Selasa, 22 November 2016

Pendidikan Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita



Pendidikan Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita
Sumber:http://edukasi.kompas.com/read/2016/11/23/08092351/pendidikan.socrates-confusian.dan.pola.komunikasi.kita

Hasanudin Abdurakhman
Doktor Fisika Terapan
Doktor di bidang fisika terapan dari Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di sebuah perusahaan Jepang di Jakarta..
Rabu, 23 November 2016 | 08:09 WIB

http://assets.kompas.com/data/photo/2016/10/27/203739020161006-094406-2486-indonesia.social-.deaf-780x390.jpgAFP PHOTO / SONNY TUMBELAKA Guru mengajar menggunakan bahasa isyarat kepada seorang murid tunarungu di Sekolah Dasar, di Desa Bengkala, Singaraja, Bali, 20 Juli 2016. Desa Bengkala telah menjadi rumah bagi sejumlah besar penyandang tunarungu turun temurun.
Terkait
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Socrates adalah filusuf Yunani yang hidup di pertengahan abad sebelum Masehi. Pada zaman yang hampir sama di Cina hidup filusuf lain, yaitu Kong zhu Chu.
Selain hidup pada zaman yang hampir sama, keduanya punya perhatian besar pada masalah pendidikan dan kepemimpinan. Pemikiran dan gaya keduanya mempengaruhi perilaku manusia hingga saat ini.
Kebudayaan dunia saat ini secara garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibangun dengan pola pikir yang dibentuk oleh model pendidikan Socrates. Adapun dunia Timur dibentuk oleh pendidikan dengan model Confusian.
Pendidikan model Confusian berpusat pada guru. Dalam bahasa Cina guru adalah lao shi atau xian sheng. Keduanya bermakna orang yang lebih tua.
Guru adalah orang yang lebih tua, lebih berpengalaman, lebih berilmu, dan lebih bijak. Guru adalah ilmu itu sendiri. Segala yang dikatakan sang guru adalah sesuatu yang bersumber dari dirinya. Kata itu adalah guru itu sendiri.
Dalam model Socrates peran guru tidak sangat sentral. Ia hanya mengajak orang untuk berpikir dan melakukan eksplorasi. Ia mengajarkan beberapa hal, sebagai pembuka jalan dan penuntun dalam berpikir. Pemikiran dilakukan sendiri oleh para pelajar.
Konsekuensinya, informasi yang dihasilkan, bukan milik sang guru, tidak melekat pada dirinya. Informasi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran siapa saja.
Dua model itulah yang membedakan sekolah-sekolah kita dengan sekolah-sekolah Barat. Sekolah kita berpusat pada guru sebagai pengajar, murid mendengar, memahami, dan mengingatnya.
Secara umum, yang aktif adalah guru, murid cukup pasif saja. Hasil pendidikan diukur dengan seberapa banyak murid dapat menyerap informasi yang sudah disampaikan oleh guru.
Adapun pada sekolah-sekolah Barat yang memakai model Socrates, guru berfungsi hanya sebagai fasilitator. Informasi digali bersama. Hasil pendidikan tidak hanya diukur dengan berapa banyak informasi yang dserap pelajar, tapi lebih ditekankan pada seberapa aktif dia.
Di Timur orang dilatih untuk mendengar, di Barat orang dilatih untuk bicara. Ini yang membentuk perbedaan cara komunikasi kita.
Kita, produk pendidikan Confusian cenderung pasif dalam berkomunikasi. Kita berpendapat bila diberi kesempatan. Jarang terjadi silang argumen yang tajam.
Dalam analogi, bisa kita ibaratkan seperti permainan golf. Dalam permainan golf, setiap orang mendapat giliran, dan yang lain menghormati kesempatan itu tanpa mengusiknya.
http://assets.kompas.com/data/photo/2015/03/01/1702122mandarin1780x390.jpgKOMPAS/YUNIADHI AGUNG Murid di Jubilee School, Jakarta, belajar Bahasa Mandarin. Bahasa itu kian berkembang pengajarannya di sekolah-sekolah di Indonesia.
Model komunikasi Barat dapat kita ibaratkan dengan permainan rugby. Dalam permainan rugby, orang berebut bola. Berbagai cara dilakukan, agar dapat bola. Jadi, dalam berkomunikasi mereka akan berusaha sebanyak mungkin untuk bicara, membuat pendapat mereka didengar.
Ada lagi perbedaan lain. Komunikasi di dunia Barat dilakukan dengan format pesan low context. Makna pesan tertuang secara jelas dalam setiap kata yang dipakai untuk mengirim pesan. Tanggung jawab penyampaian pesan ada pada pengirimnya.
Adapun di dunia Timur, pesan bersifat high context. Kandungan pesan sering kali tidak sekedar berada dalam deretan kata pembawa pesan, tapi sangat tergantung pada konteks saat pesan disampaikan.
Tanggung jawab pemaknaan pesan ada pada penerima. Ia harus mampu menerjemahkan maksud pengirim pesan, dengan mendengar isi pesan dan sekaligus membaca konteksnya.
Hal lain yang tidak kalah penting, dalam sistem Confusian, informasi bersumber dari guru. Informasi dan guru itu satu kesatuan. Menyanggah atau mempertanyakan informasi sama artinya dengan menyanggah atau mempertanyakan guru.
Sementara itu, dalam sistem Socrates, informasi tidak satu paket dengan guru. Informasi adalah produk di luar sang guru. Menyanggah atau mempertanyakan informasi, adalah sesuatu yang biasa dilakukan, tanpa membuat guru merasa dibantah.
Saya, meskipun dididik dengan gaya Confusian, tumbuh menjadi pelaku komunikasi bergaya Socrates.
Bagi saya biasa saja menyampaikan opini dengan blak-blakan dan tajam, serta menyasar tokoh-tokoh besar. Yang dikritik adalah gagasannya. Tapi harap dicatat, bahwa saya hanya membahas gagasan, bukan sosok.
Orang-orang yang menganut gaya Confusian akan gerah dengan gaya itu. Mereka menganggapnya sebagai serangan pribadi kepada sang tokoh, dan bahkan menganggapnya pelecehan.
Editor
: Wisnubrata

Kamis, 17 November 2016

Jurus Jitu Mengelola Keuangan



Jurus Jitu Mengelola Keuangan Keluarga, Sebaiknya Jangan Terlalu Pelit

https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3766421939846000707#editor/target=post;postID=2095524434273597607
Jumat, 18 November 2016 | 13:15 WIB
Dok. HaloMoney.co.id, diaryperempuan.com Ilustrasi mengelola keuangan

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengelola keuangan keluarga dengan baik merupakan salah satu kunci kesuksesan keluarga. Pengelolaan keuangan keluarga atau rumah tangga ini lebih rumit dibandingkan mengelola keuangan pribadi karena melibatkan banyak orang yaitu suami, istri dan anak-anak.

Jika pengelolaan keuangan rumah tangga ini berjalan benar, maka beruntunglah anggota keluarga. Namun kalau salah kelola, maka siap-siaplah mengalami masalah keuangan bahkan sebelum habis bulan.

Siapapun yang bertanggungjawab mengelola keuangan keluarga, apakah istri atau suami, dia bertugas mengatur pengeluaran, mulai dari dana operasional hingga cicilan kartu kredit, uang sekolah anak, liburan, bantuan sosial atau agama, hingga jajan di luar rumah.

'Bendahara' keluarga ini didorong untuk lebih kreatif dan hati-hati dalam soal ini, karena keberlangsungan rumah tangga tergantung dari pintarnya mereka mengatur uang. Berikut tujuh jurus jitu hemat mengelola keuangan rumah tangga yang bisa ditiru:

1. Tahu Detil Pemasukan dan Pengeluaran

Berapa pendapatan Anda dan pasangan tiap bulannya? Jumlahkan dengan benar. Setelah itu, hitung juga berapa pengeluaran rutin rumah tangga, seperti tagihan listrik, telepon, air, belanja bulanan dan tagihan lainnnya yang harus Anda keluarkan tiap bulannya.

Jika Anda punya cicilan rumah, kendaraan atau kartu kredit, jangan lupa  dihitung juga sebagai pengeluaran rutin. Dengan begitu, Anda akan mengetahui berapa kisaran pengeluaran rumah tangga tiap bulannya.

Pastikan pengeluaran Anda tidak lebih besar dari pemasukan.
Kalau iya, keuangan rumah tangga Anda dalam bahaya dan harus segera diatasi.

2. Pangkas Kebutuhan Tidak Penting

Buatlah catatan rutin berapa kebutuhan rumah tangga tiap bulannya, berapa dana yang akan disimpan atau diinvestasi dan rencana-rencana keuangan lainnya.  Anda juga harus mengecek anggaran mana yang dibutuhkan, dan anggaran mana yang harusnya dipotong.

Anda disarankan membuat rencana keuangan yang realistis dan masuk akal.

Jangan sampai terlalu pelit atau terlalu hemat. Misalnya, anggaran jalan-jalan  setiap dua kali selama sebulan, dipotong menjadi sekali dalam sebulan.
Pemotongan anggaran ini bisa mengurangi waktu Anda bersenang-senang bersama anak dan pasangan Anda. Mungkin Anda bisa memilih tempat jalan-jalan yang lebih murah dari sebelumnya.

3. Jangan Tunda membayar Semua Kewajiban

Segeralah membayar kewajiban sebelum uangmu habis. Misalnya membayar uang sekolah anak, tagihan kartu kredit, cicilan mobil dan lain-lain.

Bila semua kewajiban sudah diselesaikan, maka pengelolaan uang untuk operasional dan kebutuhan sehari-hari akan lebih mudah.

Sebab kewajiban atau utang itu akan menimbulkan konsekuensi jika ditunda. Misalnya Anda akan menerima denda atau bunga sehingga kewajiban Anda bertambah besar.

4. Menabung dan Investasi

Pastikan selalu menyisihkan sejumlah uang untuk tabungan dan investasi.
Tabungan bisa dijadikan dana darurat, sementara investasi bisa dijadikan tabungan masa depan.

Lebih baik lagi kalau jumlah uang yang ditabung selalu konsisten setiap bulan, sehingga Anda punya ancer-ancer tersendiri.

Untuk melakukan investasi, Anda punya banyak pilihan. Misalnya saja investasi emas, reksadana, saham, tanah, properti, hingga menabung di deposito.

5. Miliki Asuransi

Anda juga harus menyisihkan uang  untuk membeli premi asuransi.
Apalagi kalau kamu sudah memiliki tanggungan anak.

Dengan asuransi maka setiap risiko akan diminimalisir dan dialihkan ke pihak asuransi. Jadi, apa pun yang terjadi, keuangan keluarga  tidak akan gonjang ganjing.

6. Buat Daftar Belanja Bulanan

Pengeluaran terbanyak dalam rumah tangga adalah untuk berbelanja bahan pokok dan kebutuhan rumah.

Sebelum berbelanja, pastikan Anda sudah memiliki daftar apa saja yang harus dibelanjakan sehingga menghindari Anda dari lapar mata.

Anda juga bisa mengecek diskon yang diberikan swalayan sehingga belanja akan lebih hemat.

Oh ya, kalau Anda berbelanja dengan kartu kredit, pastikan kartu kreditmu cocok untuk berbelanja di swalayan, sehingga Anda mendapatkan keuntungan ekstra seperti cash-back dan lain-lain

7. Kurangi Kebiasaan Jajan

Jajan termasuk pengeluaran rumah tangga yang tidak terelakkan. Terutama bila keluarga doyan ngemil dan wisata kuliner.

Tak heran pengeluaran yang satu ini berpengaruh pada kondisi tata kelola keuangan rumah tangga. Nah, tidak ada salahnya Anda dan keluarga mulai mengurangi kebiasaan jajan di luar rumah.
Namun bukan berarti menghapus sama sekali anggaran tersebut. Cobalah melakukan penghematan, bukan menghapus anggaran.

Anda bisa menggunakan promosi kartu kredit di restoran tertentu, selama masih sesuai dengan anggaran keluarga. Dengan kartu kredit Anda bisa mendapatkan diskon dan cash back, tapi bisa menikmati jajanan yang cukup mewah bersama keluarga.


Editor : Aprillia Ika
Sumber: HaloMoney.co.id,

Selasa, 08 November 2016

Kamu adalah Kebiasaanmu


Kamu adalah Kebiasaanmu

Selasa, 8 November 2016 | 12:33 WIB


http://edukasi.kompas.com/read/2016/11/08/12335901/kamu.adalah.kebiasaanmu

Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Kebiasaan adalah hal-hal yang secara berulang kita lakukan, dan kita melakukannya di bawah sadar. Kebiasaan juga menyangkut cara berpikir, hasrat, dan perasaan kita, yang terbentuk oleh berbagai pengalaman kita di masa lalu.
Berulang, itu adalah sifat penting pada kebiasaan, yang membuatnya memiliki kekuatan yang hebat. Misalnya, kita punya kebiasaan meletakkan 1 bata di halaman rumah kita. Maka dalam setahun kita akan punya 365 bata. Bayangkan kalau kita bisa, misalnya, membaca 1 buku sehari.
Karena kebiasaan adalah sesuatu yang berada di bawah sadar dan cenderung menjadi semacam kebutuhan, maka ia sulit diubah. Proses suatu perilaku atau tindakan menjadi kebiasaan disebut habit formation. Menariknya, meski sulit, kebiasaan baru bisa dibangun dan ditumbuhkan.
Ada beberapa tindakan kita sehari-hari yang merupakan kebiasaan. Naik sepeda, naik motor, atau menyetir mobil, adalah kebiasaan. Kita tidak lagi berpikir saat mengayuh sepeda, atau menekan pedal-pedal di mobil. Padahal yang kita lakukan tidak benar-benar perulangan. Syaraf-syaraf kita merespon secara otomatis konteks atau situasi yang kita hadapi secara cepat.
Keterampilan tangan pada umumnya adalah kebiasaan. Seseorang yang mampu mengetik cepat mendapatkan keterampilannya dari latihan berulang. Demikian pula seorang koki yang mampu memotong secara cepat dengan memakai pisaunya.
Karena itu banyak pakar pengembangan pribadi yang membangun konsep-konsep pengembangan melalui kebiasaan. Salah satunya adalah Stephen Covey, yang terkenal dengan bukunya ‘7 Habits of the Highly Effective People’.
Ada ungkapan menarik,”First we make our habits, then our habits make us.” Artinya, kita bisa membangun kebiasaan, kemudian kebiasaan-kebiasaan itu yang membentuk diri kita. Itulah yang menjadi dasar berpikir para ahli pengembangan diri dalam membangun metode yang mereka tawarkan.
Kebiasaan bukan sekedar soal tindakan fisik saja. Kebiasaan juga menyangkut soal berpikir. Kalau kita biasa berpikir, menganalisa, beraksi terhadap suatu situasi dengan cara tertentu, maka ia akan membentuk suatu pola pikir.
Pola pikir adalah kebiasaan dalam berpikir. Sama seperti kebiasaan fisik, pola pikir sulit diubah. Tapi, sekali lagi, ia bisa diubah dengan latihan. Orang-orang seperti Covey sebenarnya menawarkan konsep perubahan dalam berpikir. Demikian pula saya, melalui suatu slogan,”Melawan Miskin Pikiran.”
Kita adalah kebiasaan kita. Kita dibentuk oleh berbagai kebiasaan. Sukses atau gagalnya kita, ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan tersebut. Bila kita mau belajar dari orang sukses, cobalah menelisik pola kebiasaannya. Ia pasti punya kebiasaan tertentu. Kalau kita ingin berubah dari diri kita yang sekarang, tidak bisa tidak, kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita.
Nah, apa kebiasaan positif yang kita bangun untuk membentuk diri kita? Kita bisa mulai dari hal kecil seperti tepat waktu, tertib di jalan dan tempat umum, menjaga kebersihan, jujur, dan menepati janji. Pada saat yang sama kita bisa menghilangkan kebiasaan-kebiasan buruk, seperti menunda, menghindar, menyangkal, dan sebagainya.
Pada level yang lebih tinggi kita bisa melatih diri dengan satu set pola pikir, misalnya, meninggalkan pola pikir dengan sudut pandang korban, menjadi pola pikir proaktif. Kita juga harus membiasakan untuk memilah antara unsur emosional dan rasional dalam pikiran kita. Ada banyak lagi kebiasaan-kebiasaan berpikir atau intelectual habit. Nanti akan saya bahas dalam tulisan-tulisan saya selanjutnya.
Intinya, kita adalah kebiasaan kita. Kalau mau mengubah nasib, jalan hidup, dan masa depan, tidak bisa tidak, kita harus mengubah kebiasaan-kebiasaan kita.
Editor : Wisnubrata

Minggu, 06 November 2016

Cara Sederhana Tingkatkan Kualitas Mental

Cara Sederhana Tingkatkan Kualitas Mental

 http://health.kompas.com/read/2016/11/07/120000623/cara.sederhana.tingkatkan.kualitas.mental



KOMPAS.com - Memiliki mental yang berkualitas sangat diperlukan oleh seseorang agar dapat berpikir jernih, memiliki jiwa yang sehat, hidup bahagia, atau dapat mencapai tujuan hidupnya.
Seorang Life Coach, Lukas Schwekendiek mengungkapkan, setidaknya ada 8 cara untuk meningkatkan mental yang sehat atau berkualitas.
Cara tersebut adalah kebiasaan sehari-hari yang ia temukan dari para CEO sukses dan ahli pengembangan kepribadian.
1. Ingat tujuan hidup atau impian Anda
Luangkanlah waktu hanya lima menit sebanyak dua kali sehari untuk meneguhkan kembali apa tujuan, impian, atau keinginan Anda dalam kehidupan.
Lukas mengatakan, sebagian besar orang tidak mencapai tujuannya bukan karena tidak berbakat atau terlalu malas, tetapi karena melupakan tujuan itu.
2. Menikmati udara segar
Pergilan berjalan-jalan ke taman atau tempat yang dikelilingi keindahan alam dan udara segar. Hanya 10 menit saja sehari, sudah bisa membantu melepaskan penat dalam pikiran.
3. Hidup sehat
Menjaga kesehatan jiwa tak terlepas dari kesehatan tubuh Anda. Jangan lupa untuk konsumsi makanan sehat dan olahraga teratur untuk kesehatan fisik sekaligus mental.
4. Meditasi
Lakukanlah meditasi untuk menenangkan diri. Meditasi bisa dilakukan 30 menit sehari atau total dua jam meditasi selama seminggu.
5. Tersenyum
Ada pendapat mengatakan, senyuman dapat mengubah dunia. Tak hanya membuat hidup Anda lebih bahagia, tetapi juga orang-orang di sekitar Anda yang mendapatkan senyuman itu. Berikanlah senyuman yang tulus kepada orang-orang di sekitar Anda.
6. Mengucapkan salam
Mengucapkan salam, menyapa setiap orang yang Anda temui saat memulai hari sangat baik untuk meningkatkan kesehatan mental. Menyapa orang banyak dapat meningkatkan rasa percaya diri.
7. Jujur
Besikaplah jujur dalam menjalani kehidupan, baik jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kejujuran bisa dengan mengakui sebuah kebenaran, kemudian membuat pilihan terbaik. Kejujuran akan membuat hidup lebih baik.
8. Tertawa
Jangan lupa bahagia! Bersenang-senanglah yang bisa membuat Anda tertawa lepas. Jadilah diri sendiri, bersenda gurau bersama teman-teman, atau pergi jalan-jalan ke tempat yang Amda sukai.
Jangan penuhi hari Anda dengan emosi negatif. Coba ingat, apakah Anda sudah tertawa hari ini?
Penulis: Dian Maharani
Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: Medical Daily

Jumat, 04 November 2016

Tanda-tanda Banyak Racun dalam Mental Kita

Health

Tanda-tanda Banyak Racun dalam Mental Kita

 http://health.kompas.com/read/2016/11/02/184100523/tanda-tanda.banyak.racun.dalam.mental.kita

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan hanya tubuh, mental atau jiwa seseorang juga bisa dipenuhi oleh racun. Marah, cemas, sensi, iri, benci, hingga minder merupakan bentuk-bentuk racun dalam mental.
Lalu, apa tanda-tandanya jika mental kita sudah dipenuhi oleh racun? Ketua Program Studi S1 Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Dr. Yohana Ratrin Hestyanti, Psi, mengatakan tanda-tandanya bisa dilihat dengan cara mengidentifikasi emosi kita ketika menghadapi sesuatu.
"Misalnya, menghadapi tekanan sedikit saja langsung gampang marah, sensitif, atau gampang sedih," kata Yohana di sela-sela seminar Mental Detoxification di Unika Atma Jaya, Rabu (2/11/2016).
Seseorang harus lebih bisa menyadari bagaimana pola perilakunya selama ini. Jika perilaku lebih sering ke arah negatif, maka perlu introspeksi diri. Kita juga bisa mengenali tandanya dengan melihat bagaimana hubungan sosial bersama teman, kerabat, atau keluarga.
"Apakah di relasi membuat kita jadi dimusuhi banyak orang? Berarti sudah ada sinyal ini enggak nyaman. Berarti kan ada yang harus dibersihkan. Ada sesuatu yang harus diproses lebih dalam lagi tentang pikiran kita, sikap kita," jelas Yohana.
Racun dalam mental itu bisa terus terbentuk dari pikiran yang selalu negatif. Berawal dari pikiran yang negatif itu, akhirnya bisa menjadi perilaku yang negatif pula.
Menurut Yohana, ketika muncul tanda-tanda mental sudah dipenuhi racun, sebaiknya mencari tahu dulu apa yang menyebabkan pikiran maupun perilaku selalu negatif.
Menyingkirkan racun dalam mental bisa dilakukan sendiri maupun meminta bantuan orang lain. Jika racun-racun tersebut terus dibiarkan, tentu bisa mengganggu kesehatan mental dan kehidupan menjadi tidak positif.
Penulis: Dian Maharani
Editor : Lusia Kus Anna