Jumat, 19 September 2025

PEMIMPIN

 PEMIMPIN

https://www.facebook.com/share/r/1FPRYNMFXS/

 

Dalam situasi saat ini, seorang pemimpin yang diterima bukan hanya mereka yang cerdas intelektual ( IQ ) , tetapi juga memiliki kecerdasan emosional ( EQ ) dan spiritual ( SQ )

IQ membuat kita mampu berpikir dan mengatasi masalah secara akademik. EQ menuntun kita untuk merasa ( empati ), mampu menempatkan diri, mampu membawa diri, serta mampu menyampaikan pesan dengan cara dan waktu yang tepat. Sementara SQ membimbing kita untuk memimpin dengan hati, karena hanya dari hati yang bisa sampai ke hati.

Ingat, kita bisa mencintai seseorang tanpa memimpin mereka, tetapi kita tidak bisa memimpin mereka tanpa mencintai mereka.

 

Matcing: sama dengan siapa yang kita pimpin

Mirroring = dansa bayang – bayang dengan siapa yang kita pimpin

Passing= membawa harapan

Leading (?) / Leaving?:

 

 

Lihat Lebih Sedikit

https://www.facebook.com/share/r/1FPRYNMFXS/

 

Dalam situasi saat ini, seorang pemimpin yang diterima bukan hanya mereka yang cerdas intelektual ( IQ ) , tetapi juga memiliki kecerdasan emosional ( EQ ) dan spiritual ( SQ )

IQ membuat kita mampu berpikir dan mengatasi masalah secara akademik. EQ menuntun kita untuk merasa ( empati ), mampu menempatkan diri, mampu membawa diri, serta mampu menyampaikan pesan dengan cara dan waktu yang tepat. Sementara SQ membimbing kita untuk memimpin dengan hati, karena hanya dari hati yang bisa sampai ke hati.

Ingat, kita bisa mencintai seseorang tanpa memimpin mereka, tetapi kita tidak bisa memimpin mereka tanpa mencintai mereka.

 

Matcing: sama dengan siapa yang kita pimpin

Mirroring = dansa bayang – bayang dengan siapa yang kita pimpin

Passing= membawa harapan

Leading (?) / Leaving?:

 

 

Lihat Lebih Sedikit


JPS  18 September 2025, 



GURU

 GURU

https://www.facebook.com/share/r/19mdcBumqq/Top of Form

Bottom of Form

 

                     

Guru , berasal dari  2   suku  (akar)  kata, gu dan ru.  Guru: gu = gelap,  ru = obor; Guru = obor  untuk mengusir kegelapan.

Guru harus  menyalakan lentera  hati.

Guru itu pengajar dan  pendidik.


JPS, 19 Seoptember 2025. 





OTAK

 OTAK 


MENGECEK: ANDA DOMINAN OTAK KIRI ATAU KANAN

https://www.facebook.com/share/r/19ZByPKpWw/

Cara mengetahui: Kita tipe orang dominan otak kiri atau kanan?

Rengkumkan tangan, lalu  lihat posisi Ibu jari, bila posisi Ibu jari kiri di ats jempol kanan, itu berarti anda  dominan otak  kanan.

Bila posisi tempol kanan di atas jempol kiri, , anda dominan otak kiri.


JPS, 19 September 2025. 



Selasa, 02 September 2025

IDE_IDE INSPIRATIF

 IDE_IDE INSPIRATIF



Rohmani blog

 · 

Ikuti

2 Agustus  · 

RAWATLAH TAMANMU ADA AKAN DATANG BERKUMPUL

 

https://www.facebook.com/watch/?v=1052179870125265&rdid=fsirG5svKPZvgWPn

 

 

 

"Jika kamu senang kupu-kupu, Jangan buang waktu mengejarnya. Perbaikilah saja kebunmu. Besok, kupu-kupu itu akan datang ”

Kalimat indah ini seperti pelita kecil dalam hidup yang sibuk dan serba terburu-buru. Di tengah dunia yang mendorong kita mengejar validasi, cinta, jabatan, pengakuan, ada satu suara lembut yang mengajak: berhenti mengejar... dan mulai merawat.

Penyair Brasil, Mário Quintana, mengajak kita untuk berhenti mengejar "kupu-kupu" kehidupan—hal-hal indah tapi sulit digenggam—dan mulai memperbaiki "kebun" kita: karakter, niat, dan keutuhan diri.

Dan di sinilah filsuf Søren Kierkegaard menguatkan pesan itu. Ia berkata bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang sibuk meniru, bukan pula hidup yang gelisah menunggu sorak penonton. Hidup yang sejati adalah hidup yang dijalani secara otentik—jujur pada diri sendiri, bahkan saat dunia tidak menontonnya.

Bagi Kierkegaard, mengejar kupu-kupu bisa menjadi bentuk keputusasaan: kita meninggalkan diri kita yang sejati demi pencapaian yang palsu. Kita melupakan siapa kita, demi menjadi siapa yang orang lain harapkan.

Maka, memperbaiki kebun—dalam makna Kierkegaardian—adalah sebuah lompatan eksistensial: kita memilih untuk menjadi diri sendiri di hadapan Tuhan, bukan salinan dari orang lain di hadapan dunia.

Karena ketika taman dalam diri mulai mekar, ketika kita hidup dengan kejujuran, dengan nilai, dan dengan cinta tanpa pamrih, maka kupu-kupu akan datang. Bukan karena kita mengejar mereka. Tapi karena kita telah menjadi tempat terbaik bagi mereka singgah.


JPS, 2 September 2025. 


********

AIR TAK LAGI GRATIS — Bagaimana Nestlé Menguasai Dunia Tanpa Kita Sadari

Kau kenal Nestlé?

Milo. Nescafé. Bear Brand. Maggi. KitKat. Pure Life.


Semua merek itu ada di rak rumahmu. Di toko kelontong. Di kantin sekolah. Di iklan TV.

Tapi tahukah kamu? Semua merek itu milik satu perusahaan: Nestlé.


Dan bukan cuma makanan.

Nestlé juga menguasai air — sumber kehidupan yang seharusnya gratis.


Di Ethiopia, sumur-sumur kering. Anak-anak berjalan 10 kilometer hanya untuk membawa seember air keruh.

Di India, sawah retak akibat kekeringan. Petani menangis.

Tapi tepat di balik bukit, truk-truk Nestlé melaju — mengambil air dari mata air alami, membotolkan, lalu menjualnya kembali ke rakyat yang sama… dengan harga premium.


Ini bukan fiksi. Ini nyata.

Di Pakistan, warga dipaksa beli air kemasan Nestlé karena sumur mereka disedot habis oleh pabrik.

Di Nigeria, perusahaan ini mengebor sumur dalam bertekanan tinggi, sementara desa-desa di sekitarnya bergantung pada sungai yang tercemar.

Di Brasil, mereka menguasai Aquífero Guarani — cadangan air tawar terbesar di dunia — dan menjualnya per liter, dengan keuntungan ribuan persen.


CEO Nestlé, Peter Brabeck-Letmathe, pernah berkata:


“Air bukan hak asasi manusia. Ia adalah komoditas yang bisa diperdagangkan.” 


Kalimat itu membuat dunia gempar.

Tapi mereka tidak minta maaf.

Mereka hanya bilang: “Itu salah kutip.”

Lalu tetap beroperasi.


Dan ini belum selesai.


Di Indonesia, Nestlé punya pabrik besar di Pasuruan, Jawa Timur — tempat produk Pure Life diproduksi.

Izinnya legal. Dokumennya lengkap.

Tapi warga sekitar mulai bertanya:

Kenapa sumur kami kering sejak pabrik berdiri?

Kenapa sawah kami retak di musim kemarau?

Kenapa air tanah yang selama ini kita gunakan, kini harus kita beli?


Mereka menyebutnya “pengambilan berkelanjutan”.

Tapi publik tak pernah diajak audit. Tak ada transparansi. Tak ada laporan terbuka.


Tapi ini bukan soal air saja.


Nestlé juga merusak generasi lewat susu formula.


Pada tahun 70-an, mereka mulai menyebarkan iklan di negara-negara miskin:


“Susu formula lebih baik daripada ASI.” 


Mereka memberikan sampel gratis di rumah sakit.

Ibu-ibu percaya. Mereka berhenti menyusui.

Ketika sampel habis?

Mereka harus beli susu formula — yang harganya mahal —

atau mencampurnya dengan air kotor karena tak punya pilihan.


Hasilnya?

Diare. Malnutrisi. Kematian massal.

Lebih dari 10 juta bayi meninggal antara 1960–2015 karena praktik ini.

Disebut: Genosida Nutrisi.


Dan ini masih terjadi.


Di Indonesia, meski aturan sudah ketat, Nestlé tetap masuk lewat media sosial.

Grup ibu-ibu. Webinar “gizi modern”.

Konsultan nutrisi yang menyamar.

Mereka menawarkan “solusi cepat” — dan secara perlahan, mengganti keyakinan:

“ASI tidak cukup.”


Padahal risikonya nyata: infeksi, alergi, stunting — semua berawal dari campuran susu formula dan air yang tidak steril.


Nestlé bukan perusahaan biasa.

Ini adalah kerajaan pangan global — dengan lebih dari 2.000 merek, menguasai rak-rak di 190 negara.

KitKat. Milo. Carnation. Gerber. Nan. Maggi. Dannon. Frubes.


Semua milik Nestlé.

Tapi kau tak lihat nama “Nestlé” di kemasannya.

Itu sengaja.

Mereka tidak menjual produk.

Mereka menjual kepercayaan.


Dan siapa yang memegang saham Nestlé?

BlackRock. Vanguard. State Street.

Perusahaan investasi raksasa yang juga punya saham di Coca-Cola, PepsiCo, Unilever, Danone, bahkan produsen obat-obatan.


Artinya:

Air. Susu. Obat. Makanan.

Semua dikendalikan oleh satu geng keuangan global.


Mereka juga duduk di Dewan Global World Economic Forum.

Mereka memengaruhi standar pangan dunia lewat Codex Alimentarius.

Mereka menentukan apa itu “gizi seimbang”, apa itu “sehat”, dan apa yang boleh dijual kepada anak-anak.


Di Indonesia, Nestlé menggandeng koperasi susu lokal.

Menyerap bahan baku dari peternak kecil.

Terlihat seperti “mendukung UMKM”.

Padahal, rantai pasoknya sepenuhnya dikendalikan dari Swiss.


Mereka tidak tampak jahat.

Mereka hadir di iklan keluarga bahagia.

Di tayangan anak-anak.

Di acara donor gizi sekolah.

Mereka tidak menakutkan.

Mereka menenangkan.

Mereka merawat.

Sambil perlahan mengambil kendali atas hal-hal paling dasar:

Air. Makanan. Dan keyakinan.


Kita minum kopi mereka hari ini.

Anak kita minum susu mereka besok.

Dan kita tidak bertanya:

Siapa yang punya air ini?

Siapa yang menentukan apa itu nutrisi?

Apakah hidup kita sekarang sudah dibeli oleh korporasi?


Nestlé bukan satu-satunya.

Tapi mereka adalah cermin.

Bahwa masa depan bukan tentang teknologi.

Tentang kecerdasan buatan.

Atau AI.


Tentang siapa yang menguasai yang paling dasar.

Air. Susu. Makanan. Kepercayaan.


Kita bukan kekurangan pilihan.

Kita hanya diajari…

UNTUK TIDAK PUNYA PILIHAN.


Jangan biarkan mereka menjual kehidupanmu dalam botol plastik.

Bagikan. Agar lebih banyak yang sadar.


#Nestlé #AirBukanHakAsasi #GenosidaNutrisi #KorporasiPembunuh



JPS, 24 September 2025. 

**********