Sabtu 29 Aug 2015, 13:03 WIB
http://news.detik.com/berita/3004524/seharusnya-pemerintah-turun-tangan-bantu-mbah-sadiman-hijaukan-bukit-gendol
Seharusnya Pemerintah Turun Tangan Bantu Mbah Sadiman Hijaukan Bukit Gendol
Dulu Mbah Sadiman boleh dianggap kurang waras. Namun kini, wilayah tempat Mbah Sadiman berjuang telah hijau. Air mengalir meski musim kemarau. Masyarakat telah merasakan manfaatnya dari upaya yang dilakukan Mbah Sadiman sendiri.
"Apa yang dilakukan Mbah Sadiman itu seharusnya adalah tugasnya pemerintah daerah dan provinsi. Seharusnya, pemerintah daerah malu," kata Ketua DPD Irman Gusman menanggapi aksi Mbah Sadiman, Sabtu (29/8/2015).
Kini, setelah aksi heroik Mbah Sadiman tersorot publik, pemerintah harus lebih menaruh perhatian kepada upaya-upaya masyarakat serupa. Irman menyatakan, sekarang sudah ada dana desa yang anggarannya perlu disalurkan tepat sasaran, disalurkan kepada kegiatan seperti yang Mbah Sadiman lakukan.
"Beliau, seorang pahlawan!" kata Irman.
Pemerintah perlu mendukung secara nyata Mbah Sadiman. Upayanya, meski dalam lingkup lokal, namun sesuai dengan tujuan kerangka dunia Millenium Development Goals serta Sustainable Development Goals, yang perhatian kepada masalah lingkungan, perubahan iklim, kemiskinan, hingga angka kematian bayi.
"Masalah kelangkaan air (yang bisa diatasi Mbah Sadiman) adalah masalah global, bukan hanya masalah di kampung Mbah Sadiman saja. Bila gerakan itu dilakukan secara masif, menurut saya itu harus menjadi arus utama gerakan masyarakat," ujar Irman.
Pahlawan Penghijauan Dari Wonogiri
Negara Puji Aksi Mbah Sadiman yang Hijaukan Bukit Gendol
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengaku sudah mendengar sepak terjang Mbah Sadiman di Wonogiri. Malah Siti memerintahkan anak buahnya untuk mendatangi Mbah Sadiman.
"Aksi Mbah Diman sangat patut diapresiasi dan dihargai," kata Siti saat dihubungi, Sabtu (29/8/2015).
Siti percaya dengan niat tulus yang dilakukan Mbah Sadiman belasan tahun sendirian menghijaukan Bukit Gendol. Bagi Siti, sosok Mbah Sadiman meyakini pentingnya arti sebuah tumbuhan untuk menjaga stabilitas alam dan lingkungan.
Pihaknya saat ini memang sedang mencari sosok seperti Mbah Sadiman di seluruh Indonesia. Dan dia yakin masih banyak orang yang sangat peduli pada Penghijauan tanpa perlu gembar-gembor ke media massa.
Aksi Mbah Sadiman memang sudah selayaknya menjadi panutan banyak pihak. Bekerja diam tanpa suara, dia tanam banyak pohon-pohon pengikat air di Bukit itu.
Hasilnya, musim kemarau yang mengancam banyak daerah, justru tidak berpengaruh di Bukit itu. Air tetap bisa mengalir deras dan jernih. Bukit Gendol dan Ampyangan pun terus terlihat asri.
Jumat 28 Aug 2015, 18:24 WIB
Pahlawan Penghijauan Dari Wonogiri
Tanpa Mbah Sadiman yang Tanam Beringin, Tak Ada Air dari Bukit Gendol
Kali di tengah bukit bahkan tetap mengalir deras di puncak musim kering seperti sekarang. Bukan hanya cukup untuk mengairi lahan pertanian di bawah gunung, air pegunungan yang bersih dan sejuk itu juga disalurkan dengan pipa-pipa untuk kebutuhan air bersih bagi warga dua desa yaitu Desa Geneng dan Desa Conto yang berada persis di kaki bukit.
"Ada 650 kepala keluarga di dua desa ini sangat tergantung pada keberadaan air bersih dari sungai Bukit Gendol. Orang yang selama ini tidak peduli bahkan sering mengganggu pohon beringin yang ditanam Mbah Sadiman itu sebenarnya juga bergantung pada sumber air bersih yang diupayakan Mbah Sadiman itu. Ini sangat memalukan sebenarnya. Bukannya membantu malahan justru sering mengganggu, padahal mereka sangat terbantu upaya Mbah Sadiman," ujar Suranto, ketua kelompok pengadaan air warga Desa Geneng, Kamis (27/8)
"Kami harus jujur mengatakan bahwa Mbah Sadiman ini pahlawan. Dulu banyak orang mencibir dan bahwa menilainya sebagai orang kurang waras karena setiap hari menanami lahan yang bukan miliknya dan pasti tidak memetik hasil untuk menebang atau menjualnya karena itu di lahan hutan. Namun sekarang seluruh warga menikmati hasil jerih-payah itu karena air kembali melimpah," ujar Wagiyono, Wakil Ketua Lingkungan Masyarakat Dekat Hutan (LMDH) Desa Geneng.
Mbah Sadiman merasa malu jika semasa hidupnya tak pernah melakukan kebaikan. Dia berlepas dari keinginan membuat pencitraan untuk tampil di permukaan sebagai pahlawan namun tak sedikitpun menyentuh akar persoalannya. Dia langsung bertindak, berbuat dan berkarya kemampuan dan ruang gerak yang dimampukan baginya.
Akhirnya Sadiman adalah jawaban atas seribu slogan tentang pembangunan. Moral dan mentalitasnya berbuah kebaikan yang akan terus terpatri di benak generasi mendatang, tanpa dia harus berkoar tentang revolusi mental.
Mbah Sadiman mengajarkan kita tentang berkarya, berbuat kebaikan untuk masa depan tanpa merasa sebagai orang yang penting karena bersahabat dengan alam adalah bagian dari kewajiban kita sebagai bagian alam raya. Darinya kita mengambil makna tentang mengabdikan kebaikan kepada kemanusiaan tanpa rasa ingin memetik hasilnya.
Kita harus berkaca, di saat kita telah sok merasa penting, apakah kita telah mampu berbuat banyak dalam menjaga kebaikan bersama dan nilai kemanusiaan seperti Mbah Sadiman. Kita harus berkaca, di saat kita masih menginginkan sesuatu yang berlebih, Mbah Sadiman mengajarkan kesahajaan. Sebab konon separuh kerusakan yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh orang-orang yang merasa penting, sedangkan separuhnya lagi akibat dari orang-orang serakah.
(mbr/dra)
Sabtu 29 Aug 2015, 10:22 WIB
Belajar Kerja, Kerja, Kerja, dan Ikhlas dari Mbah Sadiman Pahlawan Penghijauan
"Sekarang tekad saya itu sudah membuahkan hasil karena sumber air kembali mengalir seperti kita saya masih kecil dulu," jelas Sadiman sumringah yang ditemui detikcom di desanya, Kamis (27/8).
Sadiman tak berharap pamrih. Beroleh izin dari Perhutani, sudah puluhan ribu pohon dia tanam. Dan kerennya si mbah ini yang hidupnya sederhana ini, merogoh kocek dari kantongnya sendiri untuk penghijauan. Dia tidak meminta uang dari siapapun, pengusaha apalagi pejabat. Bagaimana caranya?
![]() |
Dia mencari bibit yang tumbuh liar secara kebetulan seperti sebelumnya. Dia melakukan pembibitan di pekarangan rumahnya. Setelah cukup besar bibit tanaman itu dibawanya naik ke gunung untuk ditanam di lokasi-lokasi yang yang kosong. Sambil melakukan penanaman, dia juga melakukan perawatan dan memeriksa tanamam yang telah ditanam sebelumnya.
Di pekarangannya juga disemai ratusan bibit pohon jati dan pohon cengkeh, namun bukan untuk ditanam di hutan. Kepada warga desanya Sadiman menawarkan bibit tanaman produktif itu dengan cara barter. Silakan ambil satu bibit pohon jati atau cengkeh asal ditukar dengan satu bibit pohon beringin. Beringin hasil barter itulah yang nantinya akan ditanamnya di hutan lereng gunung.
"Saya tidak terbebani apapun setiap hari harus naik turun ke hutan untuk menanam dan merawat pohon-pohon itu. Toh sekalian jalan saja, karena tanpa itupun saya juga harus ke hutan untuk mencari rumput. Istri saya juga tidak mempersoalkannya, karena setiap pulang ke rumah saya juga menbawa pulang kayu bakar kering dari hutan untuk memasak. Jadi kalau pulang saya bawa rumput dan kayu bakar," papar Mbah Sadiman.
![]() |
Kerja, kerja, dan kerja Sadiman berbuah hasil. Kini Mbah Sadiman tak seorang diri bisa menikmati air yang kembali mengalir dari Bukit Gendol, tetapi juga ratusan warga Dusun Dali, Desa Geneng, Bulukerto, Wonogiri.
Bila Mbah Sadiman sudah berbuat, bagaimana dengan kita semua?


salut buat mbah sadiman,setelah membaca rasanya trenyuh menitikan air mata smoga perjuangan mbah sadiman dibalas kebaikan dari Yang Maha Kuasa.
BalasHapus