Sabtu, 24 Mei 2014

Sudah Kuatkah "Brand" Anda?


Sudah Kuatkah "Brand" Anda? Kenali Cirinya
Sabtu, 24 Mei 2014 | 17:20 WIB
Dibaca: 209
Sumber:
 http://female.kompas.com/read/2014/05/24/1720470/Sudah.Kuatkah.Brand.Anda.Kenali.Cirinya?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp
 
 
|
Share:
shutterstock ilustrasi
KOMPAS.com - Kunci sukses brand, baik merek dagang maupun personal brand, tak hanya dipengaruhi keunikan atau inovasinya. Pakar Branding, Amalia Maulana, mengatakan, kekuatan suatu brand (merek dagang atau personal), punya pengaruh besar terhadap kesuksesan suatu produk atau seseorang dalam kariernya. Brand yang kuat akan lebih mampu bertahan dalam persaingan.

"Mereka sudah punya pengikut setianya sendiri. Sekalipun ada banyak saingan tapi pengikut setianya tidak akan berpaling dari brand Anda," kata Amalia saat sharing session Brandmate: Mengubah Just Friend Menjadi Soulmate di Kantor Kompas Gramedia, Palmerah Barat, Jakarta Barat, Jumat (23/5/2014).

Bagaimana dengan brand Anda? Sudahkah brand Anda dikenal dan melekat erat di pikiran orang lain? Kenali tanda-tanda brand yang kuat berikut ini:

1. Dikenal
Bila bicara merek dagang, sebuah brand yang kuat sudah pasti dikenal baik oleh target konsumen yang ditentukannya.

"Setiap bisnis harus selalu memiliki target konsumen yang disasar sesuai dengan jenis produk atau jasa yang dimilikinya. Oleh karenanya sangat penting, brand Anda harus dikenal oleh target market Anda sendiri. Tidak harus selalu dikenal semua lapisan yang penting pesan brand sudah sesuai dengan target konsumen," katanya.

Sementara jika bicara personal branding, bagaimana diri Anda dikenal oleh orang-orang yang berhubungan dengan Anda dalam pekerjaan, kehidupan pribadi, komunitas, keluarga, akan menentukan seberapa kuat sosok Anda ada dalam benak mereka.

2. Disukai
Setelah dikenal, sebuah brand yang kuat sudah pasti disukai. Amalia mengatakan, brand yang disukai ini memiliki persepsi yang baik dan juga memiliki citra yang baik di mata konsumennya, atau dipersepsikan oleh orang lain jika bicara personal brand.

Misalnya, sebuah produk minuman disukai karena memiliki kualitas baik dan konsisten menjaga kualitasnya tersebut, atau sebuah produk disukai karena kemasannya yang menarik. Sementara kalau bicara personal brand, bagaimana seseorang dikenal oleh banyak pihak dan ia juga disukai oleh semua orang.

3. Dipilih
Brand yang kuat pasti memiliki daya jual yang lebih tinggi dan menjadi pilihan prioritas dibandingkan yang lainnya. Sekalipun banyak produk serupa yang ditawarkan di pasaran, konsumen tak akan berpaling ke brand lainnya.

"Ini adalah proses terberat dalam proses branding karena cukup sulit untuk membuat konsumen mau memilih brand, kembali memilih dan tidak mau yang lain," kata perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen di sekolah bisnis ini.

Sedangkan dalam personal branding, seseorang yang memiliki brand kuat, ia akan dengan mudahnya dipilih karena kualitas yang dimilikinya. Jangan heran bila ada atasan yang hanya mempercayakan satu orang saja dalam menjalankan tugas tertentu, atau saat wawancara kerja, seseorang dengan personal brand yang kuat akan lebih mudah menarik perhatian dan mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat. Perusahaan takkan lama memutuskan untuk merekrut seseorang dengan personal brand yang kuat.

4. Memiliki brand ambassador
Sebuah brand akan menjadi sangat kuat ketika memiliki brand ambassador. Hanya saja brand ambassador ini bukanlah sosok selebriti yang didapuk untuk mewakili brand. Brand ambassador yang dimaksud adalah seorang konsumen setia yang sudah kenal baik dengan brand yang tanpa disadari akan mengajak orang-orang lain untuk ikut memilih brand Anda.

"Konsumen setia itu akan memberi referensi kepada orang lain untuk ikut memilih brand Anda karena dianggap memiliki banyak kelebihan dibanding brand lain," ujarnya.

Dalam personal branding, brand ambassador adalah mereka, teman, keluarga, kolega yang selalu bicara positif tentang Anda bahkan merekomendasikan Anda pada setiap kesempatan.

5. Memiliki brand guardian
"Pencapaian terbesar sebuah brand adalah memiliki brand guardian atau kelompok pembelanya," kata Amalia.

Kelompok pembela ini akan dengan sukarela membantu brand Anda ketika menghadapi masalah brand.
Jadi, kalau sebuah merek dagang mendapatkan kesan negatif dari sebagian konsumen, maka konsumen lain (brand guardian) akan membelanya. Sedangkan dalam personal branding, kalau ada pihak tertentu yang menjelekkan nama Anda dan merusak reputasi, selalu akan ada orang-orang (brand guardian) yang menyelamatkan reputasi Anda karena mereka bicara tulus mengenai siapa Anda yang dikenal baik oleh mereka.
Bagaimana, sudah kuatkah brand Anda?
Penulis :
Christina Andhika Setyanti
Editor :
Wardah Fajri

Olahraga Bikin Otak Awet Muda

LIFESTYLE / FITNES - ARTIKEL

Olahraga Bikin Otak Awet Muda

Penulis : Kontributor Health, Dhorothea | Sabtu, 24 Mei 2014 | 17:17 WIB
http://health.kompas.com/read/2014/05/24/1717225/Olahraga.Bikin.Otak.Awet.Muda?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

KOMPAS.com - Ternyata otak juga mendapat manfaat dari kebiasaan olahraga. Sel-sel saraf di otak terbukti bisa dipacu pertumbuhannya lewat olahraga. Lansia yang rajin olahraga terbukti bisa menjawab tes psikologi dengan lebih baik.Sebagian besar orang memiliki jumlah sel saraf yang konstan saat dewasa. Ketika bertambah tua, sel-sel saraf perlahan mati.

Sampai pertengahan tahun 90-an para ilmuan berpikir bahwa kehilangan sel-sel saraf di otak itu tak mungkin tergantikan. Namun, percobaan pada hewan membalikkan asumsi itu dan membuktikan bahwa neurogenesis di otak dapat dipacu lewat olahraga.

Penelitian yang diterbitkan dalam Proceeding of the National Academy of Sciences menerapkan prinsip tadi pada manusia. Setelah berolahraga selama tiga bulan, semua responden tampak memiliki tunas-tunas sel saraf baru. Yang paling banyak adalah yang melakukan olahraga kebugaran kardiovaskular. Ini juga dipercaya merupakan hasil pengubahan stem cell atau sel punca menjadi sel-sel saraf yang fungsional.

“Sangat menarik untuk melihat efek olahraga terhadap manusia untuk pertama kalinya,” ujar Scott Small, ahli ilmu saraf dari Columbia University Medical Center, yang juga menulis laporan bersama Fred Gage dari Salk Institute Neurobiologi.

Langkah pertama untuk memahami proses itu adalah dengan mencari tahu sel otak mana yang baru tumbuh dan apakah itu bagian otak yang perlu diremajakan. Dalam eksperimen Small dan Gage, sel-sel saraf baru tumbuh di bagian otak yang berfungsi mengatur pembelajaran dan memori. Daerah ini membantu otak mencocokkan nama dan wajah, satu keterampilan yang sangat mungkin berkurang ketika kita beranjak tua.

Olahraga tampaknya merestorasinya menjadi lebih sehat dan muda. “Ini bukan soal memperlambat proses penuaan, tetapi mengembalikan kemudaan,” kata Arthur Kramer, psikolog dari University of Illinois, AS.

Hasil penelitian Kramer juga menunjukkan efek pada frontal lobes, bagian otak yang melakukan tugas eksekutif seperti membuat keputusan, merencanakan dan melakukan banyak pekerjaan (multitasking). Dengan teknologi pemindaian, ia menemukan frontal lobes membesar karena olahraga.

Dalam banyak penelitian sebelumnya ditemukan pria dan wanita usia 60-an dan 70-an tahun yang rajin jalan kaki atau olahraga aerobik lain mengalami perbaikan fungsi luhur. Mereka berhasil menjalani tes psikologi dengan baik, menjawab lebih banyak pertanyaan dengan akurat dan cepat.
 
 
Editor :
Lusia Kus Anna
 
 

Dua Pria Tangkap Bayi yang Jatuh dari Sebuah Gedung


Dua Pria Tangkap Bayi yang Jatuh dari Sebuah Gedung

Jumat, 23 Mei 2014 | 16:49 WIB
Sumber:
http://internasional.kompas.com/read/2014/05/23/1649547/Dua.Pria.Tangkap.Bayi.yang.Jatuh.dari.Sebuah.Gedung

BEIJING, KOMPAS.com — Sejumlah pria yang sedang berjalan kaki di kota kecil Xiaolan, Provinsi Guangdong, China, tentu tak menduga pengalaman mendebarkan yang akan mereka alami.

Suatu siang bercuaca buruk, seorang pria yang diidentifikasi bernama Li sedang berjalan melintasi sebuah gedung apartemen, saat dia melihat seorang balita berusia sekitar satu tahun memanjat jendela di lantai dua gedung itu.

Sekejap mata kemudian, tiba-tiba balita itu terjatuh. Li dan beberapa orang lainnya yang kebetulan tengah melintas langsung bergegas dan berusaha untuk menangkap si balita.

"Sejumlah orang meletakkan tumpukan kardus untuk mencegah cedera serius si balita jika saya gagal menangkapnya," kata Li.

"Saya tak banyak berpikir saat itu. Saya hanya takut gagal menangkap dia. Ini bukan apa-apa hanya insting manusia yang ingin menolong," tambah Li.

Beruntung, Li dengan sigap menangkap si balita sehingga anak itu terhindar dari luka serius. Setelah berhasil menyelamatkan si balita, Li dan seorang pria lainnya yang bernama Hu langsung menyerahkan anak itu ke ibunya.

Aksi heroik Li dan Hu menangkap balita yang jatuh dari lantai dua gedung apartemen itu tertangkap kamera CCTV.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Daily Mail

Kamis, 22 Mei 2014

Evaluasi Pola Makan Anda

LIFESTYLE / FOOD - ARTIKEL

Evaluasi Pola Makan Anda dengan 4 Pertanyaan Ini

http://health.kompas.com/read/2014/05/23/1249475/Evaluasi.Pola.Makan.Anda.dengan.4.Pertanyaan.Ini?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp





KOMPAS.com - Kesehatan dan kondisi tubuh kita merupakan hasil dari apa yang kita makan setiap harinya. Jika kita merasa berat badan gampang naik, sering mengalami gangguan pencernaan, atau pun emosi tidak stabil, mungkin ini saatnya untuk mengevaluasi lagi kualitas dan kuantitas asupan nutrisi yang masuk.


Untuk mengetahui apakah kebiasaan makan yang kita lakukan sudah tepat atau belum, Karen Ann Kennedy, pelatih kesehatan tersertifikasi sekaligus presiden dan CEO di The Caring Coaching Center, LLC The Caring Coaching Center, memberikan empat pertanyaan kunci berikut:
1. Apa yang saya makan?
Ini bukan pertanyaan asal, meskipun kebanyakan orang yang merasa makan sehat berarti makan lebih sedikit. Menurut Kennedy, saat tidak mengetahui apa yang ada di dalam makanan yang dimakan, makan dalam porsi lebih sedikit pun tetap memberikan dampak yang tidak diinginkan.
"Inilah pentingnya untuk selalu mengecek label dari makanan yang beli. Lebih baik lagi, untuk tidak membeli makanan kemasan atau hanya membeli makanan dengan daftar isi lima bahan saja atau kurang," kata dia.
2. Darimana makanan berasal?
Apakah makanan berasal dari petani yang mengurus dengan baik tanamannya atau dari pabrik yang telah mencampurkan makanan dengan bahan kimia untuk memperlama daya tahannya? Makanan yang lebih alami tentu lebih sehat daripada yang sudah ditambahkan bahan kimia. Karena itu, cobalah untuk membeli makanan yang lebih alami.
3. Kenapa saya makan?
Ini adalah pertanyaan besar yang berarti menanyakan alasan utama Anda mengasup suatu makanan. Apakah memang karena lapar dan butuh atau hanya ingin? Apakah Anda makan karena bosan, kesepian, sedih atau marah? Apakah makan untuk mengganti tenaga yang hilang karena olahraga? 
Dengan mengetahui alasan makan, maka Anda akan lebih mudah mengidentifikasi makan emosional yang buruk bagi kesehatan. Saat keinginan makan meski tidak lapar itu datang, cobalah alihkan perhatian ke kegiatan-kegiatan lain seperti berjalan-jalan.
4. Apa yang dirasakan setelah makan?
Sebelum makan, maka cobalah untuk menanyakan apa yang akan dirasakan setelah makan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental. Jika Anda merasa bersalah, sedih, terganggu, bahkan marah, atau mungkin akan merasa kembung atau pusing, maka kemungkinan keinginan Anda untuk makan hanya karena emosi.
Kennedy mengatakan, untuk menambah keterampilan Anda mengetahui rasa yang akan rasakan setelah makan, maka Anda harus lebih banyak berlatih. Misalnya dengan mencatat yang Anda rasakan setelah makan suatu makanan. Dengan begitu, Anda jadi selalu mengingat jika terjadi masalah setelah makan, misalnya terjadi reaksi alergi.

Sumber :
Editor :
Lusia Kus Anna

Sabtu, 17 Mei 2014

Melatih 'Simpanse Liverpool'



Melatih 'Simpanse Liverpool'

Melatih 'Simpanse Liverpool'

Abimanyu Bimantoro - detikSport
Sabtu, 17/05/2014 13:38 WIB
Halaman 1 dari 4
http://sport.detik.com/aboutthegame/read/2014/05/17/133850/2584686/1497/1/melatih-simpanse-liverpool
Description: http://newopenx.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=1103&campaignid=3&zoneid=314&loc=1&referer=http%3A%2F%2Fsport.detik.com%2Faboutthegame%2Fread%2F2014%2F05%2F17%2F133850%2F2584686%2F1497%2F1%2Fmelatih-simpanse-liverpool&cb=222d973770
Description: thumbnailGetty Images/Alex Livesey
Kesuksesan Liverpool dalam melakukan loncatan dari posisi ketujuh menjadi runner-up Premier League seringkali dialamatkan pada kemampuan Brendan Rodgers dalam meracik strategi mematikan. Tapi, ada satu tokoh intelektual lain yang sebenarnya jadi sumber kekuatan para pemain Liverpool dalam menghadapi kerasnya perburuan gelar juara Liga Inggris.

Dr. Steve Peters adalah tokoh itu. Ia adalah seorang psikolog yang bertanggung jawab untuk menjaga mental bertanding para pemain Liverpool.

Penampilan cemerlang pemain-pemain muda Liverpool pun disinyalir merupakan hasil kerja Peters. Misalnya saja dua pemain muda Liverpool, Jon Flannagan dan Raheem Sterling. Keduanya tampil sangat tenang dan percaya diri sepanjang musim layaknya pesepakbola yang lama mengarungi EPL.

Padahal, Flannagan pada musim sebelumnya hanyalah bek sayap pelapis yang baru diturunkan ketika Liverpool tidak mempunyai pilihan lain. Pada musim ini, bek lulusan akademi Liverpool itu mampu mencatatkan 23 pertandingan dan sempat membuat frustrasi beberapa pemain besar Liga Inggris.

Sementara itu Raheem Sterling bisa dibilang jadi pemain muda yang mengalami peningkatan paling baik. Dulu Sterling hanyalah pemain sayap yang bisa berlari cepat namun kurang cerdas dalam mengalirkan bola. Banyaknya permasalahan di luar lapangan juga membuat pemain muda ini diprediksi hanya mengkilap sebentar.

Tapi nyatanya ia telah mengalami perubahan drastis. Dengan tenang Sterling mampu memutuskan kapan harus melakukan dribbling, kapan harus mengoper, dan kapan harus menahan bola. Terlebih lagi, ia tak pernah ragu untuk melewati bek-bek lawan yang jauh lebih matang darinya.

"Apa yang dilakukan Peters sangat brilian. Ia sangat mengerti setiap pemain dan emosi yang ada di pertandingan. Setiap kata-katanya sangat membantu," ujar Sterling.

Pemain yang dibeli The Reds dari QPR ini menceritakan soal kejadian sebelum pertandingan melawan Manchester City di Anfield 13 April lalu. Sekitar 30 menit sebelum pertandingan, ia duduk berdua dengan Peters, dan mendengarkan beberapa perintah dari Peters yaitu untuk fokus pada bola dan tim.

Hasilnya Sterling berhasil menjalani pertandingan yang luar biasa. Dengan tenang ia mengecoh Joe Hart dan mencetak gol pembuka bagi Liverpool. Sterling juga yang kemudian menjadi man of the match pada pertandingan ini.

Tidak hanya pada pemain muda, para senior pun mengaku terbantu setelah menjalani treatment psikologis dari Peters. Sang kapten, Steven Gerrard, secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak mungkin bisa menjalankan tugas baru sebagai defensive midfielder jika tidak ada Peters yang membuatnya bermain dengan kepala dingin.




"Steve Peters tidak membuat seorang pemain dapat berlari lebih cepat atau dapat melakukan putaran Cruyff atau dapat melakukan umpan panjang lebih akurat. Tapi saya dapat menjamin bahwa jika seorang pemain mau bekerja sama dengannya, ia dapat mempersiapkan mental sang pemain, terutama saat anda menghadapi tekanan," sang kapten menjelaskan bagaimana efek Peters untuk Liverpool.

Meski kerjanya seolah baru terlihat melalui Liverpool, ternyata Peters bukan orang baru di dunia olahraga Inggris. Sejak tahun 2000 Peters sudah menorehkan prestasinya dengan mendampingi tim olimpiade balap sepeda Great Britain. Hingga Olimpiade 2012 di London lalu tim balap sepeda Great Britain tidak pernah absen dalam menyumbangkan medali. Lagi-lagi hal ini juga disinyalir hasil ulah Peters yang dapat membuat para atlet bertanding dengan tenang.

Dengan prestasinya yang luar biasa ini, Manajer tim nasional Inggris Roy Hodgson pun lalu merekrutnya jadi staf timnas Inggris di Brasil nanti. Kutukan Inggris yang tidak pernah menang dalam adu penalti diharapkan dapat hilang dengan kehadiran Peters.

Mantan Manajer tim nasional Inggris Sven Goran Erikson, mengatakan bahwa kesalahan terbesarnya saat menangani The Three Lions adalah tidak membawa seorang psikiater. Para pemain Inggris disinyalir bermain kurang tenang sehingga melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Saat adu penalti pun para penendang Inggris tidak sekalem penendang dari negara lain.

Belajar dari Simpanse

Setelah melihat semua prestasi Peters, pertanyaannya kemudian adalah apa yang sebenarnya dilakukan Peters terhadap Liverpool dan tim olimpiade balap sepeda Great Britain?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat isi dari buku yang ditulis Peters. Semua penjelasan tentang apa-apa yang dilakukannya dituliska pada sebuah buku yang berjudul "Chimp Paradox: Mind Management". Teori simpanse (chimp) sering dikatakan Peters sebagai teori yang selalu diterapkannya kepada para atlet. Karena itulah orang sering mengatakan: "Steve Peters, from chimp to champ."

Di dalam bukunya Peters menjelaskan bahwa otak, sebagai pusat kendali tubuh manusia, memang memiliki struktur yang sangat kompleks. Namun, ia bisa membaginya menjadi 7 bagian. Dan dari ketujuh bagian itu, terdapat 3 bagian yang dihuni oleh komponen yang memengaruhi psikologis manusia dan menentukan sikap sehari-hari.
Description: http://images.detik.com/albums/pandit/Otak.jpg

Komponen pertama adalah human (manusia). Dengan adanya komponen ini, Anda akan berperilaku layaknya sebagai manusia. Anda akan menggunakan logika Anda untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ketika komponen ini bekerja, semua tindakan Anda dapat dijelaskan dengan akal sehat.

Komponen kedua adalah teknologi. Ini merujuk pada tempat semua data yang pernah masuk ke kepala tersimpan. Ketika data itu sudah sering muncul, terkadang komponen ini akan bekerja secara otomatis dan mengambil kendali diri Anda.


Komponen inilah yang kemudian harus Anda latih untuk memunculkan bakat. Gerakan-gerakan otomatis atau teknik-teknik yang Anda miliki saat ini adalah hasil latihan yang diberikan pada komponen teknologi dalam otak. Karena itu, Peters mengatakan bahwa komponen ini adalah komponen yang paling kuat diantara komponen lainnya.

Dan komponen yang terakhir adalah tokoh utama yang dibicarakan Peters dalam bukunya, yaitu chimp atau simpanse. Ya, menurut Peters, setiap manusia memang menyimpan seekor simpanse di dalam otaknya. Komponen ini adalah komponen yang bertolak belakang dengan human (manusia). Ketika manusia bertindak sesuai logikanya, simpanse akan bertindak sesuai dengan emosi dan perasaan.

Ketika sang simpanse mengambil alih, sering kali tidak ada penjelasan akal sehat dari tindakan Anda. Sayangnya, komponen simpanse dalam otak jauh lebih kuat dari komponen manusia, meski tidak sekuat komponen teknologi. Ini dengan catatan bahwa simpanse dapat bekerja kapanpun sementara komponen teknologi hanya akan bekerja pada saat aktivitas tersebut sudah tersimpan di dalam bank data otak Anda.

Karena itulah Anda akan lebih mudah untuk bertindak dipengaruhi emosi ketimbang logika. Hal ini sejalan penjelasan Peters soal komponen simpanse yang lebih kuat ketimbang komponen manusia di otak.

Lalu apa maksud semua ini? Apa hubungannya simpanse di dalam otak dengan performa seorang atlet di lapangan?

Perlu dicatat bahwa Peters tidak mengatakan bahwa komponen simpanse adalah komponen yang negatif/jahat dan komponen manusia adalah positif/baik. Tidak ada yang baik atau buruk dari ketiga komponen tersebut. Ketiganya harus dibuat bekerja sinergis sehingga setiap tindakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dan inilah bagian yang terpenting dari pekerjaan Peters. Treatment yang dilakukan Peters adalah dengan membuat ketiga komponen yang ada di dalam otak dapat bekerja pada saat yang tepat.

Tidak banyak yang dilakukan Peters pada komponen teknologi, karena itu adalah hasil latihan yang dilakukan sang atlet. Maka komponen manusia dan simpanse lah yang harus diutak atik oleh Peters.

Sekali lagi, kedua komponen ini tidak memiliki sifat jahat atau baik. Keduanya adalah komponen yang sama pentingnya. Maka dari itu, yang harus dilakukan adalah bukan mengurung simpanse ke dalam kandang, namun melatihnya.

Ini beberapa contohnya: saat Anda bertanding melawan musuh yang jauh lebih tangguh, komponen menusia akan mengatakan dengan logikanya bahwa Anda tidak akan bisa menang. Pada saat inilah Anda membutuhkan sang simpanse karena ia tidak pernah bergerak dengan logika, dan hanya berdasarkan emosi dan perasaan. Maka, tidak peduli sekuat apa musuh yang dihadapi, ia akan maju dengan gagah berani
Abimanyu Bimantoro - detikSport
Sabtu, 17/05/2014 13:38 WIB
Halaman 4 dari 4
Description: http://newopenx.detik.com/delivery/lg.php?bannerid=4294&campaignid=3&zoneid=314&loc=1&referer=http%3A%2F%2Fsport.detik.com%2Faboutthegame%2Fread%2F2014%2F05%2F17%2F133850%2F2584686%2F1497%2F4%2Fmelatih-simpanse-liverpool&cb=135c40a42d
Namun membiarkan simpanse bergerak membabi buta juga bukan tindakan yang bijak. Di sinilah peran komponen manusia dimulai, yaitu untuk membuat tindakan simpanse tidak kelewat batas. Sesekali logika harus dimainkan untuk meluruskan tindakan simpanse jika mulai melenceng dari tujuan.

Seperti inilah kurang lebih teori yang diterapkan Steve Peters di Liverpool. Tentu dalam pelaksanaannya akan jauh lebih rumit.

Dengan mulai dikenalnya Steve Peters di kalangan klub-klub sepakbola, Brendan Rodgers sendiri mulai khawatir jika ada klub yang ingin merebut Peters. Bahkan Rodgers sudah mulai memasang peringatan bahwa psikolog kelahiran Middlesbrough itu akan tetap bersama Liverpool pada musim depan.

"Ia memiliki peluang untuk bekerja di klub lain, tapi ia sangat senang berada di sini dan merupakan bagian penting bagi Liverpool. Di klub mana pun aku bekerja sebelumnya, selalu ada seorang ahli syaraf dan psikolog di dalam tim. Maka, ketika aku datang ke Liverpool, aku ingin yang terbaik ada di sini," ujar Rodgers.

Kerja Peters sendiri bersama Liverpool belum usai. Gagal juaranya The Reds karena kalah dan imbang di tiga pertandingan akhir tentu jadi tanda bahwa ada pekerjaan yang belum selesai. Bahwa "sang simpanse" masih perlu untuk terus dan terus menjalani latihan.




====

* Akun twitter penulis: @aabimanyuu dari @panditfootball


 

Selasa, 13 Mei 2014

Revolusi Doa



Revolusi Doa
Selasa, 13 Mei 2014 | 15:54 WIB
Kompas Cetak Ilustrasi


Oleh: Sindhunata
KOMPAS.com - KITA memerlukan pemimpin yang taat beragama, yang bisa membawa perbaikan moral bangsa. Begitu dikatakan mantan Wakil Presiden Hamzah Haz baru-baru ini. Hamzah Haz juga menyarankan perlunya dibangun lebih banyak tempat ibadah, agar semakin banyak orang berdoa sehingga semakin banyak pula orang yang memiliki moral yang baik.
Hamzah Haz tidak keliru jika ia menghubungkan doa dan moral yang baik. Hanya masalahnya, doa manakah yang bisa membuahkan moral yang baik? Pertanyaan ini kebetulan juga sedang digeluti sejumlah sarjana antropologi dan teologi Islam maupun Kristen. Pergulatan mereka dikumpulkan di bawah tema ”Prayer, Power, and Politics” dalam jurnal Interpretation, Januari 2014.
Para antropolog kultural memahami doa sebagai aktivitas ritual. Dari sudut kultural, ritus adalah kesempatan, di mana orang menjalin hubungan baik dengan kelompoknya, maupun realitas sosialnya, termasuk kekuasaan. Sementara karena pada hakikatnya kekuasaan selalu relasional, kekuasaan mau tak mau juga memengaruhi ritus dan dirasakan secara riil oleh mereka yang menjalankan aktivitas ritual itu. Di situlah terletak hubungan antara doa dan kekuasaan. Dengan pendekatan di atas, Rodney A Werline, profesor studi agama-agama di Barton College, North Carolina, meneliti bagaimana doa-doa dihidupi tokoh-tokoh Kitab Suci Perjanjian Lama, seperti Hannah, Ruth, Salomo, dan Daniel. Dari penelitiannya terlihat doa terjadi dalam cakupan relasi sosial dan historis yang amat luas.
Doa bisa berfungsi sebagai dinamika keluarga, sebagai ekspresi cinta di antara sahabat, sebagai ratapan orang jujur yang tidak bersalah tetapi menjadi korban, sebagai teguran pemuka agama terhadap umatnya dan sebagai upaya bagaimana mengobati luka sosial umatnya, sebagai jalan bagi para pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya, juga sebagai jalan menentang kekuasaan represif.
Kekuasaan sendiri bukanlah jelek atau baik. Namun, kekuasaan bisa digunakan untuk membangun hidup atau merusak hidup masyarakat. Karena terjalin dengan kekuasaan dalam sebuah realitas sosial dan kultural, doa juga bisa dijadikan jalan untuk membangun hidup, tetapi doa pun bisa dimanfaatkan untuk merusaknya. Ini semua berarti, doa tak pernah bisa dilepaskan dari etika.
Radikalitas doa
Lex orandi, lex credendi: bagaimana kita berdoa, itu menentukan bagaimana kita beriman dan percaya. Aksioma tersebut menegaskan bahwa aturan-aturan dan hukum-hukum iman sangatlah ditentukan oleh bagaimana kita berdoa. Seperti dipaparkan Nico Koopman, profesor teologi sistematik dan etika di Universitas Stellenbosch, semasa rezim apartheid di Afrika Selatan, aksioma itu diperluas menjadi lex orandi, lex credendi, dan lex (con)vivendi. Artinya, bagaimana kita berdoa tidak hanya menentukan bagaimana kita beriman, tetapi juga bagaimana kita hidup, bahkan bagaimana kita hidup bersama.
Di Afrika Selatan semasa rezim apartheid, doa dan upacara agama memang menjadi ambivalen. Doa bisa untuk menindas ataupun untuk membebaskan. Di bawah rezim represif, doa dan iman bahkan dilegitimasikan secara teologis untuk melestarikan penindasan. Karena itu, doa juga perlu dikoreksi secara etis.
Maka, doa harus dibebaskan dari cengkeraman rezim represif, lalu dijadikan kekuatan untuk meraih terjadinya masyarakat baru yang bebas dari penindasan. Doa harus bisa menjadi kekuatan kritis untuk mendobrak masyarakat yang tidak adil. Di sini, seperti diajakkan filsuf Nicholas Wolterstorff dari Amerika Serikat, kita perlu memahami kesucian itu bukan semata-mata dari kategori kesucian sendiri, tetapi juga dari kategori keadilan.
Kata Wolterstorff, masyarakat yang tidak adil adalah masyarakat yang kehilangan keutuhannya. Dalam masyarakat ini sekelompok orang tersudut di pinggiran, dan tak terinkorporasikan ke dalam kehidupan yang sedang berkembang dalam masyarakat itu. Masyarakat demikian bukanlah citra atau cerminan dari Tuhan dalam keutuhan-Nya. Dalam keutuhan-Nya yang komunitarian, Tuhan tidak mengecualikan siapa pun. Karena itu, masyarakat yang tidak adil dan mengecualikan itu adalah masyarakat yang tidak suci. Maka, masyarakat baru yang kita cita-citakan hendaklah menjadi masyarakat kesucian dan keutuhan, masyarakat di mana terjadi integritas dan komunitas, inklusi dan pemerataan keadilan, serta kesatuan hidup yang subur berkembang.
Doa Kristiani sesungguhnya selalu merindukan datangnya masyarakat semacam itu. ”Datanglah kerajaan-Mu”, itulah yang didoakan mereka dalam doa Bapa Kami, seperti diajarkan oleh Yesus sendiri. Maka, ahli kitab suci Afrika Selatan, William Domeris, mengungkapkan, datanglah kerajaan-Mu itu adalah sebuah doa revolusioner. Doa ini menyerang jantung kejahatan di dunia, dan memaklumkan matinya segala macam bentuk penindasan, serta mengharap datangnya kerajaan baru di dunia. Dengan mendoakan ”datanglah kerajaan-Mu”, orang menatap berakhirnya zaman penindasan ini, dan pada saat yang sama, seperti diajakkan Yesus, bersama-sama mengusahakan tegaknya kerajaan baru sebagai realitas fisik, di mana penindasan diakhiri dan pembebasan Tuhan dimulai. Mendoakan ”kedatangan kerajaan Tuhan” adalah melantunkan doa melawan pemerintah yang tidak adil.
Melawan kemungkaran
Jelas doa pada hakikatnya berhubungan dengan realitas sosial, pembebasan, dan keadilan. Menurut Mun’im Sirry dan A Rashied Omar, asisten profesor teologi dan peneliti studi Islam pada Universitas Notre Dame, Indiana, hakikat doa macam ini juga menjadi hakikat doa dalam tradisi Islam. Menurut kedua sarjana Islam itu, tidaklah benar anggapan bahwa Islam lebih menekankan tata cara doa sebagai praktik formalitas doa belaka, hingga doa itu tak bisa membawa transformasi moral bagi pelakunya. Sarjana-sarjana Islam modern menentang keras anggapan itu dengan berusaha menunjukkan adanya makna sosial dalam doa Islam.
Sirry dan Omar sendiri mengemukakan pendapatnya dengan bertolak dari ayat Al Quran 29:45: ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat-ibadat lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Menurut kedua sarjana Islam di atas, berabad-abad lamanya sejak adanya agama Islam, raison d’ĂȘtre dari doa Islam adalah menjauhi fasha (ketidaksenonohan, ketidaklaziman, kekejian) dan mungkar. Selain Al Quran dan hadis, banyak kisah dan telaah yang menegaskan hakikat doa demikian itu. Misalnya, ada kisah di mana seorang pemuda dari Madinah berdoa bersama Nabi Muhammad. Toh, pemuda itu tetap melakukan perbuatan yang salah dan tidak pantas. Nabi Muhammad hanya menanggapi hal itu dengan kata-kata ini: ”Doanya akan mencegah dia untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas.” Nabi juga pernah ditanya, ”Apakah pendapat Anda tentang seseorang yang berdoa di siang hari, tapi menjadi pencuri di malam hari?” Nabi kembali menjawab, ”Doanya akan menahan dia untuk berbuat yang tidak baik.”
Tampaknya Nabi Muhammad yakin, doa pasti mengubah seseorang. Jika orang tidak diubah oleh doanya, doanyalah yang kiranya kurang benar. Karena itu, doa atau shalat tidak dengan sendirinya mencegah orang untuk berbuat fasha dan mungkar. Kemungkaran itu baru bisa dicegah apabila doa itu dijalankan dengan benar, penuh komitmen, kejujuran, ketulusan, dan kepasrahan bahwa Allah akan membantu manusia dalam memperjuangkan kebaikan dan memberantas kejahatan.
Kata ahli tafsir Al Quran, Muhammad Husyan Tabatabai, jika shalat dijalankan dengan komitmen dan kejujuran, lebih dari institusi atau pengajar mana pun, shalat sendirilah yang akan melatih orang dengan lebih baik untuk menjalankan kebajikan dan menolak kejahatan. Ini dibenarkan oleh hadis yang berkata, orang yang doanya tak mencegah dia melakukan ketidaklaziman dan kesalahan tak akan memperoleh tambahan dari Tuhan; ia hanya akan makin jauh dari-Nya.
Menegur pemimpin
Hamzah Haz yang juga sesepuh PPP itu bicara soal doa karena gemas terhadap kondisi moral bangsa yang terus merosot. Setiap warga negara Indonesia kiranya juga gemas seperti dia. Kita adalah negara ber-Tuhan dan beragama. Mestinya kita juga warga negara yang pendoa. Memang, setiap hari Jumat masjid-masjid penuh, setiap hari Minggu gereja-gereja penuh, pada hari-hari raya agama umat berbondong-bondong berdoa dengan khusyuk. Tetapi mengapa korupsi merajalela, meracuni lembaga mana pun, eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pejabat-pejabat mengkhianati kepercayaan rakyat dan kehilangan rasa malunya.
Mengapa doa tidak berefek bagi kebaikan moral bangsa? Dari penjelajahan singkat mengenai tradisi doa di atas, kita bisa menjawab: doa kita mandul karena terpisah dari masalah-masalah etika, sosial, dan moral yang dihadapi bangsa. Doa melulu menjadi praktik formal-ritual yang tidak bersentuhan dengan permasalahan masyarakat. Doa hanya menjadi kesalehan yang steril terhadap masalah sosial.
Dalam doa macam itu kita menemukan kenyamanan dan kemapanan, dan kehilangan kepedulian sosial. Lebih fatal lagi, doa macam ini membuat kita munafik, seakan-akan kita sudah menjadi baik karena sudah berdoa, tanpa ingin memberantas kemungkaran yang ada di sekitar kita. Doa tak lagi memberi kita kekuatan dan inspirasi untuk menggugat dan mendobrak segala bentuk represi yang menimpa banyak orang, lebih-lebih mereka yang miskin dan sederhana.
Mengapa kita sampai terjerumus ke dalam keadaan demikian? Doa memang bersifat pribadi. Tetapi kita tahu, penghayatan kita terhadap doa juga tergantung pada para pemuka umat, pemimpin jemaat, imam, ustaz, kiai, pendeta, atau pastor. Dari mereka-mereka itulah kita belajar berdoa. Karena itu merekalah yang paling berkewajiban mengajari kita bagaimana berdoa dengan benar.
Misalnya, dengan mendalami lagi tradisi doa yang diajarkan Al Quran dan Kitab Suci, di mana Tuhan menghendaki agar jika berdoa janganlah kita melepaskan diri dari masalah kemanusiaan, masalah sosial, lebih-lebih masalah mereka yang miskin dan menderita. Kalau itu tidak dilakukan, patutlah kita curiga, para petinggi doa itu diam-diam sedang menikmati kemapanan, dan mendukung penguasa yang benci terhadap kekuatan doa yang memberi inspirasi orang untuk menggugat dan mendobraknya.
Kita mendengar, calon presiden dari PDI Perjuangan, Jokowi, bercita-cita mengadakan revolusi mental. Revolusi mental itu kiranya akan makin efektif jika disertai revolusi doa. Artinya, bagaimana doa kita dilepaskan dari sangkar keamanan dan kemapanan individualnya, dibebaskan dari kepentingan untuk membenarkan kelompok-kelompok tertentu saja hingga menjadi eksklusif terhadap kepentingan seluruh bangsa. Revolusi doa itu kiranya perlu membangunkan kesadaran moral, sosial, dan etika dalam doa yang dihayati warga negara.
Untuk itu, revolusi mental dan doa itu kiranya harus dimulai dari para pemimpin bangsa. Sebab, seperti dikatakan Hassan al-Banna, pendiri Persaudaraan Muslim di Mesir, paling tidak dalam tradisi Islam, doa itu seperti latihan harian dalam organisasi sosial dan praktis. Begitu muazin menyerukan doa dimulai, umat berkumpul, mereka punya hak dan kewajiban sama, tetapi mereka berdiri di belakang imam yang mengatur ketertiban dan kesatuan mereka. Imam itu pemimpin. Kalau ia salah dalam memimpin, umat berhak dan wajib menegurnya. Itulah demokrasi dalam doa.
Para pemimpin kita ibarat imam itu. Kalau mereka salah berdoa, kita pun ikut salah dalam doa kita. Jangan-jangan inilah sebabnya mengapa kita terjerumus ke dalam kemerosotan moral, yakni karena para pemimpin kita tidak pernah berdoa, agar kekuasaannya digunakan untuk melayani rakyat dan tidak untuk memperkaya diri sendiri. Kalau demikian, doa dan mental merekalah yang terlebih dahulu harus direvolusi. Memang bisa-bisa kemungkaran yang harus dibongkar oleh doa dari bangsa ini adalah mental busuk, egois, dan korup para pemimpin bangsa kita sendiri.
Sindhunata Wartawan, Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Editor
: Sandro Gatra
Sumber