Minggu, 25 Oktober 2015

Kini, Orang seperti Risma Pun "Diganggu"


Kini, Orang seperti Risma Pun "Diganggu"

Senin, 26 Oktober 2015 | 05:30 WIB
 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/10/26/053000326/Kini.Orang.Seperti.Risma.Pun.juga.Diganggu.?page=1
KOMPAS.com/Achmad Faizal Risma membeli makanan Semanggi Suroboyo di festival Kampung Lawas Surabaya.

Terkait



                                  Oleh Rhenald Kasali                                      @Rhenald_Kasali

KOMPAS.com
 — Satu per satu tokoh perubahan Indonesia mulai diperkarakan. Setelah RJ Lino dipansuskan, hari Sabtu kemarin kita membaca berita tentang Risma ditersangkakan.

Beruntung, berita kriminalisasi terhadap Risma cepat diangkat media, dan dalam hitungan menit semuanya berubah.

Kapolri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengaku bingung karena setahunya kasus itu sudah dihentikan. Pembaca Kompas menulis, "Kalau Kapolrinya saja bingung, apalagi kita?"

Saya ingin mengingatkan kepada semua penyidik, auditor, dan penegak hukum, bekerjalah dengan akal dan budimu. Jangan mudah diperalat oleh kekuatan tersembunyi, massa yang digerakkan kelompok tertentu, atau oleh orang-orang yang berkepentingan.

Carilah bukti yang benar, bukan yang dibenar-benarkan. Penyidik bukan politisi, melainkan penegak dan pelindung kebenaran.

Setiap orang yang melakukan perubahan itu pada dasarnya adalah orang yang bekerja untuk kita, untuk kesejahteraan dan kehidupan anak-anak kita.

Mereka bukan hanya meminjamkan kecerdasannya, melainkan jauh lebih penting: keamanan hidup mereka.

Lihatlah apa yang terjadi dengan Munir? Bacalah pula sejarah. Perhatikan, hampir semua pejuang perubahan mati dibunuh bangsanya sendiri.

Bacalah tentang Ghandi, Martin Luther King, Abraham Lincoln, bahkan juga Marsinah dan Salim Kancil.

Bangsa ini juga harus belajar menghormati pelaku-pelaku perubahan, bukan menganiaya dan menjadikannya sebagai "santapan" .

Bukalah track record mereka, bandingkan antara tuduhan yang dibuat-buat dan hasil kerja nyata yang telah diberikan bagi bangsa.

Kalau tuduhan bisa dibuat-buat, hasil kerja nyata tak bisa dibantah. Hasil yang spektakuler juga belum tentu bisa diberikan oleh mereka yang mengaku mampu menggantikannya.

Mereka (yang mengaku mampu) bisa saja pandai, tetapi perubahan butuh lebih dari sekadar kepandaian, yaitu nyali.

Mereka diuji dengan uang

Saya tak begitu kenal dengan Risma walaupun beberapa kali duduk semimbar di berbagai kampus. Namun, kita semua tahu hasil kerjanya.

Kalaupun bertemu, kami hanya bersalaman, lalu saya lihat raut mukanya yang bahagia.


Seperti kepada RJ Lino, Ignasius Jonan, atau Risma, saya selalu berkata pendek kepada mereka, "Tetaplah sehat, semoga Tuhan selalu bersama Bapak/Ibu."

Hal yang sama juga diberikan kepada sahabat saya, Awang Faroek Ishak, yang sempat duduk di kursi roda setelah berjuang keras membatasi laju usaha tambang di wilayahnya karena merusak lingkungan.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh perubahan yang selalu diganggu. Apakah itu Kang Yoto (Bojonegoro), Ridwan Kamil (Bandung), Abdullah Azwar Anas (Banyuwangi), IB Rai Dharmawijaya Mantra (Denpasar), bahkan juga yang masih muda: Bima Arya Sugiarto (Bogor).

Semua orang itu mengaku sering diganggu. Tentu tingkat tekanan yang mereka hadapi berbeda-beda, dan daya lentur mereka tidak sama.

Namun, semakin mereka teguh, semakin diteriakkan kebalikannya. Mereka lebih suka memakai anggaran pembangunan untuk rakyat ketimbang menyetor untuk para politisi dan preman.

Karena itulah, mereka bisa dianggap kurang loyal. Aneh memang, semakin hari semakin banyak kita saksikan partai pendukung yang justru beralih menjadi penekan. Ini benar-benar anomali.

Yang ditekan pun bukan ide, melainkan orang, jabatan, dan selalu terkait dengan uang (anggaran belanja, investasi, kerja sama usaha, atau pembelian-pembelian).

Di media sosial pun akun-akun anonim bertebaran. Para mafia membentuk akun-akun dengan judul "anti-mafia", "pro-reformasi", "suara rakyat", dan sebagainya yang isinya justru berbalikan dengan judulnya.

Keberadaan mereka tentu karena ada yang memelihara dengan admin yang berjaga 24 jam memutarbalikkan kebenaran.

Non-finito

Dua bulan yang lalu, saya diajak sahabat saya yang mengajar di Firenze, Italia, untuk melihat karya seni rupa Michael Angelo. Dia pun menghadiahkan saya dua replika karya Angelo yang dikenal sebagai "The Naked Slaves".

"The Naked Slaves" sendiri terdiri atas 4 patung, yang aslinya setinggi lebih kurang 2,5 meter. Patung-patung itu telanjang, tetapi tidak porno; sesuai dengan zamannya, dibuat dalam era Renaissance.

Kala itu, para pematung pun hanyut dengan science, dan mereka belajar mengenai anatomi tubuh manusia.


Justru keindahan itu ada pada anatominya, bukan bungkus-bungkusnya yang bisa mengaburkan content (isinya).

Nah pertanyaannya, mengapa patung-patung itu tidak selesai? Betul, ke-4 patung itu dinamakan para ahli sebagai karya "non-finito" (tidak selesai).

Profesor tua yang menjadi koresponden untuk kajian-kajian yang saya lakukan itu menjelaskan, "Inilah bagian dari sejarah penting Italia. Anda tahu kan, abad ke-17 hingga ke-18, Italia dikuasai mafia. Mereka terus menganggu wali kota, gubernur, seniman besar, dan penguasa. Mafia terus menekan agar karya-karya mereka tak selesai, lalu dihujat oleh massa agar kehilangan kredibilitas, lalu dituding korupsi walaupun tak ada buktinya sama sekali."

Saya jadi teringat ucapan Risma saat ia "tak diberikan lawan" oleh partai-partai politik yang berseberangan dengan dirinya.

Di Kompas edisi 9 Agustus 2015, saya membaca kalimatnya: Mimpi saya belum terwujud. Apa saja mimpi-mimpi itu?

"Banyak yang belum tuntas, terutama infrastruktur, seperti jalan lingkar luar barat, luar timur, underpass di Jalan Mayjen Sungkono, pembangkit listrik (tenaga) di Benowo, dan trem yang melingkari kota Surabaya."

Kalau semua itu menjadi nonfinito, maka publik hendaknya belajar tiga hal ini. Pertama, setiap kali sebuah infrastruktur selesai, maka bukanlah kontraktor atau wali kota yang diuntungkan.

Apakah itu pelabuhan, jalan tol, kereta cepat, pembangkit listrik, pasar, atau sekadar gorong-gorong di tepi jalan, bila semua itu selesai, maka yang sudah pasti diuntungkan adalah kita, masyarakat.

Kedua, di mana ada proyek, sudah hampir pasti di situ terjadi perebutan dan persaingan. Ada yang mau bekerja tak terima uang, tetapi malah dituding mencuri.

Ada yang mau kerja, tetapi diperas kanan kiri sehingga tidak tuntas. Ada yang terima uang, tetapi tidak memberi kontribusi apa-apa, lalu menuding yang tak terima uang sebagai koruptor.

Ini biasa sekali terjadi di sini. Polanya selalu demikian dalam perubahan.

Ketiga, ingatlah ini. Kalau pemimpin terus diganggu, yang pertama-tama dirugikan adalah kita. Saya tak tahu persis apakah Anda mengamati bahwa ada demikian banyak pekerjaan besar yang non-finito.


Lihatlah tiang-tiang monorel warisan Gubernur Sutiyoso yang tak diteruskan oleh Gubernur Foke.

Lihat juga tiang-tiang konstruksi di atas Kalimalang Jakarta yang mangkrak sekitar 17 tahun dan baru dibangun kembali oleh Menteri BUMN Rini Soemarno lewat BUMN-BUMN di bawah kendalinya.

Yang jelas, negeri ini tak akan maju-maju. Jalan semakin macet, asap semakin pengap, kita hanya membaca keluhan demi keluhan.

Padahal saat orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang itu di-bully mafia, kita mendiamkannya.

Kita suka lupa, kegaduhan dan pertentangan itu sangat diinginkan bangsa-bangsa asing yang merebut pasar Indonesia.

Lihat saja jalan macet, siapa yang diuntungkan? Sudah begitu banyak kaki tangannya yang ikut berkelahi melawan bangsanya sendiri seakan-akan bangsa kita selalu bodoh, tak mengerti hukum, salah memilih, dan seterusnya.

Kita selalu merasa paling tahu, paling benar, dan paling suci.

Change leader tak butuh jabatan

Saatnya kita mengawal perubahan, bukan jabatan seseorang. Jabatan itu, bagi seorang change maker, hanyalah bersifat sementara dan tak penting-penting amat.

Kalau ingin mencopot, ya copot saja. Mereka yang bersungguh-sungguh membangun tak mau berkompromi karena memang bukan itu tujuan mereka bekerja.

Tujuan mereka hanyalah satu: pembaruan. Kitalah yang punya kepentingan, masyarakat luas yang berhak mendapatkan orang-orang terbaik.

Harap diingat, perubahan itu tidak mudah, tetapi kita harus memperjuangkannya.


ist Prof Rhenald Kasali
Prof Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, antara lain menjadi anggota Pansel KPK sebanyak 4 kali dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi acuan dari bisnis sosial di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Menjadi Driver atau Passenger.

Sabtu, 03 Oktober 2015

8 Jenis Kecerdasan Anak dan Cara Mengembangkannya

8 Jenis Kecerdasan Anak dan Cara Mengembangkannya

Sabtu, 3 Oktober 2015 | 17:40 WIB
 http://health.kompas.com/read/2015/10/03/174041923/8.Jenis.Kecerdasan.Anak.dan.Cara.Mengembangkannya?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
shutterstock
JAKARTA, KOMPAS.com – Tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kepintarannya masing-masing. Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences atau kecerdasan multipel.
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan yang juga dari Universitas Havard, Howard Gardner. Howard membaginya menjadi delapan jenis kecerdasan anak, yaitu word smart (kecerdasan linguistik), number smart (kecerdasan logika atau matematis), self smart  (kecerdasan intrapersonal), people smart (kecerdasan interpersonal), musik smart (kecerdasan musikal), picture smart (kecerdasan spasial), body smart (kecerdasan kinetik), dan nature smart (kecerdasan naturalis).
Thomas menjelaskan, setiap anak barangkali bisa memiliki delapan jenis kecerdasan ini. Hanya saja, ada anak yang hanya menojol pada satu atau lebih jenis kecerdasan tersebut. Untuk itu, menurut Thomas, orangtua seharusnya mengenali jenis kecerdasan anak, kemudian membantu mengasah kecerdasannya.
“Dukunglah anak sesuai jenis kecerdasannya. Adanya minat, bisa membangun kompetensi anak kemudian hari,” kata Thomas dalam talkshow bertajuk Beda Anak Beda Pintar oleh S-26 Procal Gold Wyeth Nutritional di Jakarta, Kamis (1/10/2015).
Thomas menegaskan, orangtua tidak bisa memaksa bakat yang dimiliki anak. Anak seharusnya didukung sesuai minatnya. Seperti apa 8 tipe kecerdasan anak ini? Berikut penjelasannya dan cara mengembangkannya.
1. Word smart (kecerdasan linguistik)
Jenis kecerdasan ini  berkaitan dengan kemampuan anak dalam berbahasa baik dalam bentuk tulisan maupun saat berbicara. Kecerdasan linguistik dapat dilihat ketika anak suka membaca, cepat bisa mengeja kata dengan baik, suka menulis, suka berbicara, dan mendengarkan cerita.

Jika anak menunjukkan kesukaannya seperti ini, orangtua bisa memberikan buku-buku cerita, mainan huruf alphabet, kertas untuk menulis, atau mainan yang berkaitan dengan huruf dan kata-kata lainnya yang bisa menstimulasi kecerdasannya ini.

Orangtua juga bisa mendukung anak dengan sering mengajaknya bercerita, membaca bersama, membacakan dongeng, dan melakukan dialog berdua dengan anak.

2. Number smart (kecerdasan logika atau matematis)

Jenis kecerdasan ini bisa ditandai ketika anak tertarik dengan angka-angka, menyukai matematika, dan hal-hal yang berbau sains, maupun yang berhubungan dengan logika.

Untuk  mengasah kemampuannya ini, berikan anak-anak alat berhitung yang menarik, benda-benda untuk dihitung, balok bertulisan angka-angka, puzzle, hingga timbangan untuk mengukur berat.

Orangtua bisa mengajak anak mengunjungi museum ilmu pengetahuan, mengajak anak bermain sambil menghitung, atau bermain monopoli.
3. Self smart  (kecerdasan intrapersonal)Anak dengan tipe kecerdasan ini cenderung lebih suka bermain sendiri. Namun, ia bisa mengatur emosi dengan baik. Anak ini biasanya memiliki ambisi dan sudah tahu ingin jadi apa saat besar nanti. Ia juga memiliki rasa percaya diri yang kuat dan bisa mengomunikasikan perasaannya dengan baik.                                                                           

Jika si kecil menunjukkan tanda kecerdasan ini, berikan ia dukungan dengan menyediakan tempat yang nyaman untuk bermain sendiri, boneka, atau mainan untuk main peragaan. Orangtua bisa mengajak si kecil berbicara mengenai perasaannya dan menanyakan pendapat mereka tentang berbagai hal. Bisa juga dengan mengajak mereka melakukan aktivitas yang bersifar reflektif seperti yoga.
4. people smart (kecerdasan interpersonal)
Berbanding terbalik dengan self smart, anak yang memiliki tipe kecerdasan ini lebih suka bermain dengan banyak orang. Anak juga memiliki empati, mampu memahami perasaan orang lain, dan cenderng menonjol sehingga suka memimpin saat bermain.
Anak seperti ini sangat cocok diberikan kostum-kostum untuk bermain drama atau teater boneka. Orangtua bisa mengajak mereka bermain bersama di luar rumah atau sering mengajak si kecil datang ke acara keluarga untuk bersosialisasi.
5. Music smart (kecerdasan musikal)
Kecerdasan musikal barangkali salah satu tipe kecerdasan yang paling mudah dilihat oleh orangtua. Ciri-ciri anak yang memiliki kecerdasan ini, antara lain suka bernyanyi, menggoyangkan badan atau berjoget ketika mendengar suara musik, suka mendengarkan musik, mengingat lagu, suka memukul-mukul seperti bermain drum, dan main piano.
Untuk mendukung minat anak di bidang musik, berikanlah ia alat musik seperti drum kecil, keyboard, piano, pianika, dan berbagai alat musik lainnya. Ajaklah si kecil bermain musik bersama, bernyanyi, mendengarkan musik, bahkan mengajaknya menonton konser musik anak-anak.
6. Pictue smart (kecerdasan spasial)
Anak yang memiliki kecerdasan ini biasanya terlihat dari kesukaannya menggambar, mencorat-coret kertas, mewarnai, suka berimajinasi, hingga suka bermain-main membangun sesuatu menggunaan balok.
Untuk anak ini, berikanlah buku gambar, perlengkapan untuk mewarnai seperti kuas dan cat air, dan kamera. Seringlah melakukan kegiatan menggambar bersama hingga mengunjungi museum seni.
7. Body Smart (kecerdasan kinetik)
Anak yang memiliki kecerdasan body smart sangat aktif, seperti suka berolahraga, menari, menyentuh berbagai benda dan mempelajarinya, atau membuat sesuatu dengan tangannya.
Untuk mendukung kecerdasannya, berikan anak mainan balok-balok kayu, kantong pasir agar ia bisa membuat suatu bangunan atau rumah-rumahan. Bisa juga memberikan anak tali untuk bermain lompat tali.

Anak seperti ini sangat senang diajak berolahtaga bersama keluarga, membuat prakarya, atau memonton pertunjukkan balet atau teater.
8. Nature smart (kecerdasan naturalis)
Anak-anak yang memiliki kecerdasan naturalis sangat suka bermain di alam. Anak ini juga menyukai binatang, memiliki kepedulian terhadap lingkungan, suka dengan tanaman.

Untuk mendukungnya, berikan anak binatang peliharaan, akuarium, sediakan kebun dan tanaman, hingga alat teropong untuk melihat burung-burung.

Anak seperti ini sangat suka diajak berjalan-jalan di alam bebas, pergi ke kebun binatang, dan melakukan kegiatan berkebun bersama sambil mengenal jenis tanaman dan hewan atau serangga yang ditemui..