Sabtu, 14 Februari 2015

Psst... Jadi Orang Jangan Sembarang Bicara

Psst... Jadi Orang Jangan Sembarang Bicara
Minggu, 15 Februari 2015 | 11:00 WIB
Diakses  dari:
 http://female.kompas.com/read/2015/02/15/110000820/Psst.Jadi.Orang.Jangan.Sembarang.Bicara?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
 

Dibaca: 1726

|
Share:
SHUTTERSTOCK ilustrasi
KOMPAS.com – Ungkapan yang mengatakan bahwa mulutmu adalah harimaumu, bukanlah sekadar kalimat yang terangkai tanpa arti. Pasalnya, pada kehidupan nyata, banyak hubungan antarmanusia yang retak dan putus di tengah jalan dikarenakan kata-kata yang tidak layak untuk diucapkan.
Menurut Andrew Newbert, M.D dan Mark Robert Waldman, pada buku bertajuk Words Can Change Your Brain, kata-kata memang bisa cara bekerja otak dan memengaruhi suasana hati seseorang.
Lebih lanjut, dalam buku tersebut di atas, dijelaskan bahwa sebuah kata memiliki kekuatan besar untuk memengaruhi gen yang mengatur rasa bahagia dan stres. Sering mendengar kata-kata yang bermakna positif dapat mendorong otak untuk melakukan hal-hal baik. Alhasil, kadar stres bisa menurun hingga 30 persen.
Sebaliknya, seseorang yang sering mendengar kata-kata negatif dan kasar, maka perilakunya di lingkungan sekitar menjadi kurang baik dan selalu memberikan kesan bermusuhan. Orang-orang yang seperti ini lebih mudah terpapar stres, depresi, dan pada kasus terparah menyebabkan bunuh diri.
“Kata-kata positif membuat otak bagian depan yang memuat fungsi kognitif bekerja lebih baik. Jika otak bagian ini bekerja aktif, membuat Anda untuk selalu mengingat hal-hal baik sehingga perilaku Anda pun mencerminkan hal serupa,” ujar Newbert.
“Lalu, kata-kata negatif bisa menyebabkan gangguan pada neurochemicals. Nah, neurochemicals merupakan bagian otak yang meredam produksi gen stres dan sebagainya,” ujar Waldman.
Kemudian, kata Waldman, kata-kata negatif juga penyebab orang menjadi tidak percaya diri. Selain itu, mereka juga meragukan kemampuan diri sendiri dan selalu penuh curiga pada orang lain. Terakhir, kedua penulis menyarankan agar kita semua membiasakan diri untuk mendengar kata-kata positif di pagi hagi.
Sebab, kebiasaan tersebut dapat membuat perbaikan pada semangat kerja dan kinerja kita sehari-hari di kantor.

Penulis :
Kontributor Female, Agustina
Editor :
Syafrina Syaaf

Rabu, 04 Februari 2015

DEPRESI? INI TANDA_TANDANYA



Retha Arjadi, M.Psi


Seorang psikolog klinis yang memiliki minat utama pada topik depresi dan penanganannya. Sejak 2012 sampai sekarang menjadi psikolog mitra resmi dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia. Saat ini sedang melanjutkan pendidikan ke jenjang S3 pada psikologi klinis di University of Groningen, Belanda.

Apakah Saya Depresi? Kenali Tanda-tandanya

Penulis : Retha Arjadi, M.Psi | Kamis, 5 Februari 2015 | 10:03 WIB
 http://health.kompas.com/read/2015/02/05/100320523/Apakah.Saya.Depresi.Kenali.Tanda-tandanya?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
Dibaca: 1510
Komentar: 0
|
Share:

SHUTTERSTOCK
Ilustrasi

Memahami tentang kesehatan mental seringkali disebut tidak semudah memahami masalah kesehatan fisik, karena ciri yang tidak kasat mata, seperti bekas luka atau tekanan darah tinggi yang bisa menjadi penanda suatu penyakit pada pemeriksaan kesehatan fisik.  Depresi, misalnya, terkadang tidak disadari kemunculannya, bahkan oleh orang yang mengalami, karena orang tidak mengenali ciri-ciri depresi yang dialaminya.

Depresi dapat diartikan sebagai sebuah kondisi gangguan psikologis dengan ciri adanya perasaan sedih atau kekosongan mendalam. Orang yang depresi biasanya merasa bahwa mereka seolah masuk ke dalam lubang yang dalam, gelap, dan sulit untuk keluar dari sana.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-V (DSM-V), diagnosis depresi dapat diberikan (hanya melalui pemeriksaan oleh profesional, seperti psikolog/ psikiater!) jika terjadi kemunculan atas setidaknya 5 gejala dari set gejala berikut selama dua minggu berturut-turut:

- Merasa tertekan (sedih, kosong)
- Kehilangan minat beraktivitas
- Nafsu makan/ berat badan terganggu
- Masalah tidur
- Gangguan psikomotorik
- Merasa lelah atau tidak berenergi
- Merasa tidak berharga/ bersalah
- Sulit berpikir/ konsentrasi/ mengambil keputusan
- Berpikir tentang kematian atau mencoba bunuh diri.

Kemunculan gejala-gejala tersebut biasanya mengganggu fungsi harian dan menurunkan produktivitas orang yang mengalaminya. Keparahan tingkat depresi dapat ditentukan oleh jumlah gejala yang muncul dan intensitasnya.

Penelitian mengenai depresi menunjukkan bahwa setiap orang dapat mengalami depresi pada setidaknya satu masa dalam hidupnya. Pada dasarnya, depresi dapat muncul sebagai manifestasi dari perasaan tertekan mendalam yang dialami seseorang, karena masalah-masalah sehari-hari, perasaan kesepian, dan alasan-alasan lain yang sangat manusiawi. Jadi, mengalami depresi adalah hal yang wajar, bukan sesuatu yang aneh, apalagi memalukan.

Bisa dikendalikan

Kabar baiknya, jika dapat dikenali dan ditangani dengan semestinya, depresi dapat dikendalikan sehingga tidak akan mematikan fungsi keseharian orang yang mengalaminya. Mudahnya, coba bayangkan seseorang yang mengalami flu. Ia sadar bahwa ia flu karena ia beringus dan tenggorokannya sakit. Ia pun mencoba menangani flunya sendiri, misalnya dengan lebih banyak minum air putih dari biasanya, banyak makan buah dan sayur untuk menambah asupan vitamin, dan berangkat tidur lebih cepat di malam hari.

Pendekatan yang sama sebetulnya dapat diterapkan pada masalah kesehatan mental seperti depresi. Langkah pertamanya perlu dimulai dari belajar mengenali gejala depresi diri sendiri, sehingga tahu kapan perlu bertindak untuk melakukan langkah-langkah penanganan yang diperlukan!

Walau secara umum depresi ditunjukkan oleh sekelompok gejala tertentu, namun gejala depresi yang menonjol dapat muncul berbeda pada tiap orang. Ada yang misalnya lebih dikuasai oleh gejala perasaan dan pikiran, seperti sedih berkepanjangan dan berpikir negatif tentang diri sendiri terus-menerus, atau gejala fisik dan perilaku, seperti sulit tidur dan tidak bisa beraktivitas karena merasa lelah sepanjang waktu.

Mengamati ciri awal depresi yang khas pada diri sendiri adalah hal yang penting. Kapanpun gejala awal tersebut muncul, maka seseorang akan dapat langsung mengambil langkah untuk menanganinya. Semakin cepat ditangani tentu semakin baik, bukan?

Nah, sekarang, bagaimana cara menanganinya? Sebelum mulai di bagian ini, perlu diingat bahwa penanganan depresi, terutama yang bersifat kronis, tentu paling disarankan untuk dikonsultasikan dengan profesional, seperti psikolog atau psikiter. Namun, ada juga cara-cara sederhana yang dapat dilakukan oleh orang yang mengalami depresi itu sendiri untuk mengelola gejala depresinya.

Mari kembali sejenak pada contoh flu yang telah dibahas sebelumnya. Dokter dapat memberikan saran medis untuk mengatasi flu, dan memberikan obat jika diperlukan, namun menambah jam istirahat dan menambah porsi buah sebagai asupan vitamin adalah cara ampuh menangani flu yang dapat dilakukan sendiri dan atas kesadaran sendiri pula.

Pada konteks depresi, penanganan mandiri yang dapat dilakukan antara lain menjalankan hobi secara rutin, berolahraga untuk mengelola kondisi fisik dan menenangkan pikiran, melakukan kegiatan yang menyenangkan setidaknya satu kali setiap hari atau ketika gejala depresi muncul, dan bercerita kepada orang yang dapat dipercaya untuk menumpahkan perasaan.

Cara-cara tersebut dapat  menjadi jurus yang sederhana namun ampuh untuk  mengelola depresi, karena, ingatlah, pada dasarnya setiap orang mampu mengendalikan depresi, dan bukan sebaliknya, dikendalikan oleh depresi. Selamat mencoba!





Editor :
Lusia Kus Anna