahasiswa kita terkesan kumuh, bahkan di jendela-jendela pun sering kita lihat, maaf pakaian dalam, yang dijemur seadanya.

Kamar mandi yang airnya keruh, dan listriknya sering tak menyala, riset yang sekedar ada, jurnal akademik kualitas lokal. Padahal di situlah tinggal anak-anak petani, nelayan, PNS atau anak rakyat jelata yang kelak akan menggantikan Jokowi atau pemimpin-pemimpin besar Indonesia. Itu hanya bisa dicapai kalau dananya cukup, sebab kita perlu mengajak mereka menjadi calon pemimpin yang visioner, adaptif dan berwawasan kebangsaan.

University Fundraising Center

Gagasan inilah yang sempat saya tuangkan dalam paper pendek di UI untuk mendorong lahirnya endowment fund yang dikelola universitas secara profesional.

Sudah saatnya kampus-kampus besar Indonesia dikelola secara visioner. Alumni-alumni dan pemimpin-pemimpinnya perlu meminjamkan lebih banyak lagi reputasinya agar semakin banyak anak-anak bangsa yang cerdas bisa sekolah di kampus-kampus besar. Ini merupakan modal awal bagi kita untuk mengurangi gap kaya-miskin, memperbaiki koefisien gini, dan memenangkan Indonesia di dunia dengan ilmuwan-ilmuwan masa depan yang cemerlang.

Kalau hari ini kita masih mengenal  filsuf-filsuf besar seperti Aristoteles, Plato dan Socrates, maka saya perlu ingatkan Anda, itu semua berkat dana abadi pertama yang diperkenalkan Marcus Aurelius di Atena (176 AD) untuk mendukung sekolah-sekolah filsafat.

Lalu, pada tahun 1502, nenek  Henry VIII, Lady Margaret Beaufort, mengembangkan metode ini untuk mengangkat reputasi Universitas Oxford dan Cambridge.

Kita tahu, kedua kampus besar itulah yang kini menempati posisi terhormat rangking dunia bersama Harvard dan Yale.  Setelah itu tradisi serupa diikuti oleh Sir Isaac Newton (Lucasian Chair of Mathematics, 1669) bahkan juga Stephen Hawking.

Kampus-kampus Indonesia perlu mengembangkan University Fundraising Center dengan target yang tak kecil. Dan sumbernya, sekali lagi tidak boleh diambil dari uang kuliah mahasiswa atau APBN. Saya kira iniah ruang yang diberikan  UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi dan UU  tentang Keuangan Negara yang memberikan status PTN BH pada beberapa perguruan tinggi ternama. Artinya, di sana ada banyak keleluasaan mengembangkan dan mengelola dana-dana abadi.

Lantas seperti apa konsepnya?

Pertama, lembaga ini harus dikelola oleh tenaga-tenaga profesioanal, dengan tata kelola yang menjamin transparansi dan akuntabilitas. Kedua, aturannya harus dibuat jelas. Harus dipisahkan antara pemberi target dengan pelakasana dan pengawasnya.

Kedua, dana abadi dikepung bersama alumnus pada level fakultas dan universitas dengan sahabat-sahabat universitas. Semua kebutuhan dipetakan, dipastikan secara garis besar berapa sasaran yang akan dicapai. Kalau Harvard sudah memilki Rp.440 Trilyun, jelas kampus-kampus Indonesia tidak akan bisa menjadi kelas dunia kalau hanya bisa mengumpulkan satu-dua trilyun rupiah saja.

Ketiga, dana-dana itu dipakai untuk membiayai beasiswa seperti diamanatkan statuta (20 persen untuk mahasiswa berprestasi kalangan kurang mampu dan 20 persen lagi yang benar-benar kurang mampu).  Keempat, pokok dari dana itu hanya akan dipakai 4 – 5% saja, sambil terus dicairkan dana-dana abadi yang baru. Para pengusaha dan CEO bisa memberikan dalam bentuk property maupun dana abadi yang diserahkan sepenuhnya, atau dibatasi untuk berapa lama.

Kelima, para pemberi dana abadi perlu diberikan imbalan. Apakah berupa penamaan (seperti seperti misalnya pada tahun 2004 Guru Besar  Wharton, Dr. Andreas Buja mendapatkan nama baru: Liem Sioe Liong/ First Pasific Company Professor of Statistics, atau Nippon Life Professor of Finance, Dr. Allen Franklin). Atau imbalan lain berupa akses terhadap riset, dan cara -cara kreatif lain yang terhormat.  Penamaan harus didasarkan sebuah aturan yang jelas dengan pertimbangan-pertimbangan yang masak.

Tentu, masih banyak sumber-sumber dana lain yang bisa didapatkan melalui crowdfunding, kegiatan-kegiatan sponsorship, dan sebagainya. Tetapi yang jelas universitas perlu membuka mata tentang potensi besar yang tersedia di balik aturan-aturan baru PTN-BH dan pertumbuhan ekonomi Asia.

Indonesia bukan lagi negara miskin, kita anggota G-20 dengan makin banyak filantropi dan perusahaan besar yang beruntung.  Adalah ironi, masih banyak anak-anak pandai yang tak bisa kuliah di kampus bereputasi tinggi.

Kita perlu membuka mata, bahwa menargetkan diri menjadi World Class University mengundang konsekwensi perlunya dana-dana besar masuk ke dalam kampus. Ranking kelas dunia hanya bisa dicapai kalau kampus-kampus kita pandai menjaring dana-dana abadi, pandai mengelolanya, transparan, pandai melakukan investasi, dan mendatangkan pengajar-pengajar hebat seperti juga mahasiswa-mahasiswanya.

Dana abadi adalah “the guardians of the future againts the claims of the present. It is to preserve equity among generations" (James Tobin).


Prof Rhenald Kasali
adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain itu, pria bergelar Ph. D. dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Saat ini, dia juga maju sebagai kandidat Rektor Universitas Indonesia. Terakhir, buku yang ditulis berjudul "Self Driving": Merubah mental passengers menjadi drivers.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

KECERDASAN DALAM KECERDASAN (MATAKOGNISI)


Ekonomi / Inspirasi

Metakognisi Nenek Fatimah

Sabtu, 29 November 2014 | 16:20 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/29/162018526/Metakognisi.Nenek.Fatimah?utm_campaign=popread&utm_medium=bp&utm_source=bisniskeuangan
KOMPAS.COM/ANDRI DONNAL PUTERA Fatimah (90), hadir di Pengadilan Negeri Tangerang, Kamis (30/10/2014) untuk menghadiri sidang putusan atas sengketa tanah dengan menantu dan anaknya.
                                Rhenald Kasali
                               (@Rhenald_Kasali)



KOMPAS.com - KETIKA para elite sibuk membuktikan soal perkalian, Nenek Fatimah (dan juga politisi Senayan) justru kesulitan memecahkan ”soal bagi-bagian”.

Harta suami Nenek Fatimah (tanah 3.600 m2) sudah dijual, lalu dibagi-bagi untuk keempat anaknya. Sisa uang dipakai untuk membeli tanah dari menantu seluas 397 m2 dan ditempati bersama kedua anaknya. Ia tak habis pikir, di usia tuanya (90 tahun) dituntut anak dan menantunya senilai Rp 1 miliar dari tanah yang kini ditempatinya.

Sang mantu punya pandangan berbeda. Uang katanya belum diterima. Gugatan Rp 1 miliar pun diajukan. Tetapi, uang bukanlah tujuan, ujar sang mantu. Ia ingin pengakuan. Nenek renta pun diseret ke pengadilan. Pengacara menunjukkan dalilnya ada.

Di parlemen, hal serupa kita saksikan. Sebanyak 44 jabatan pada 11 komisi ditambah empat badan (Baleg, BURT, Banggar, dan Majelis Kehormatan) harus bisa dibagi dengan adil. Tetapi, orang-orang pandai itu gagal membagi. Ada apa sebenarnya di negeri ini? Kian terdidik, mengapa kian sulit berbagi? Tak banyak sarjana yang paham bahwa untuk menggunakan kecerdasan dibutuhkan kecerdasan juga.

Metakognisi lemah

Jika di atas langit ada langit, di atas kognisi juga ada kognisi. Itulah kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan (metakognisi), yang kalau dipakai dengan baik bisa melahirkan manusia-manusia bijak yang lidahnya lembut dan kacamatanya bening.

Secara matematika Anda benar 25 dibagi lima adalah lima. Tetapi, dalam kehidupan ada kebajikan, keadilan, empati sosial, rasa persatuan, kekeluargaan, hubungan jangka panjang, dan pertimbangan lain di samping nafsu angkara dan keserakahan. Tanpa metakognisi, orang yang kognisinya kuat jadi terlihat bodoh. Belas kasih, keadilan, rasa hormat, dan kebijaksanaan disingkirkan demi ”dalil kemenangan”.

Para penegak hukum dan wakil rakyat juga terperangkap dalam waham kognisi yang sangat kuat dengan dalil-dalil dan rumus kekuasaan. Padahal, hukum ditegakkan bukan untuk kebenaran logika dan siapa yang menguasai atau yang benar semata. Ia bukanlah sebuah simbolic game seperti matematika kognisi yang menyederhanakan representasi dan keberalasan. Hukum ditegakkan untuk membentuk keadilan, dan begitu kita gagal melakukannya, ia dapat membahayakan struktur bangunan demokrasi bak sebuah bendungan besar yang alih-alih memberi manfaat bagi pertanian, malah menyumbat arus perubahan sosial (Martin Luther King, Jr).

Nurhalim (menantu Fatimah) dan istrinya (Nurhana) mungkin saja benar dan tahu dalil hukum lebih baik dari ibunya yang buta huruf. Tetapi, ia tak cukup cerdas untuk menaklukkan kecerdasannya di tengah-tengah empati sosial yang menempatkan ibu sebagai sosok yang dihormati. Apalagi kita hidup dalam peradaban kamera yang serba terbuka.

Sama saja dengan para aktor politik yang berkuasa. Mereka yang memegang palu dan duduk di barisan pemimpin bisa menetapkan siapa saja yang boleh duduk di jabatan yang akan dibagikan. Tetapi, arogansi dan kebencian bukanlah sesuatu yang diinginkan pemberi suara.
Metakognisi dari bawah

Ada yang menyatakan kognisis tentang kognisi itu didapat para bijak bestari di usia lanjut. Saya menyatakan, metakognisi justru dibentuk sedari muda, dari kanak-kanak hingga remaja dan saat seseorang menggali ilmu di perguruan tinggi. Justru dengan menyaksikan si mulut-mulut besar bertengkar di panggung politik atau anak yang mengadili ibunya di ruang sidang pengadilan, kita bisa membaca seberapa baik mereka dididik di usia muda.

”Seberapa baik” itu berbeda dengan seberapa pintar menurut ukuran-ukuran yang ada di dalam rapor atau ijazah. Ia tak tecermin dalam nilai matematika, bahasa, sejarah, atau IPA kalau pendidikan tidak kita ubah. Ia juga tak didapat dengan memberi les Kumon kepada anak-anak secara intensif atau memenangi olimpiade-olimpiade sains.

Pendidikan itu bukan memisah-misahkan kognisi dengan non-kognisi sehingga menambah mata ajaran atau jumlah guru. Seharusnya, sambil berhitung, anak-anak mengingat aturan permainan. Sambil membuat work sheet keuangan, seorang calon akuntan diajak melihat pergulatan rakyat kecil mengais sampah. Dan sambil mendalami dalil-dalil hukum, seorang calon sarjana diajak berdialog dengan keluarga narapidana (apalagi salah sasaran) dan hartanya habis untuk membayar pengacara.

Di atas hukum ada keadilan, di atas kertas ada kebenaran, dan di atas ilmu pengetahuan ada kebijaksanaan. Para ilmuwan harus mulai terbiasa mengajarkan cara-cara berpikir di atas dalil-dalil kognisi untuk mencetak politisi-politisi berbudi luhur dan anak harimau yang tak menerkam ibunya sendiri di kala lapar.


ist Prof Rhenald Kasali

Prof Rhenald Kasali
adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Senin, 24 November 2014

BAHAN BAKAR KOTORAN MANUSIA


Bus Ini Beroperasi Menggunakan Bahan Bakar Kotoran Manusia

Penulis: Febri Ardani Saragih | Selasa, 25 November 2014 | 12:02
 WIB

Dibaca: 1642   Komentar: 2
|
Share:
Sumber : - | Author : GENeco
Pada 20 November 2014, rombongan penumpang pertama telah menaiki Bio-Bus perdana di Inggris berbahan bakar gas hasil olahan limbah dan sampah makanan dari kotoran manusia.

TERKAIT

Bristol, KompasOtomotif – Untuk ukuran kemajuan inovasi, berita yang satu ini mungkin sedikit menjijikkan tapi dampaknya baik untuk lingkungan. Pada 20 November lalu, rombongan penumpang pertama telah menaiki Bio-Bus pertama di Inggris berbahan bakar biomethane (gas) hasil olahan limbah dan sampah makanan dari kotoran manusia.
Sebagai percontohan, satu unit Bio-Bus akan dioperasikan oleh Bath Bus Company selama empat pekan untuk melayani masyarakat dari bandara Bristol ke kota sejarah, Bath.
Bath Bus mengatakan metode ini lebih ramah lingkungan, lebih “hijau” dari bus bermesin diesel. Dengan tangki berisi penuh, Bio-Bus berkapasitas 40 tempat duduk ini sanggup menempuh perjalanan sejauh 300 km.
Hingga sekarang hanya ada satu sumber bahan bakar optimal, yakni berasal dari pabrik limbah yang dioperasikan oleh GENeco, anak perusahaan Wessex Water. Pekan lalu GENeco menjadi perusahaan pertama di Inggris yang mulai menginjeksikan gas dari kotoran manusia ke jaringan gas nasional. Di saat yang bersamaan, fasilitas isi ulang bahan bakar Bio-Bus juga diinstal.
“Melalui olahan sampah dan makanan yang tidak layak untuk manusia kami dapat memproduksi cukup biomethane untuk menghasilkan suplai yang signifikan buat jaringan gas nasional yang mampu memberi tenaga pada 8.500 rumah, termasuk Bio-Bus,” kata GENeco General Manager Mohammed Saddiq, dalam keterangan resminya.
Metode ini merupakan praktek memanfaatkan sumber bahan bakar alternatif, salah satu cara menghilangkan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tidak tergantikan. Meski begitu, mengingat pemakaian bahan bakar kotoran manusia, belum ada keterangan soal bau yang dihasilkan.

Kamis, 13 November 2014

Info Kesehatan


NEWS & FEATURES / HEALTH CONCERN - ARTIKEL

Punya Faktor Risiko Ini, Lakukan Cek Gula Darah Berkala!

Jumat, 14 November 2014 | 08:08 WIB
 http://health.kompas.com/read/2014/11/14/080800623/Punya.Faktor.Risiko.Ini.Lakukan.Cek.Gula.Darah.Berkala.?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
 
Dibaca: 5
Komentar: 0
|
Share:

Shutterstock
Ilustrasi

KOMPAS.com -
Indonesia merupakan negara dengan populasi diabetes terbesar kelima di dunia, dengan jumlah penderita mencapai 9,1 juta jiwa. Sayangnya, hampir separuh penderita tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang oleh awam disebut kencing manis ini.

Tidak sadarnya seseorang bahwa ia memiliki penyakit diabetes melitus antara lain karena penyakit ini memang kerap tidak bergejala. Padahal, diabetes memiliki perjalanan penyakit yang lambat sehingga penyakit ini sebenarnya bisa dicegah.

Jika Anda memiliki faktor risiko diabetes berikut ini, lakukan pemeriksaan kadar gula darah secara berkala:

- Memiliki riwayat keturunan diabetes dalam keluarga. Jika orangtua menderita penyakit ini, maka risiko kita juga lebih besar.

- Berat badan berlebih atau lingkar perut besar. Untuk pria, ukuran lingkar perut yang normal adalah di bawah 90 cm, sedangkan untuk wanita tak boleh lebih dari 80 cm.

- Melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 4 kg atau saat hamil mengalami kenaikan gula darah.

Menurut Prof.Sidartawan Soegondo Sp.PD-KEMD, peningkatan jumlah pasien diabetes bisa ditekan dengan mengubah pola pikir masyarakat.

"Karena diabetes adalah penyakit yang tidak bergejala, maka perlu deteksi dini. Masyarakat juga harus mengubah mindset, kalau ada faktor risiko, segera cek kadar gula darahnya," katanya dalam acara Indonesia Diabetes Leadership Forum di Jakarta (13/11/14).

Mengetahui faktor risiko penyakit diabetes sangatlah penting karena akan membuat kita lebih waspada sehingga secara sadar mau mengubah pola hidupnya. Jika kadar gula darah puasa di atas 125 mg/dl maka Anda sudah termasuk prediabetes. Namun, kondisi ini masih bisa diperbaiki dengan mengubah gaya hidup sehingga tidak sampai berlanjut menjadi diabetes. 

Meski faktor keturunan bisa meningkatkan risiko diabetes, namun jika seseorang menjalankan gaya hidup sehat maka ia bisa terbebas dari penyakit ini. Gaya hidup sehat bukan hanya menjaga pola makan dan olahraga, tapi juga pola istirahat yang baik, serta menjauhi rokok.


News / Megapolitan

Gadis Tionghoa: Ahok Bodoh Kayak Naruto!

Kamis, 13 November 2014 | 15:14 WIB 
 http://megapolitan.kompas.com/read/2014/11/13/15145051/Gadis.Tionghoa.Ahok.Bodoh.Kayak.Naruto.
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza Plt Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Bandara Halim Perdanakusumah, Jakarta, Sabtu (8/11/2014).
Catatan Kaki Jodhi Yudono
Pagi tadi saya menyapa beberapa kawan melalui BlackBerry messenger. Hampir semuanya menjawab sehat, kecuali satu orang yang menjawab sedang galau.
Petzie, begitu biasa saya memanggilnya. Nama lengkapnya Petricia Yuvita, gadis keturunan Tionghoa berusia 26 dan berprofesi sebagai penulis lepas. Dia terlahir dari keluarga yang mapan, kuliah di universitas bergengsi di Jakarta, pernah jadi mayoret saat jadi siswa, kerap meluangkan waktu di kafe, dan sesekali memajang fotonya sehabis jalan-jalan ke luar negeri.
Pagi itu Petzie bilang, kegalauannya karena Ahok belum juga diangkat jadi gubernur. Maka mulailah kami memperbincangkan Plt Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang sedang menunggu pelantikan sebagai Gubernur resmi DKI Jakarta itu.
Dari perbincangan kami, terasa betul betapa Petzie kagum dengan keberanian Ahok. Ya, ya.. Ahok memang bukan yang pertama dan satu-satunya dari etnis Tionghoa yang memiliki keberanian menegakkan kebenaran. Jauh sebelum Ahok muncul, sudah ada Soe Hok Gie, Arief Budiman, Kwik Kian Gie, Alvin Lie, dan para pemberani lainnya. Tapi harus diakui, bahwa Ahok memang istimewa dibandingkan dengan lainnya. Dia bukan cuma pemberani, tapi dia juga seorang pejabat yang tegas menghadapi koleganya yang korup dan juga warganya yang menentang keberadaan dirinya sebagai seorang Tiong Hoa yang beragama minoritas.
Terakhir, dia mengaku bahwa dirinya adalah gubernur pertama yang berani menunjukkan sikapnya yang ingin membubarkan FPI. Ahok bukan cuma berani kepada FPI, tapi juga berani kepada siapa saja, termasuk menteri yang menurutnya berpikir tidak logis.
Lantaran keberaniannya itulah, menurut Petzie, pelantikannya jadi terhambat. Kata Petzie, ada kekuatan besar di balik FPI yang sengaja hendak menggagalkan pelantikan Ahok sebagai gubernur.
Namun..., meski Ahok berani, jujur, tegas, tapi mengapa Petzie menuduh lelaki kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966,  itu sebagai si bodoh yang kayak Naruto, tokoh dalam sebuah film animasi? Ikuti perbincangan saya dengan Petzie berikut ini.

Dok. Petricia Yuvita Petricia Yuvita
Saya: Selamat pagi Petzie
Petriciz Yuvita: Selamat pagi Pak Jodhi
Saya: apa kabar hari ini?
Petricia Yuvita: Hmmm...Bagaimana kabar hari ini Pak? Semoga sehat-sehat saja. Ada yang bisa saya bantu, Pak?
Saya: Ingin nyapa saja. Pagiku baik, gimana dengan pagimu?
Petricia Yuvita: Pagiku galau pak, kasian Ahok belum diresmiin jadi gubernur. Tapi saya juga
bangga karena Jokowi disorot APEC dan kebingungan karena Putin baik ke Ibu Negara China. Hahhahaha
Pagi ini saya cek facebook penuh dengan APEC pak hahahha.

Saya: Kabarnya Ahok mau dilantik tanggal 18 November ya? Emang apa harapanmu jika Ahok resmi jadi Gubernur?
Petricia Yuvita: Harapan saya siiii yahh dengan Ahok jadi gubernur, Jakarta bisa jadi jauh lebih tegas dan gak lenje-lenje lagi. Preman-preman dbasmi dan Jakarta bisa dijadikan kota beradab yang populasinya gak membludak dan membuat orang-orang lebih suka di pedesaan, sehingga desa bisa lebih maju. Jadi gak ada lagi yang namanya merantau ke Jakarta sehingga orang juga lebih nyaman di kota-kota mereka sendiri karena Jakarta itu keras bung! Hahahhaha.
Saya: Terus kalau Ahok dipersulit kayak sekarang, apa tanggapanmu?
Petricia Yuvita: Hmmm.... Tanggapan saya, pasti ada kekuatan besar di belakang FPI dan yang lainnya untuk menghambat Ahok. Bayangkan saja, apa anggota FPI tidak punya pekerjaan sampai demo seharian dan berturut-turut seperti itu? Demo ya demo tapi mereka terus-terusan loh, dont they have stomach to feed?
Saya: Kalo Ahok sampai gagal dilantik bagaimana?
Petricia Yuvita: Kalau sampai Ahok gagal dilantik, yah berakhir pula kepercayaan saya akan Indonesia yang lebih baik dan beradab. Kalau sampai gagal dilantik...mari pindah negara! Hahahhaha
Saya: Ciyuuus? Mau pindah ke mana?
Petricia Yuvita: Pindah ke Japan pak!! Tapi di pegunungan biar gak kena tsunami
Saya: Ikuuut
Petricia Yuwita: Kemon pak. Makan sushi bareng kita!
Kadang saya kesal sekali pak, apalagi kalau mendengar komentar2 seperti China pergi saja dari Indonesia, China gak pantas memimpin, murtad China dan laknat china dll. Mana bhineka tunggal ika?
Saya: Saat ini Ahok bagi etnis Tionghoa dipandang sebagai figur macam apa?
Petricia: Mungkin figur yang bodoh. Why? Karena Ahok adalah satu di antara sekian ribu orang etnis Tionghoa yang rela dicaci maki demi kelangsungan negara yang lebih baik, di saat etnis Tionghoa sudah putus asa dan merasa lebih baik tidak usah mencampuri negara karena sudah bobrok pula dan penuh koruptor.. lebih baik menjalani bisnis saja. Namun Ahok justru ngotot membangun Jakarta agar bisa bebas dari korupsi dan membuktikan bahwa dia memang bekerja untuk rakyat walau dicaci maki. Sehingga etnis Tionghoa pun yang tadinya pesimis akan Jakarta yang lebih baik dan yang tadinya memilih menutup mata, sekarang lebih optimis dan diam-diam membela ahok dan memujinya. Jadi saya akan bilang, figur Ahok itu seperti Naruto, si bodoh yg keyakinannya bisa mengubah dunia. Hahahha udah kayak komik aja ya pak?
Saya: Pembelaan macam apa yang kalian berikan untuk Ahok ketika dia ditekan seperti sekarang ini?
Petricia Yuvita: Mungkin bukan pembelaan ya, tapi support atau dukungan, moril dan doa.
Saya: Ada pembelaan yang riil ga?
Petricia Yuvita: Karena yg Ahok butuhkan bukanlah orang yang membela atau berani mati untuknya, namun orang yang akan mengingatnya dan meneruskan jejaknya ketika dia sudah tidak bisa bergerak lagi. Pembelaan riil, bukti konkrit ya pak? Seperti demo atau bukti tindakan gitu?
Saya: Iya, semacam itu.
Petzie lama menjawab, ada sekira sepuluh menit.
Saya: Jawab dong, lama banget...
Petricia Yuvita: Bentar pak, saya lagi make make up hihi. Bentar ya...
Saya biarkan beberapa saat. Kemudian...
Petricia Yuvita: Dari etnis Tionghoa yang saya liat yah, tidak akan ada atau mungkin untuk sekarang tidak ada tindakan yang seperti demo gitu si pak. Karena bukan sifat orang Tionghoa untuk melakukan hal seperti itu. Dari yang saya lihat sih, sampai nanti saatnya sudah muak sekali, baru akan ada demo besar. Apalagi dengan latar belakang 1998 yang notabene ras Tionghoa kan dibabat habis di saat itu. Sakit hati dari zaman itu sepertinya tidak pernah bisa hilang sepenuhnya. Jadi etnis Tionghoa tidak akan menggelar demo, kecuali pada saatnya nanti apabila sudah tidak ada jalan lain, mungkin baru ada penggelaran demo. Namun melihat ribetnya, menurut saya si kemungkinannya kecil yah,, karena orang Tionghoa lebih melihat diri mreka saja sudah bisa hidup aman dan nyaman saja sudah bagus, ngapain mencampuri urusan negara yang belum tentu opininya didengar
Saya: Selain Ahok, kenal tokoh tionghoa yg segila Ahok ga?
Petricia Yuvita: Well yang segila Ahok si belum denger ya pak, Tapi bibit-bibit Ahok si ada, cuma gak segila ahok untuk bisa jadi gubernur. Kebanyakan baru memulai menjadi DPRD namun berguguran karena kurang dana atau ditolak masyarakat.
Saya: Menurutmu, mengapa Ahok diterima oleh mereka yg bukan keturunan Tionghoa?
Petricia Yuvita: Hmmm karena beliau berani mendobrak kebiasaan dan tata cara yg sudah ada di indonesia slama ini. Seperti, pemimpin harus Islam, pemimpin harus bisa menjaga hubungan dengan mayoritas dan minoritas, pemimpin harus berjilbab atau memakai peci dll. Ahok berani melewati semua itu dan bekerja keras demi membangun kota yang ia pimpin. Walau kita tidak tahu bagaimana Ahok bertahan dengan maraknya kasus korupsi dan pastinya godaan banyak. Ahok bisa mengedepankan pekerjaan yg dulu ditakuti oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan melawan FPI, sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam sejarah.
Ahok juga berani menantang mereka untuk bekerja dan melakukan tugasnya secara baik dan total. Dan saya yakin serta tahu, apabila semua masyarakat (tidak tergolong agama dan ras), melihat kerja keras seperti itu, dan dengan ketegasan yang dibutuhkan, akan mendukung beliau. Karena yang beliau ingin lakukan hanyalah memajukan kota, terlepas dari bagaimana caranya dan apakah caranya dterima atau tidak, Ahok mampu membuktikan bahwa dia tidak hanya bicara dan bicara namun memang bekerja secara tegas dan lugas. Dan menurut saya justru pemimpin keras itulah yang diperlukan Jakarta karena jakarta itu keras, bung!=)) Come on man, let the guy do his work! Pemimpin apapun, beragama apapun, percuma kalau ujung-ujungnya korupsi dan mementingkan kepentingan pribadi saja..
Saya: Banyak orang yang menyayangi Ahok, dan mungkin rela mati buat Ahok jika dia diperlakukan tidak adil, bagaimana denganmu?
Petricia Yuvita: Hmmm. Saya sayang pak sama ahok. Namun untuk rela mati..hmmmm, akan lebih baik dan bijak apabila kita membela dan melakukan yang terbaik untuk Ahok dan benar-benar bertindak daripada hanya berbicara kan? Karena rela mati untuk seseorang itu sesuatu yang tidak sembarangan. Saya relamati untuk orang tua saya dan orang yang saya sayang
Saya: Iya, itu kan cuma ibarat. Karena membela kebenaran juga sesuatu yang mulia di hadapan Tuhan, bukan?
Petricia Yuvita: Yahhh kalau dibilang si, saya rela pak membela mati-matian Pak Ahok. Tapi tidak sampai saya meregang nyawa hihi...
Saya: Iya iya, rela pingsan aja deh kalo begitu
Petricia Yuvita:
Hahahhaha. Rela aku relaaa paaak hihi
Saya: Omong-omong, efek Ahok di kalangan muda Tionghoa seperti apa?
Petricia Yuvita: Efek ahok itu besar pak di kalangan muda. Dulu, etnis Tionghoa muda tidak percaya akan adanya pemerintahan yang adil dan memajukan rakyat...
Saya: Sekarang...
Petricia Yuvita: Nah sekarang jadi lebih percaya akan adanya perubahan. Dan kita lebih menyamakan jejak dengan beliau akan jakarta yang lebih baik. Sekarang juga lebih berani berapresiasi ke publik dan terbuka menilai Ahok dan kinerjanya. Bahkan beberapa orang berani membuat akun dan mendukung serta mengupdate tentang perubahan yang diberikan Ahok. Namun masih sebatas di sosial media.
Banyak juga anak-anak muda yang bangga karena salah seorang dari mereka berani mengubah Jakarta dan bekerja untuk rakyat, bukan untuk menggendutkan diri. Tidak jarang kawan-kawan muda itu mencibir dan menghina orang-orang yang menjegal Ahok. Bahkan adik saya, sempat bertemu langsung dan melihat Ahok dengan pekerjaannya. Dia bertanya ke wartawan, bagaimana rasanya mengikuti Ahok ke mana-mana.Sungguh membuat bangga dan kagum, begitu yang saya simpulkan dari pertemuan adik saya yang masih kuliah itu di kantor Pak Ahok.
Saya: Terus apa yang kawan-kawan kerjakan secara nyata sebagai ungkapan dukungan nyata kepada Ahok. Misalnya dalam kegiatan sosial ata apa gitu?
Petricia Yuvita: Nah, kalau kegiatan, saya pingin bilang aksi tsu chi di dalam membantu membersihkan Monas. Karen biasanya kehiatan chinese gitu kan tidak begitu diterima, jadi kurang terekspos. Kita juga punya kegiatan sosial membantu fakir miskin, membantu sosialisasi normalisasi di bantaran sungai agar warga yang berdomisli di sana mau pindah ke tempat yang sudah disediakan Pemda.
Saya: Sekarang kalian punya kepercayaan diri dong untuk masuk ke bidang pekerjaan pemerintahan?
Petricia Yuvita: Sebelum Ahok resmi jd gubernur saya rasa belum terlalu percaya diri si pak. Lagi pula untuk masuk d bidang pekerjaan pemerintahan sebenarnya saya udah pernah, magang di bagian kementerian luar negeri, Waktu saya kuliah.. hehehe. Kita udah berani kok, namun untuk terjun secara besar seperti DPRD atau bidang kementerian atau gubernur mungkin belum sepercaya diri itu. Sekarang
baru bisa ikut andil dalam membantu supporting bagi pemerintahan yang baik dan tanpa korupsi.
Saya: Punya pesan atau harapan buat Pak Ahok?
Petricia Yuvita: Hmmm harapan saya, supaya Pak Ahok terus tegar dan berani bersih dari korupsi. Buktikan bahwa anda memang bisa bekerja melayani rakyat. Jangan pernah lelah membela yang benar dan membuktikan bahwa anda benar. Jangan takut, rakyat bisa melihat, rakyat tidak bodoh dan bisa berpikir siapa yang benar dan siapa yang salah. Lakukan tugas anda dan percayalah, akan ada Ahok-ahok selanjutnya yang akan tumbuh karena kami semua sayang Indonesia dan muak dengan koruptor yang hanya bisa membuncitkan perut. Maju terus Pak Ahok, rakyat mendukung anda dan kiranya Tuhan memberkati.
Saya: Kepingin segera menikmati kehidupan yang lebih baik ya?
Petricia Yuwita: Sudah capek yah pak kita hidup di dalam lingkup korupsi dan yang membobrokkan negara.. Sudah cukup kita dirampok sana sini. Punya beribu pulau tapi pulau-pulaunya ternyata tidak bisa kita rawat. Punya macam-macam pohon, hutan, tapi dibakar terus menerus.
Bagaiamana kita bisa memiliki kehidupan yang lebih baik sementara kita tidak mau dididik untuk jadi lebih beradab? Sekarang kita sudah punya presiden dan calon gubernur yang siap mendidik kita menjadi taat hukum dan taat pada pemerintahan yang bersih, namun masih saja kelimpok-kelompok yang tidak mau, tidak mendukung, bahkan sampe balik-balikin meja lah, bikin DPR tandingan lah, bikin KMP (Koalisi Merah Putih) Jakarta tandingan lah, ngambek lah, demo lah, gmana mau maju...? Sekalian ajah Indonesia dibagi-dibagi...
Saya: Hehehe... Makasih Petzie, untuk obrolannya.
Petricia Yuvita: Pusing yak pak? Makasih juga pak
@JodhiY


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Jodhi Yudono

Minggu, 02 November 2014

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti


Ekonomi / Inspirasi

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

 

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti

Senin, 3 November 2014 | 05:45 WIB
ist Prof Rhenald Kasali
                                   Rhenald Kasali                              (@Rhenald_Kasali)

KOMPAS.com - Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Tetapi pada Susi Pujiastuti, yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat. Tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Moeryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun.  Namun berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jeans, dia selalu berkebaya. Dan Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?


KOMPAS/AGUS SUSANTO Mooryati Soedibyo, pengusaha jamu dan kosmetika tradisional

Tetapi ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan “bersaing” dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Tetapi rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: “Pukul 8 malam kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai dan tak boleh asal jadi.”

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada Stereotyping dalam kepala sebagian orang, sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar Doktor HC (Honoris Causa) yang jalurnya cukup ringan.

Tetapi Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni  (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas duniia. Belakangan ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram yang lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia “diluluskan” dengan bantuan, “sekolahnya hanya dua tahun” dan seterusnya. Dan anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tetapi ada satu hal yang mereka sulit menyangkal. Perempuan yang meraih doktor di usia 79 tahun ini, berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu. Bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak.  Namun bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Ini juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S2 UI, banyak juga yang bertanya: Apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: “no bargain on process and quality."

KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI Model dan artis peran Dian Sastrowardoyo

Dian, sudah artis, saat mulai kuliah sedang hamil pula. Urusannya banyak: keluarga, film dan seabrek tugas. Tetapi lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lainnya: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S1 pada kelas yang saya asuh.

“Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan, kalau kamu tidak outstanding,” ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. “Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa,” ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. "Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya ," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S2 UI, dari ilmu keuangan pula yang sarat matematikanya. Padahal bidang studi S1-nya amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena “sekolahnya”. Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah “self driver” sejati, yang bukan putus sekolah melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

SABRINA ASRIL/KOMPAS.com Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti

Tetapi berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi “passenger”, ayah Susi justru marah besar. Di usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, Ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, di lelang di Jakarta. Itu dijalaninya bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" ke luar negeri tiga orang satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Dan saya menurutinya (Kisah mereka bisa di baca dalam buku: 30 Paspor di Kelas sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk beluk logistik  ikan, menjadi eksportir, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk  hidup yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan jadilah bisnis carter pesawat yang dibawahnya ada storage untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya di bangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Tetapi tanpa kemampuan nonkognisi semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi meta kognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia dan praktisi-praktisi handal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu”, adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan kebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekedar mampu mendengar, tapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah dan stereotyping. Tetapi saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.


Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Selain itu, pria bergelar Ph. D. dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Saat ini, dia juga maju sebagai kandidat Rektor Universitas Indonesia. Terakhir, buku yang ditulis berjudul "Self Driving": Merubah mental passengers menjadi drivers.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko