Sabtu, 29 Agustus 2015

MBAH SADIMAN: PAHLAWAN LINGKUNGAN WONOGIRI

Sabtu 29 Aug 2015, 13:03 WIB
 http://news.detik.com/berita/3004524/seharusnya-pemerintah-turun-tangan-bantu-mbah-sadiman-hijaukan-bukit-gendol

Seharusnya Pemerintah Turun Tangan Bantu Mbah Sadiman Hijaukan Bukit Gendol

Danu Damarjati - detikNews
Seharusnya Pemerintah Turun Tangan Bantu Mbah Sadiman Hijaukan Bukit Gendol Foto: Muchus Budi/detikcom
Jakarta - Mbah Sadiman (65) telah belasan tahun berjuang menghijaukan Bukit Gendol di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Dia menanam pohon-pohon dengan tangannya sendiri, meski pihak Kecamatan dahulu sempat menolak mendukungnya.

Dulu Mbah Sadiman boleh dianggap kurang waras. Namun kini, wilayah tempat Mbah Sadiman berjuang telah hijau. Air mengalir meski musim kemarau. Masyarakat telah merasakan manfaatnya dari upaya yang dilakukan Mbah Sadiman sendiri.

"Apa yang dilakukan Mbah Sadiman itu seharusnya adalah tugasnya pemerintah daerah dan provinsi. Seharusnya, pemerintah daerah malu," kata Ketua DPD Irman Gusman menanggapi aksi Mbah Sadiman, Sabtu (29/8/2015).

Kini, setelah aksi heroik Mbah Sadiman tersorot publik, pemerintah harus lebih menaruh perhatian kepada upaya-upaya masyarakat serupa. Irman menyatakan, sekarang sudah ada dana desa yang anggarannya perlu disalurkan tepat sasaran, disalurkan kepada kegiatan seperti yang Mbah Sadiman lakukan.

"Beliau, seorang pahlawan!" kata Irman.

Pemerintah perlu mendukung secara nyata Mbah Sadiman. Upayanya, meski dalam lingkup lokal, namun sesuai dengan tujuan kerangka dunia Millenium Development Goals serta Sustainable Development Goals, yang perhatian kepada masalah lingkungan, perubahan iklim, kemiskinan, hingga angka kematian bayi.

"Masalah kelangkaan air (yang bisa diatasi Mbah Sadiman) adalah masalah global, bukan hanya masalah di kampung Mbah Sadiman saja. Bila gerakan itu dilakukan secara masif, menurut saya itu harus menjadi arus utama gerakan masyarakat," ujar Irman.



Pahlawan Penghijauan Dari Wonogiri

Negara Puji Aksi Mbah Sadiman yang Hijaukan Bukit Gendol

Moksa Hutasoit - detikNews
 http://news.detik.com/berita/3004468/negara-puji-aksi-mbah-sadiman-yang-hijaukan-bukit-gendol
Negara Puji Aksi Mbah Sadiman yang Hijaukan Bukit Gendol Foto: Muchus Budi/detikcom
Jakarta - Pemerintah memuji setinggi langit aksi Mbah Sadiman yang sendirian menghijaukan Bukit Gendol, Wonogiri. Pemerintah berharap masih banyak 'Mbah Sadiman' lainnya di pelosok nusantara.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengaku sudah mendengar sepak terjang Mbah Sadiman di Wonogiri. Malah Siti memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi Mbah Sadiman.

"Aksi Mbah Diman sangat patut diapresiasi dan dihargai," kata Siti saat dihubungi, Sabtu (29/8/2015).

Siti percaya dengan niat tulus yang dilakukan Mbah Sadiman belasan tahun sendirian menghijaukan Bukit Gendol. Bagi Siti, sosok Mbah Sadiman meyakini pentingnya arti sebuah tumbuhan untuk menjaga stabilitas alam dan lingkungan.

Pihaknya saat ini memang sedang mencari sosok seperti Mbah Sadiman di seluruh Indonesia. Dan dia yakin masih banyak orang yang sangat peduli pada Penghijauan tanpa perlu gembar-gembor ke media massa.

Aksi Mbah Sadiman memang sudah selayaknya menjadi panutan banyak pihak. Bekerja diam tanpa suara, dia tanam banyak pohon-pohon pengikat air di Bukit itu.

Hasilnya, musim kemarau yang mengancam banyak daerah, justru tidak berpengaruh di Bukit itu. Air tetap bisa mengalir deras dan jernih. Bukit Gendol dan Ampyangan pun terus terlihat asri.



Jumat 28 Aug 2015, 18:24 WIB

Pahlawan Penghijauan Dari Wonogiri

Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol

Muchus Budi R. - detikNews
 http://news.detik.com/berita/3004225/tanpa-mbah-sadiman-yang-tanam-beringin-tak-ada-air-dari-bukit-gendol
Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol Foto: Muchus Budi/detikcom
Wonogiri - Apa yang dilakukan Mbah Sadiman (65) menanami lahan gundul di Bukit Gendol, Wonogiri dulu banyak disepelekan warga. Tapi belasan tahun kemudian, warga merasakan banyak manfaatnya. Sadiman sukses membawa kembali air yang hilang dari Bukit Gendol.

Kali di tengah bukit bahkan tetap mengalir deras di puncak musim kering seperti sekarang. Bukan hanya cukup untuk mengairi lahan pertanian di bawah gunung, air pegunungan yang bersih dan sejuk itu juga disalurkan dengan pipa-pipa untuk kebutuhan air bersih bagi warga dua desa yaitu Desa Geneng dan Desa Conto yang berada persis di kaki bukit.

"Ada 650 kepala keluarga di dua desa ini sangat tergantung pada keberadaan air bersih dari sungai Bukit Gendol. Orang yang selama ini tidak peduli bahkan sering mengganggu pohon beringin yang ditanam Mbah Sadiman itu sebenarnya juga bergantung pada sumber air bersih yang diupayakan Mbah Sadiman itu. Ini sangat memalukan sebenarnya. Bukannya membantu malahan justru sering mengganggu, padahal mereka sangat terbantu upaya Mbah Sadiman," ujar Suranto, ketua kelompok pengadaan air warga Desa Geneng, Kamis (27/8)

"Kami harus jujur mengatakan bahwa Mbah Sadiman ini pahlawan. Dulu banyak orang mencibir dan bahwa menilainya sebagai orang kurang waras karena setiap hari menanami lahan yang bukan miliknya dan pasti tidak memetik hasil untuk menebang atau menjualnya karena itu di lahan hutan. Namun sekarang seluruh warga menikmati hasil jerih-payah itu karena air kembali melimpah," ujar Wagiyono, Wakil Ketua Lingkungan Masyarakat Dekat Hutan (LMDH) Desa Geneng.

Mbah Sadiman merasa malu jika semasa hidupnya tak pernah melakukan kebaikan. Dia berlepas dari keinginan membuat pencitraan untuk tampil di permukaan sebagai pahlawan namun tak sedikitpun menyentuh akar persoalannya. Dia langsung bertindak, berbuat dan berkarya kemampuan dan ruang gerak yang dimampukan baginya.

Akhirnya Sadiman adalah jawaban atas seribu slogan tentang pembangunan. Moral dan mentalitasnya berbuah kebaikan yang akan terus terpatri di benak generasi mendatang, tanpa dia harus berkoar tentang revolusi mental.

Mbah Sadiman mengajarkan kita tentang berkarya, berbuat kebaikan untuk masa depan tanpa merasa sebagai orang yang penting karena bersahabat dengan alam adalah bagian dari kewajiban kita sebagai bagian alam raya. Darinya kita mengambil makna tentang mengabdikan kebaikan kepada kemanusiaan tanpa rasa ingin memetik hasilnya.

Kita harus berkaca, di saat kita telah sok merasa penting, apakah kita telah mampu berbuat banyak dalam menjaga kebaikan bersama dan nilai kemanusiaan seperti Mbah Sadiman. Kita harus berkaca, di saat kita masih menginginkan sesuatu yang berlebih, Mbah Sadiman mengajarkan kesahajaan. Sebab konon separuh kerusakan yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh orang-orang yang merasa penting, sedangkan separuhnya lagi akibat dari orang-orang serakah.
(mbr/dra)


Sabtu 29 Aug 2015, 10:22 WIB

Belajar Kerja, Kerja, Kerja, dan Ikhlas dari Mbah Sadiman Pahlawan Penghijauan

Muchus Budi R. - detikNews
 http://news.detik.com/berita/3004460/belajar-kerja-kerja-kerja-dan-ikhlas-dari-mbah-sadiman-pahlawan-penghijauan
Belajar Kerja, Kerja, Kerja, dan Ikhlas dari Mbah Sadiman Pahlawan Penghijauan Foto: Muchus Budi/detikcom
Wonogiri - Anda harus tahu siapa Mbah Sadiman (65). Dalam sunyi, dia bekerja sendiri menghijaukan Bukit Gendol di Wonogiri, Jateng. Belasan tahun dengan telaten dan sabar dia menanami Bukit Gendol dengan pohon beringin seorang diri. Alasan memilih beringin karena bisa menyimpan air.

"Sekarang tekad saya itu sudah membuahkan hasil karena sumber air kembali mengalir seperti kita saya masih kecil dulu," jelas Sadiman sumringah yang ditemui detikcom di desanya, Kamis (27/8).

Sadiman tak berharap pamrih. Beroleh izin dari Perhutani, sudah puluhan ribu pohon dia tanam. Dan kerennya si mbah ini yang hidupnya sederhana ini, merogoh kocek dari kantongnya sendiri untuk penghijauan. Dia tidak meminta uang dari siapapun, pengusaha apalagi pejabat. Bagaimana caranya?

Dia mencari bibit yang tumbuh liar secara kebetulan seperti sebelumnya. Dia melakukan pembibitan di pekarangan rumahnya. Setelah cukup besar bibit tanaman itu dibawanya naik ke gunung untuk ditanam di lokasi-lokasi yang yang kosong. Sambil melakukan penanaman, dia juga melakukan perawatan dan memeriksa tanamam yang telah ditanam sebelumnya.

Di pekarangannya juga disemai ratusan bibit pohon jati dan pohon cengkeh, namun bukan untuk ditanam di hutan. Kepada warga desanya Sadiman menawarkan bibit tanaman produktif itu dengan cara barter. Silakan ambil satu bibit pohon jati atau cengkeh asal ditukar dengan satu bibit pohon beringin. Beringin hasil barter itulah yang nantinya akan ditanamnya di hutan lereng gunung.

"Saya tidak terbebani apapun setiap hari harus naik turun ke hutan untuk menanam dan merawat pohon-pohon itu. Toh sekalian jalan saja, karena tanpa itupun saya juga harus ke hutan untuk mencari rumput. Istri saya juga tidak mempersoalkannya, karena setiap pulang ke rumah saya juga menbawa pulang kayu bakar kering dari hutan untuk memasak. Jadi kalau pulang saya bawa rumput dan kayu bakar," papar Mbah Sadiman.

Kerja, kerja, dan kerja Sadiman berbuah hasil. Kini Mbah Sadiman tak seorang diri bisa menikmati air yang kembali mengalir dari Bukit Gendol, tetapi juga ratusan warga Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri.

Bila Mbah Sadiman sudah berbuat, bagaimana dengan kita semua?

Jumat, 21 Agustus 2015

Dengan Kekurangannya, 5 Orang Ini Jadi Tokoh Inspirasional




VLOG

Dengan Kekurangannya, 5 Orang Ini Jadi Tokoh Inspirasional

Saat ini dia menjadi seorang pembicara inspirasional.
Dengan Kekurangannya, 5 Orang Ini Jadi Tokoh Inspirasional
Nick Vijicic, seorang tokoh inspirasional yang hidup tanpa lengan dan kaki (http://herbeat.com)

VIVA.co.id - Sebagai manusia terkadang kita cenderung lupa untuk selalu mensyukuri, apa yang kita telah kita miliki. Bahkan, bila kita mengalami suatu kegagalan seringkali kita menganggap kalau hidup kita begitu sial dan penuh dengan kekurangan.
Tetapi lihatlah kelima orang berikut ini, mereka adalah orang-orang yang mampu meraih kebahagiaan dengan kekurangan yang mereka miliki. Tentu saja orang-orang ini merupakan tokoh inspirasional yang perlu dijadikan contoh, dan memberikan semangat kepada kebanyakan orang agar tidak mudah menyerah dan selalu berusaha menjadi yang terbaik.

1. Nick Vujicic
Mungkin tidak banyak orang yang mengenal dirinya, tetapi Vijicic merupakan salah satu orang yang dapat menginspirasi orang lain untuk tetap bersyukur dengan apapun kondisi yang kita hadapi. Terlahir dengan keadaan tanpa lengan dan kaki, Vijicic banyak dijadikan contoh karena tetap mampu hidup dengan bahagia.
Saat ini dia menjadi seorang pembicara inspirasional, karena dia berhasil menjalankan hidupnya dengan bahagia walaupun dengan kekurangan yang dia miliki. Tanpa kaki dan lengan, tetapi lelaki ini tetap mampu melakukan berbagai aktivitas seperti orang normal lainnya seperti berenang, berselancar, bermain sepak bola dan golf, bahkan dia mampu menyelesaikan sekolah dan lulus dari universitas tanpa merasa malu dan rendah diri.

2. Liz Murray
Tidak banyak orang yang berhasil masuk untuk bersekolah di universitas yang sangat terkenal ini, Harvard University. Selain membutuhkan biaya yang besar, sekolah ini pun menuntut para mahasiswanya untuk memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Liz Murray, bukanlah seperti mahasiswa Harvard kebanyakan karena dia dilahirkan ditengah lingkungan yang sangat keras.
Kedua orang tuanya adalah pecandu narkotika dan mengidap penyakit AIDS, bahkan setelah ibunya meninggal pada saat usianya 15 tahun dia sudah menjadi tuna wisma. Tanpa putus asa, dia tetap bersekolah, kemudian masuk ke Humanities Preparatory Academy, setelah berhasil lulus dengan nilai yang sangat baik dia berhasil mendapatkan beasiswa penuh dari New York Times, untuk bersekolah di fakultas Psikologi Harvard University.

3. Ben Underwood
Kemampuan yang dimiliki oleh Ben memang sangat luar biasa. Terlahir dalam keadaan buta, tetapi sejak usia 14 tahun Ben sudah dapat mahir bermain skateboard, sepeda, bahkan sepak bola. Ben mampu menguasai kemampuan mendeteksi sesuatu tanpa penglihatan tetapi menggunakan suara dan pendengaran.
Bahkan, dia mampu membedakan antara mobil dengan truk, dan dapat menemukan jalan pulang menuju kerumahnya walaupun berada di satu tempat yang baru dia kunjungi.

4. Sean Swarner
Swarner dikenal sebagai orang yang selalu bersemangat dalam berjuang melawan kanker. Terdeteksi mengidap penyakit kanker, Swarner tetap berhasil meraih impiannya dalam mendaki "7 Summits", tujuh puncak gunung tertinggi di dunia. Bahkan, dia tetap mampu mendaki menaklukkan puncak Everest disaat paru-parunya sudah tidak dapat bekerja dengan baik karena kanker yang dideritanya.

5. Patrick Henry Hughes
Mungkin sebagian besar orang sudah mengetahui musisi-musisi sukses yang memiliki kekurangan seperti Stevie Wonder dan Ray Charles. Hampir sama dengan mereka, Patrick Henry Hughes pun adalah seorang musisi hebat yang memiliki kekurangan, tetapi bukan hanya buta, Hughes terlahir tanpa mata dan lengan yang tumbuh tidak sempurna. Itu artinya, selain tidak dapat melihat, pria ini juga tidak dapat berjalan atau bergerak dengan normal.
Tidak putus asa dengan kekurangan yang dimilikinya, Hughes berhasil menjadi seorang musisi hebat yang mahir memainkan piano dan terompet. Dia telah meraih berbagai penghargaan dari penampilannya saat bermain piano, terompet, dan bernyanyi. Bahkan, saat ini Hughes berhasil menjadi anggota dari Louisville School of Music Marching Band walaupun dengan memainkan alat musik dari atas kursi rodanya.

Senin, 10 Agustus 2015

Orang Keras Kepala

Tips Menghadapi Orang Keras Kepala

Tipsiana.com -Setiap orang memiliki sifat dan cara berfikir yang berbeda, hal ini yang sering menjadi pemicu kesalah pahaman. Keadaan akan semakin ruwet bila anda bertemu dengan seseorang yang memiliki watak keras kepala. Karena orang berwatak keras kepala adalah orang yang berpegang teguh pada prinsipnya.

Bila kita tidak mampu memahami jalan pikirannya mereka akan mudah tersinggung dan marah kepada kita. Orang keras kepala biasanya memiliki emosi yang meledak-ledak, ini terjadi karena mereka bersikeras akan prinsip yang dipegangnya. Sayangnya sifat seperti ini akan memicu keegoisan sehingga mereka terlihat lebih mementingkan diri sendiri.

Kesabaran jadi kunci utama jika berhadapan dengan mereka yang keras kepala selain itu masih ada cara lain untuk melunakkan mereka.

1. Bersikap Tenang. Jika sebelumnya anda telah mengetahui sifat keras kepala mereka, cobalah untuk bersikap tenang. Jangan biarkan emosi anda yang malah akan membalikkan keadaan dengan membuat mereka berfikir bahwa mereka yang menang. Bila anda sudah mulai hilang kesabaran sebaiknya tinggalkan ruangan selama beberapa saat untuk menenangkan diri dan kembalilah setelah tenang.
2. Jangan Katakan Mereka Keras Kepala dan Langsung Menyalahkan. Sikap keras kepala sebenarnya merupakan bentuk defensif mereka. Dengan mengatakan mereka orang yang keras kepala, mereka akan memilih bungkam dan tidak akan berubah. Tahan kata-kata itu jangan sampai anda mengucapkannya kepada mereka.

3. Bersikap Tegas. Ketegasan kadang diperlukan untuk menghadapi orang keras kepala, alasan orang bersikap keras kepala karena orang disekitar lebih memilih mengalah kepada mereka. Jika orang tersebut mulai menunjukkan kemarahannya bersikaplah tenang dan utarakan alasan logis dan rasional mengapa ide anda penting. Saat mengutarakan alasan anda hindari menyebutkan nama dan berkata-kata dengan suara keras.

4. Menghargai Pendapatnya. Akui keberadaan mereka dan tunjukkan kepada mereka bahwa mereka memiliki ide yang bagus. Jangan sampai cara kita menerima ide mereka membuat mereka terlihat bodoh atau lemah. Utarakan kembali saran dan ide mereka dengan menambahkan ide anda juga tentunya. Dengan begitu mereka merasa lebih dihargai dan menerima ide anda dengan terbuka.

5. Berkompromi dengan Mereka. Setelah masing-masing ide diutarakan, mungkin anda tidak mendapatkan sepenuhnya apa yang menjadi ide anda tetapi dengan begitu anda sudah mendapatkan jalan tengah. Dengan kompromi dan negosiasi ide masing-masing pihak bisa dikolaborasikan.

6. Pahami Mereka. Orang keras kepala bukanlah orang yang jahat, mereka hanya orang yang ingin diakui keberadaan dan pemikirannya. Lakukan pendekatan persuasif kepada mereka dengan begitu secara perlahan mereka akan mulai membuka diri dan terbiasa dengan ide-ide anda, hingga orang tersebut nyaman dengan anda.

Minggu, 02 Agustus 2015

Manusia–manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri




Ekonomi / Inspirasi

 http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/08/03/054500426/Manusia.manusia.Rigid.Akan.Sulit.Sendiri?page=1

Manusia–manusia Rigid, Akan Sulit Sendiri

Senin, 3 Agustus 2015 | 05:45 WIB
ist Prof Rhenald Kasali
                                                    Rhenald Kasali
                                                   @Rhenald_Kasali

KOMPAS.com - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan  tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.


 Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari.  "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin.  Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa. 

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.



Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki,  dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan.

Lalu dari grup WA para alumnus  sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa.  Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat. Kecemasan hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.


Prof. Rhenald Kasali adalah Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Pria bergelar PhD dari University of Illinois ini juga banyak memiliki pengalaman dalam memimpin transformasi, di antaranya menjadi pansel KPK sebanyak 4 kali, dan menjadi praktisi manajemen. Ia mendirikan Rumah Perubahan, yang menjadi role model dari social business di kalangan para akademisi dan penggiat sosial yang didasari entrepreneurship dan kemandirian. Terakhir, buku yang ditulis berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers.