Senin, 29 Desember 2014

Keluar dari Zona Nyaman



Ekonomi / Inspirasi

Keluar dari Zona Nyaman

Senin, 29 Desember 2014 | 05:49 WIB 
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/12/29/054944326/Keluar.dari.Zona.Nyaman?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp
ist Prof Rhenald Kasali


                             Prof Rhenald Kasali
                                 @Rhenald_Kasali

Mungkin inilah yang tidak banyak dimiliki SDM kita: kemampuan untuk keluar dari zona nyaman. Tanpa keterampilan itu, perusahaan-perusahaan Indonesia akan “stuck in the middle,” birokrasi kita sulit “diajak berdansa” menjelajahi dunia baru yang penuh perubahan, dan kaum muda sulit memimpin pembaharuan.

Tidak hanya itu, orang-orang tua juga kesulitan mendidik anak-anaknya agar tabah menghadapi kesulitan. Dengan memberikan pendidikan formal yang cukup atau kehidupan yang nyaman tak berarti mereka menjadi manusia yang terlatih menghadapi perubahan. Apa artinya bergelar S2 kalau penakut, jaringannya terbatas, “lembek”, cepat menyerah dan gemar menyangkal.

Tetapi maaf, ketidakmampuan keluar dari zona nyaman ini bukanlah monopoli kaum muda. Orang-orang tua yang hidupnya mapan dan merasa sudah pandai pun terperangkap di sana. Seperti apakah gejala-gejalanya?

“Saya Pikir…”

“Saya pikir hidup yang nyaman, terlindungi, tercukupi adalah hidup yang aman”, begitu pemikiran banyak orang.

Kita berpikir, apa-apa yang kita kerjakan dan membuat kita mahir sehari-hari sudah final. Dengan cara seperti itu maka kita akan melakukan hal yang sama berulang-ulang sepanjang hari, melewati jalan atau cara-cara yang sama sepanjang tahun.

Padahal segala sesuatu selalu berubah. Ilmu pengetahuan baru selalu bermunculan dan saling menghancurkan. Teknologi baru berdatangan menuntut ketrampilan baru. Demikian juga peraturan dan undang-undang. Pemimpin dan generasi baru juga mengubah kebiasaan dan cara pandang. Ketika satu elemen berubah, semua kebiasaan, struktur, pola, budaya kerja dan cara pengambilan keputusan ikut berubah. Ilmu, keterampilan dan kebiasaan kita pun menjadi cepat usang.

Jalan-jalan yang nyaman kita lewati juga cepat berubah menjadi amat crowded dan macet, sementara selalu saja ada jalan-jalan baru.

Orang-orang yang terperangkap dalam zona nyaman biasanya takut mencari jalan, tersasar atau tersesat di jalan buntu. Padahal solusinya mudah sekali: putar arah saja, bedakan a dead end dengan detour.

Kalau bisa dikoreksi, mengapa konsep yang bagus dan sudah besar sunk cost-nya harus diberangus dan dikutuk habis-habisan? Bukankah kita bisa mengoreksi bagian-bagian yang salah? Orang-orang yang tak terbiasa keluar-masuk dari zona nyaman punya kecenderungan mengutuk jalan buntu karena ia merasa tersesat di sana. Ilmuwan saja, kalau kurang up to date sering melakukan hal itu, padahal orang biasa yang terlatih keluar dari zona nyaman bisa melihat jalan keluar.

Ada rangkaian sirkuit dalam otak kita yang membentuk jalur tetap, sehingga program diri dikuasa autopilot. Akibatnya, tanpa berpikir pun kita akan sampai di tempat tujuan yang sama dengan yang kemarin kita tempuh. Dan ketika kita keluar dari jalur itu, ada semacam inersia yang menarik kita kembali pada jalur yang sudah kita kenal.

Kata orang bijak, keajaiban jarang terjadi pada mereka yang tak pernah keluar dari "selimut rasa nyamannya." Keajaiban itu hanya ada di luar zona nyaman yang kita sebut sebagai zona berbahaya (a danger zone). Zona berbahaya ini seringkali juga dinamakan sebagai zona kepanikan (panic zone). Tetapi untuk menghindari kepanikan, para penjelajah kehidupan telah menunjukkan adanya zona antara, yaitu zona belajar (learning zone atau challenge zone).

Karena itulah, belajar tak boleh ada tamatnya. Sekolah pada lembaga formal bisa menyesatkan kalau beranggapan selesai begitu gelar dan ijazah didapat. Apalagi bila kemudian memunculkan sikap arogansi "saya sudah tahu" atau "mahatahu" tentang sesuatu hal.

Saya sering membaca tulisan para ilmuwan yang memberikan tekanan pada ijazahnya (yang memberi gelar) saat menggugat sebuah pendapat atau konsep. Tentang hal ini saya hanya bergumam, mereka kurang terbuka, kurang mampu melihat perspektif, tak kurang mau belajar lagi. Learning itu gabungan dari relearn dan unlearn. Orang yang terbelenggu dalam zona nyaman kesulitan untuk belajar lagi dan membuang pandangan-pandangan lamanya. Ia menjadi amat resisten dan keras kepala.

Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur.

Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran.

Jadi bagaimana gejala orang yang kesulitan “keluar-masuk” zona nyaman? Saya kira Anda sudah bisa melakukan introspeksi.

Hidup itu memang terdiri dari proses keluar-masuk. Kalau sudah nyaman, ingatlah jalan ini akan crowded dan kelak menjadi kurang nyaman. Jangankan melewati jalan raya, karier kita pun akan menjadi usang kalau tak berubah haluan memperbaharui diri. Perusahaan lebih senang mendapatkan kaum muda yang masih bisa dibentuk ketimbang kita yang lebih tua tapi sudah tak mau belajar lagi, keras kepala pula.

Kalau kita berani melewati jalan tak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi. Seorang climber, kata Paul Stoltz terus mencari tantangan baru. Ia bukanlah a quiter atau a camper.

Siapa yang tak ingin hidup mapan dan nyaman? Kita bekerja keras untuk meraih kenyamanan dan ketenangan hidup, tetapi para ahli mengingatkan itu semua hanyalah ilusi. Dalam zona nyaman tak ada kenyamanan, tak ada mukjizat selain mereka yang berani keluar dari selimut tidurnya.

Bagaimana Melatihnya?

Saya ingin mengatakan pada Anda, jangan terburu-buru mengatakan bahwa manusia dewasa tak bisa berubah. Pengalaman saya menemukan banyak orang dewasa yang bisa berubah. Yang tidak bisa berubah itu adalah manusia yang sudah final.

Manusia yang sudah final itu biasanya pikirannya kaku seperti orang mati dan merasa paling tahu. Tentang manusia yang arogan ini bukanlah tugas manusia untuk mengubahnya, biarkan saja Tuhan yang memberikan solusinya. Hanya lewat ujian beratlah mukjizat itu baru terjadi pada mereka.

Di Rumah Perubahan, kami biasa mendampingi dan memberikan pelatihan untuk keluar dari zona nyaman ini. Biasanya setelah dilatih mereka malah justru menjadi pembaharu yang progresif. Bahkan mereka menjadi teman para CEO yang sedang memimpin transformasi untuk menghadapi para pemimpin pemberontakan yang resisten terhadap perubahan, atau orang-orang arogan dan miskin perspektif, termasuk para senior yang sudah final karena gelarnya sudah panjang.

Lain kali saya akan jelaskan apa yang harus dilakukan orangtua dan guru untuk melatih anak-anaknya keluar dari zona nyaman.

Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Bambang Priyo Jatmiko

Ada 3 komentar untuk artikel ini

3 komentator

Minggu, 28 Desember 2014

Catatan Sang Professor


Catatan Sang Professor : Segala Sesuatu yang Terjadi Saat Ini adalah Demi Kebaikan Kelak

adnreas lako
facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail
Oleh: Prof. Andreas Lako
(Tulisan ini disiapkan untuk penulisan autobiografi saya dan utk Hari Ibu 22 Desember)
Setelah ayahku meninggal pada November 1973, yaitu ketika saya masih berusia 7 tahun, saya sering berkeluh kesah kepada ibuku:
Mama, kenapa Tuhan memanggil bapakku begitu cepat ketika kami masih kecil? Apa salah ayah? Bukankah ayah itu begitu baik kepada banyak orang, mengajarkan agama dari kampung ke kampung, dan suka mendamaikan keluarga-keluarga yang bertengkar? Kenapa Tuhan itu tidak baik dan membuat hidup kita sengsara?
Mendengar pertanyaan dan keluhan saya yang sering muncul berulang kali, ibuku selalu mengatakan sebagai berikut:
Bapakmu itu adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tuhan memanggil duluan ayahmu pasti untuk tujuan yang lebih baik nanti. Itu rahasia Tuhan yang kita tidak tahu saat ini. Mungkin saja ayahmu itu ada dosa kepada Tuhan, tapi mungkin juga tidak. Tapi Tuhan memanggil duluan ayahmu itu pasti untuk kebaikan buat ayahmu, buat kita dan buat kalian kelak. Dengan meninggalnya ayahmu, kamu dan kakak-kakakmu harus semakin rukun, rajin bekerja, baik dengan sesama, dan rajin berdoa. Kalau kalian rukun, rajin bekerja dan terus berdoa, ayahmu dari surga akan bahagia. Tuhan pasti akan memberkati kalian.
Kata-kata ibuku itu terus terngiang-ngiang dibenakku hingga saat ini. Saya baru menyadari kebenaran dari kata-kata bijak ibuku itu setelah 40 tahun kemudian. “Everything happends for a good reasons”
Berjualan Permen
Pasca meninggalnya ayahku, keinginanku untuk sekolah hilang. Selama dua tahun, saya mendampingi ibuku tinggal di kebun (ladang) agar bisa membantu beliau mencari kayu bakar, mengambil air minum dari sungai, mengerjakan kebun, dan sekali-kali membantu menjual pisang atau buah-buahan di pasar kota Bajawa yang jauhnya sekitar 7 km dgn jalan kaki.
Di kota Bajawa, saya melihat anak-anak seusia saya sudah masuk SD dan mereka tampaknya bahagia. Maka pada tahun 1975, di usia menginjak 9 tahun, saya meminta ibuku agar saya masuk SD dan beliau mengijinkan. Betapa senangnya saya bisa sekolah, bisa mulai belajar menulis dan membaca. Karena senang bisa sekolah, maka sejak SD kelas 1 hingga kelas 4 saya selalu belajar tekun dan menjadi yang terbaik di kelas.
Ketika di kelas 4, saat sering jualan sayur dan buah-buahan di pasar Bajawa agar bisa membantu Ibuku membayar uang sekolahku dan kebutuhan lainnya, saya sering berpapasan dengan anak-anak SMP. Saya melihat mereka tampak seperti anak-anak pintar. Mereka tampak bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Saya mulai berkeinginan agar bisa melanjutkan sekolah ke SMP. Saya ingin bisa belajar bahasa Inggris dan lulus SMP.
Ketika keinginan itu saya sampaikan ke ibuku, ibuku hanya tertunduk lesu dan meneteskan air mata. Namun kemudian berkata:
Anakku, darimana biayanya? Kakak-kakakmu tak bisa sekolah karena kita tidak punya uang. Kita ini orang miskin. Saya juga tidak bisa jual tanah warian karena tanah yg kita garap ini adalah milik keluarga besar. Tanah-tanah ini juga untuk tiga kakak perempuanmu.
Kata-kata ibuku itu semakin menguatkaan saya untuk bisa sekolah hingga SMP. Sejak tahun 1978, saya mulai berjualan permen/gula-gula setiap hari di sekolah. Setiap hari minggu, sehabis ibadat/misa saya juga berjualan permen/manisan di depan halaman gereja.
Dengan modal awal Rp 500 hasil dari berjualan kayu bakar dan arang, ternyata dagangan saya laris manis. Pada minggu pertama, saya berhasil meraih keuntungan sebesar Rp 750. Hasil keuntungan itu lalu saya jadikan modal. Hanya dalam sebulan keuntungan berdagang permen telah mencapai Rp 5.000. Uang itu lalu ditabung di Bank BRI Bajawa. Begitu bangganya saya bisa memiliki tabungan.
Hingga kelas 6, saya semakin rajin berjualan permen. Setiap ada event olahraga atau lainnya di daerah saya, saya pasti selalu hadir berjualan tanpa rasa malu atau minder. Karena itu, hampir semua orang di daerah saya mengenal saya sebagai “penjual isi bombo” (red: permen) hingga kini. Apalagi ketika itu saya juga aktif di sekolah sebagai Ketua Osis dan aktif di gereja sebagai misdinar atau pelayan pastor saat perayaan misa. Setiap ada kuis saat pastor berkotbah, saya juga selalu menjawab dan benar. Tampaknya, semua aktivitas itu juga membuat dagangan saya tambah laris. Hingga lulus SD tahun 1981, tabungan hasil dagangan saya sudah mencapai sekitar Rp 134.500.
Dengan uang sebanyak itu, saya makin mantap melanjutkan ke SMP di Kota Bajawa, kota impian saya. Saya meyakinkan kepada ibuku dan beberapa kakakku bahwa dgn tabunganku, saya bisa sekolah ke SMP karena uang sekolah per tahunnya hanya Rp 13.500. Untuk menghemat biaya hidup, saya berjanji akan berangkat ke sekolah dan pulang ke kampung setiap hari dengan jalan kaki. Padahal, jaraknya 7 km sehingga tiap hari menempuh perjalanan 14 km.
Berkat kesungguhan dan ketekunan itu, beberapa kakakku mulai mendukung dan bahu membahu agar saya bisa sekolah dengan baik. Pada saat kelas III SMP, saya minta indekos di Kota Bajawa agar bisa belajar dengan fokus. Karena saya termasuk siswa berprestasi di kelas dan juara umum saat kelas 3, banyak guru juga mulai mendorong saya agar melanjutkan ke Seminari atau SMA favorit.
Tawaran itu saya terima. Kebetulan uang tabunganku di BRI masih utuh karena biaya selama SMP dan uang buku (saya royal dalam membeli buku) ditanggung oleh kakak dari hasil tenunan kain ikat dan hasil jualan kopi, serta hasil kebun lainnya.
Selain itu, saat masih SD dan SMP kelas 1 dan 2, setiap liburan saya selalu mengisinya dengan menanam pisang, kopi dan kayu putih di kebun. Tanaman-tanaman2 itu ternyata mulai membuahkan hasil dan digunakan oleh kakak-kakakku untuk mendukung sekolah saya ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi, saya mulai menaikkan cita-cita saya dari yang semula hanya cukup bisa lulus SMP, menjadi bisa lulus SMA. Ini membuat saya menghayal jauh.
Merupakan Karya Allah
Dimana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Tuhan pasti menyertai dan memberkati hambaNya yang memiliki mimpi-mimpi besar dan harapan kuat, tekun dalam berdoa dan beriman, serta rajin bekerja keras.
Kata-kata bijak tersebut sangat saya rasakan. Tuhan selalu membukakan saya pintu kehidupan atau jalan menuju tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi. Tuhan menuntun, menolong dan berkarya untuk saya melalui saudara-saudaraku dan banyak orang agar saya bisa menaiki tangga-tangga kehidupan yang lebih tinggi.
Berkat ketekunan dalam bekerja, belajar, berdoa dan berbuat baik kepada orang lain, Tuhan melalui tangan dan karya banyak orang telah menghantarkan saya bisa menyelesaikan pendidikan SMA, S1 hingga S3 dan bahkan bisa meraih gelar profesor.
Bahkan, gelar profesor yang diberikan Tuhan kepada saya juga penuh misteri iman. Gelar itu adalah hadiah Allah setelah saya diberi ujian berat.
Setelah saya dan istri “dihajar habis-habisan” dengan dikaruniai anak yang difabel sehingga membuat saya tertekan secara ekonomi dan harus bisa menulis artikel apapun agar bisa mendapatkan penghasilan tambahan untuk biaya pengobatan anakku, ternyata hal itu juga merupakan cara unik Tuhan yang luar biasa untuk menghantarkan saya meraih gelar tertinggi akademik. Seandainya Tuhan tidak mengarunia saya anak yang punya “kelebihan khusus” sangat mungkin saya tak bisa mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.
Setelah mencapai level tertinggi dalam pendidikan yang jauh melampaui cita-cita awal yaitu bisa lulus SMP, saya baru teringat kembali kata-kata bijak alm. Ibu saya 40 tahun lalu pasca meninggalnya ayahku:
Tuhan itu maha baik. Segala sesuatu yang terjadi saat ini adalah demi kebaikan kelak.
Saya baru paham kebenaran dari nasihat Ibuku itu saat ini. Tuhan itu memang maha baik. Seandainya Tuhan tidak memanggil ayahku duluan, saya sangat mungkin tak akan mencapai level kehidupan seperti sekarang ini.
Mama, terima kasih kasih atas kelemahlembutan dan didikanmu. Semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi bersama Bapa di Surga.
Kepada para sahabatku, saya mengucapkan Selamat Hari Ibu 22 Desember 2014.

Semarang, 21 Desember 2014

Catatan Redaksi : Tulisan ini diposting di Koepang.Com atas ijin Prof. Andreas Lako.
(Visited 35 time, 4 visit today)