Pendidikan
Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita
Sumber:http://edukasi.kompas.com/read/2016/11/23/08092351/pendidikan.socrates-confusian.dan.pola.komunikasi.kita

Doktor Fisika Terapan
Doktor di bidang fisika terapan dari
Tohoku University, Jepang. Pernah bekerja sebagai peneliti di dua universitas
di Jepang, kini bekerja sebagai General Manager for Business Development di
sebuah perusahaan Jepang di Jakarta..
Rabu, 23 November 2016 | 08:09 WIB
AFP
PHOTO / SONNY TUMBELAKA Guru mengajar menggunakan bahasa isyarat kepada seorang
murid tunarungu di Sekolah Dasar, di Desa Bengkala, Singaraja, Bali, 20 Juli
2016. Desa Bengkala telah menjadi rumah bagi sejumlah besar penyandang
tunarungu turun temurun.
Terkait
- Pendidikan Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita
- Orang Kampung Masuk Hotel
- Mahasiswa Abadi
- Kamu adalah Kebiasaanmu
- Nobody’s Child
Oleh:
Hasanudin Abdurakhman
Socrates adalah filusuf Yunani yang
hidup di pertengahan abad sebelum Masehi. Pada zaman yang hampir sama di Cina
hidup filusuf lain, yaitu Kong zhu Chu.
Selain hidup pada zaman yang hampir
sama, keduanya punya perhatian besar pada masalah pendidikan dan kepemimpinan.
Pemikiran dan gaya keduanya mempengaruhi perilaku manusia hingga saat ini.
Kebudayaan dunia saat ini secara
garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. Kebudayaan Barat
dibangun dengan pola pikir yang dibentuk oleh model pendidikan Socrates. Adapun
dunia Timur dibentuk oleh pendidikan dengan model Confusian.
Pendidikan model Confusian berpusat
pada guru. Dalam bahasa Cina guru adalah lao shi atau xian sheng.
Keduanya bermakna orang yang lebih tua.
Guru adalah orang yang lebih tua,
lebih berpengalaman, lebih berilmu, dan lebih bijak. Guru adalah ilmu itu
sendiri. Segala yang dikatakan sang guru adalah sesuatu yang bersumber dari
dirinya. Kata itu adalah guru itu sendiri.
Dalam model Socrates peran guru
tidak sangat sentral. Ia hanya mengajak orang untuk berpikir dan melakukan
eksplorasi. Ia mengajarkan beberapa hal, sebagai pembuka jalan dan penuntun
dalam berpikir. Pemikiran dilakukan sendiri oleh para pelajar.
Konsekuensinya, informasi yang
dihasilkan, bukan milik sang guru, tidak melekat pada dirinya. Informasi adalah
sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran siapa saja.
Dua model itulah yang membedakan
sekolah-sekolah kita dengan sekolah-sekolah Barat. Sekolah kita berpusat pada
guru sebagai pengajar, murid mendengar, memahami, dan mengingatnya.
Secara umum, yang aktif adalah guru,
murid cukup pasif saja. Hasil pendidikan diukur dengan seberapa banyak murid
dapat menyerap informasi yang sudah disampaikan oleh guru.
Adapun pada sekolah-sekolah Barat
yang memakai model Socrates, guru berfungsi hanya sebagai fasilitator.
Informasi digali bersama. Hasil pendidikan tidak hanya diukur dengan berapa
banyak informasi yang dserap pelajar, tapi lebih ditekankan pada seberapa aktif
dia.
Di Timur orang dilatih untuk
mendengar, di Barat orang dilatih untuk bicara. Ini yang membentuk perbedaan
cara komunikasi kita.
Kita, produk pendidikan Confusian
cenderung pasif dalam berkomunikasi. Kita berpendapat bila diberi kesempatan.
Jarang terjadi silang argumen yang tajam.
Dalam analogi, bisa kita ibaratkan
seperti permainan golf. Dalam permainan golf, setiap orang mendapat giliran,
dan yang lain menghormati kesempatan itu tanpa mengusiknya.
KOMPAS/YUNIADHI
AGUNG Murid di Jubilee School, Jakarta, belajar Bahasa Mandarin. Bahasa itu
kian berkembang pengajarannya di sekolah-sekolah di Indonesia.
Model komunikasi Barat dapat kita
ibaratkan dengan permainan rugby. Dalam permainan rugby, orang berebut bola.
Berbagai cara dilakukan, agar dapat bola. Jadi, dalam berkomunikasi mereka akan
berusaha sebanyak mungkin untuk bicara, membuat pendapat mereka didengar.
Ada lagi perbedaan lain. Komunikasi
di dunia Barat dilakukan dengan format pesan low context. Makna pesan
tertuang secara jelas dalam setiap kata yang dipakai untuk mengirim pesan.
Tanggung jawab penyampaian pesan ada pada pengirimnya.
Adapun di dunia Timur, pesan
bersifat high context. Kandungan pesan sering kali tidak sekedar berada
dalam deretan kata pembawa pesan, tapi sangat tergantung pada konteks saat
pesan disampaikan.
Tanggung jawab pemaknaan pesan ada
pada penerima. Ia harus mampu menerjemahkan maksud pengirim pesan, dengan
mendengar isi pesan dan sekaligus membaca konteksnya.
Hal lain yang tidak kalah penting,
dalam sistem Confusian, informasi bersumber dari guru. Informasi dan guru itu
satu kesatuan. Menyanggah atau mempertanyakan informasi sama artinya dengan
menyanggah atau mempertanyakan guru.
Sementara itu, dalam sistem
Socrates, informasi tidak satu paket dengan guru. Informasi adalah produk di
luar sang guru. Menyanggah atau mempertanyakan informasi, adalah sesuatu yang
biasa dilakukan, tanpa membuat guru merasa dibantah.
Saya, meskipun dididik dengan gaya
Confusian, tumbuh menjadi pelaku komunikasi bergaya Socrates.
Bagi saya biasa saja menyampaikan
opini dengan blak-blakan dan tajam, serta menyasar tokoh-tokoh besar. Yang
dikritik adalah gagasannya. Tapi harap dicatat, bahwa saya hanya membahas
gagasan, bukan sosok.
Orang-orang yang menganut gaya
Confusian akan gerah dengan gaya itu. Mereka menganggapnya sebagai serangan
pribadi kepada sang tokoh, dan bahkan menganggapnya pelecehan.
|
Editor
|
: Wisnubrata
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar